alexametrics

Inovasi Omah Bahasa Membuat Belajar Bahasa Inggris Lebih Menyenangkan

24 Oktober 2019, 15:38:04 WIB

JawaPos.com – Asosiasi Pengajar Akuntansi Sektor Publik (APSAE) bekerja sama dengan Universitas Terbuka (UT) menggelar kompetisi inovasi sektor publik (Competition of Public Sector Innovation/COPSI). Salah satu inovasi yang lolos lima besar adalah pembelajaran Bahasa Inggris oleh komunitas Omah Bahasa dari Jogjakarta.

Istilah-istilah yang digunakan komunitas itu beraroma Jawa, di antaranya adalah Bedol Desa. “Jadi ramai-ramai belajar Bahasa Inggris. Tidak hanya anaknya, tapi sampai orang tuanya,” kata Hadi Widodo, Kepala Divisi English for Kids Omah Bahasa di kampus UT, Tangerang Selatan, Kamis (24/10).

Menurut Hadi, sampai saat ini Bahasa Inggris masih dianggap sebagai salah satu momok untuk dipelajari. Namun, di Omah Bahasa, anggapan itu dikikis. Sehingga pembelajaran Bahasa Inggris berjalan menyenangkan. “Yang pertama anak-anak harus suka atau tertarik terlebih dahulu,” tuturnya.

Dalam proses belajar Bahasa Inggris untuk anak-anak di Omah Bahasa dilakukan dengan sejumlah metode. Misalnya dengan bermain atau menyanyi. Menurut mereka kemampuan efektif anak-anak menerima materi hanya pada 10 menit awal saja. Sisanya bermain. Aktivitas belajar Bahasa Inggris ala Omah Bahasa itu sangat terbuka. Dilakukan di Balai RT. Kadang digelar di Musala bahkan lokasinya pernah di pinggir sungai.

Penayangan video kegiatan Omah Desa pada ajang Competition of Public Sector Innovation di kampus Universitas Terbuka Kamis (24/10) (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)

Teknik lain yang digunakan adalah memasang sejumlah poster di pagar perumahan. Poster-poster itu berisi pelajaran Bahasa Inggris sederhana. Misalnya warna-warna, hitungan, atau lainnya. “Setiap hari anak-anak lewat situ. Membuat hafal di luar kepala,” jelas Hadi.

Pendiri Omah Bahasa Guntur Eka Prasetya mengatakan kegiatannya itu berdiri sejak 2013 lalu. Namun mulai tahun ini, membuka divisi pembelajaran untuk anak-anak. “Sebelumnya untuk adult atau dewasa,” kata pria yang juga menjadi pemandu wisata itu.

Guntur mengatakan respons masyarakat setempat cukup positif. Bahkan secara bergantian warga setempat menyediakan makanan ringan untuk camilan selama belajar Bahasa Inggris. Khusus untuk golongan dewasa, juga ada pelajaran bahasa Spanyol, Prancis, dan lain sebagainya.

Direktur APSAE Moh Mahsun mengatakan sebelumnya dijaring delapan inovasi sektor publik. Kemudian dikerucutkan menjadi lima inovasi. Kemudian mereka akan diundang pada sesi khusus. Sekaligus persiapan pengajuan paten untuk karya inovasinya.

Bagi Mahsun, inovasi pelayanan di sektor publik cukup penting. Tidak hanya di sektor pendidikan saja, tapi juga ada di sektor kesehatan, pengelolaan keuangan daerah, bahkan hingga level desa. Salah satu inovasi lainnya yang ikut kegiatan tersebut adalah aplikasi keuangan bagi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Editor : Edy Pramana

Reporter : Hilmi Setiawan



Close Ads