alexametrics

Belajar di Rumah Siswa SMA Diperpanjang 5 April

Imbas Melonjaknya Kasus Korona di Jatim
23 Maret 2020, 10:15:16 WIB

JawaPos.com – Kasus-kasus korona terus bermunculan di kota-kota besar di Jawa Timur (Jatim). Hingga kemarin (22/3) sudah ada 41 orang yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. Naik 15 orang dari total sebelumnya yang hanya 26 orang.

Pasien tambahan terbanyak tetap berasal dari Surabaya, yakni 9 orang.

Dengan demikian, hingga kemarin pasien positif korona di kota pimpinan Tri Rismaharini itu sebanyak 29 orang. Daerah lain yang juga terdapat kasus positif korona adalah Kabupaten Blitar (1 orang).

Karena angka penderita terus bertambah, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meminta masyarakat makin meningkatkan kewaspadaan. ”Jaga kebersihan, hindari tempat keramaian, dan jaga kesehatan,” ujarnya. Pola antisipasi kini semakin diperketat. ”Kami akan semprot disinfektan di masing-masing bakorwil,” ucapnya. Hari ini penyemprotan berlangsung di Jember.

Pemprov Jatim juga memperpanjang masa belajar di rumah bagi siswa SMA/sederajat. Semula masa ”libur” itu hanya sampai 29 Maret. Kini diperpanjang hingga 5 April. Menurut Khofifah, keputusan tersebut diambil karena makin banyak kabupaten/kota di Jatim yang terjangkit korona. ”Karena itu, agar proses penanggulangan wabah berjalan dengan baik, serta untuk perlindungan anak-anak didik, masa belajar di rumah diperpanjang,” katanya seperti dilansir jawapos.com.

Dinas Pendidikan Jatim juga meminta tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik dalam masa belajar di rumah diprogramkan sesuai kurikulum. ”Dengan tetap mempertimbangkan waktu dan tingkat kesulitan siswa, baik dalam aspek teknis maupun substansi pembelajaran,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jatim Wahid Wahyudi.

Bagaimana siswa SD dan SMP? Khofifah tidak menjelaskan. Sebab, kewenangan pemprov memang hanya ada di SMA dan sederajat. Pengelolaan SD dan SMP sederajat berada di bawah pemerintah kabupaten/kota masing-masing. Meski demikian, biasanya kebijakan pemprov diikuti pemkab dan pemkot.

Pemprov juga akan memberlakukan program cash for work, yakni bantuan untuk masyarakat pekerja harian yang terdampak persebaran virus korona. ”Kami terus menghitung siapa saja yang akan menerima manfaat program tersebut,” ucap mantan menteri sosial itu.

Terkait satu aparatur sipil negara (ASN) yang dinyatakan positif korona, Ketua Gugus Tugas Heru Tjahjono sudah berkoordinasi dengan pimpinan ASN tersebut. Dia meminta divisi atau seksi yang terkait dengan pekerjaan pasien di-lockdown. ”Mereka harus di-tracing untuk mengantisipasi persebaran,” ucapnya.

Sementara itu, di Surabaya, warga Gunung Anyar Kidul dibuat geger oleh info adanya pasien dalam pengawasan (PDP). Tepatnya di Gunung Anyar Kidul III. Dari informasi yang beredar, warga tersebut adalah seorang pengemudi travel. Dia mengalami gejala mengarah korona setelah mengantar seorang warga negara asing (WNA).

”Dia mengantar bule ke Pandaan. Ternyata bule itu positif korona,” ujar Fajar Kurniawan, warga sekitar. Karena khawatir, pasien tersebut sempat mengurung diri di kamar. Berharap hal itu tidak membuat warga panik. Namun, informasi tersebut sampai juga ke masyarakat. ”Kami ya khawatir, Mas,” ucap dia.

Fajar bersama warga sepakat melapor ke pemkot. Menurut Fajar, wajar warga panik. Sebab, di gang itu ada 24 rumah. ”Satu deret ada 12 rumah. Si PDP ini jarang keluar. Hanya istrinya yang rajin salat berjamaah dan belanja di depan rumah saya. Meskipun begitu, status PDP ini kan sudah menunjukkan gejala ke arah sana. Panas dan pucat. Warga gak ada yang berani mendekat,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUA Dr Hamzah dr SpAn KNA membenarkan bahwa ada warga Gunung Anyar yang dirujuk ke RSUA. Statusnya saat itu masih PDP. Karena ruang isolasi penuh, pasien tidak bisa ditangani di sana. Hamzah mengatakan, pasien sempat menunggu sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit lain.

Saat hendak dipindah, memang ada satu ruangan yang kosong. Namun, pihaknya tidak bisa menggunakannya karena tekanan negatifnya tidak sesuai aturan. ”Kalau kami paksa pasien PDP tersebut masuk dan ternyata terkonfirmasi positif, bahaya bagi yang lain. Bisa menyebar,” paparnya.

Karena itu, pihaknya merujuk pasien tersebut ke rumah sakit lain. ”Sekarang pasien sudah berada di RSJ Menur. Di sana kapasitasnya lebih banyak,” ujar Hamzah.

Di Sidoarjo, hingga kemarin jumlah PDP bertambah menjadi 13 orang. Satu di antaranya dipastikan mengidap virus korona. Dua orang sudah dinyatakan negatif dan kembali ke rumah. Sisanya masih menjalani perawatan di ruang isolasi di tiga rumah sakit rujukan, yakni RSUD Sidoarjo, RSI Siti Hajar, dan RS Mitra Keluarga Waru.

”Dua (pasien) baru masuk hari ini (kemarin, Red),” kata Kepala Dinkes Sidoarjo drg Syaf Satriawarman SpPros. Keduanya dimasukkan ke ruang isolasi untuk antisipasi. Menurut Syaf, dua orang tersebut menjalani pemeriksaan karena berhubungan langsung dengan pasien positif Covid-19. Mereka merupakan keluarga inti. Istri dan anak yang sebelumnya berkontak langsung dengan pasien. Karena itu, status mereka masuk kategori PDP.

Kemarin dinkes berinisiatif mengevakuasi mereka ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Berdasar hasil pelacakan, pasien terhubung dengan dua orang tersebut. ”Baru diperiksa, belum ada kepastian status mereka,” lanjut Syaf.

Apakah mereka positif atau negatif belum dapat dipastikan. Sesuai prosedur, pasien tersebut harus menjalani serangkaian pemeriksaan. Selain pengukuran suhu badan, kondisi pernapasan juga diperiksa. Jika tidak ditemukan pneumonia dan kondisinya sehat, pasien dapat melakukan isolasi mandiri di dalam rumah selama 14 hari.

Isolasi tetap berada dalam pengawasan petugas keamanan yang berjaga di kediaman mereka. ”Segala kebutuhan mereka dicukupi pemerintah,” lanjut Syaf. Sebaliknya, jika menunjukkan gejala demam atau pneumonia, mereka harus menjalani perawatan di rumah sakit. Wajib menjalani pemeriksaan melalui swab.

Syaf menambahkan, semua PDP dalam kondisi stabil. Bahkan, PDP di RS Mitra Keluarga Waru cenderung berubah status menjadi ODP. Tapi, status itu belum diputuskan. ”Ruang isolasi akan ditambah,” katanya.

Sementara itu, kemarin beredar kabar pasien korona yang meninggal di RS Khodijah. Syaf juga membenarkan. Namun, hingga kemarin status pasien tersebut belum pasti positif korona. Dinkes akan melakukan uji swab untuk mengetahui status pasien. ”Statusnya masih digolongkan PDP. Memang mengalami pneumonia,” jelasnya.

Di Kabupaten Malang, kemarin satu keluarga di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, dievakuasi tim satgas Covid-19 Pemkab Malang. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, evakuasi dilakukan untuk meminimalkan gejolak warga sekitar. Sebab, sebelumnya salah satu anggota keluarga tersebut dinyatakan positif korona dan meninggal dunia beberapa hari lalu. Anggota keluarga berjumlah lima orang itu kemudian dibawa ke RSUD Kanjuruhan, Kepanjen, dini hari kemarin sekitar pukul 00.15.

Ketua Satgas Pencegahan Covid-19 Kabupaten Malang Bambang Istiawan menerangkan, lima orang itu terdiri atas kakek, nenek, ayah, serta dua anak dari pasien yang positif korona. ”Mereka keluarga dari ibu yang meninggal beberapa hari lalu dan dinyatakan positif Covid-19,” ucapnya.

Disinggung mengenai kabar isolasi di kampung yang beredar di berbagai media sosial (medsos), Bambang membantah. ”Kalau penjemputan (evakuasi) memang ada. Tapi, kami nggak melakukan penjagaan di lingkungan sekitar.”

Penjagaan oleh TNI-Polri di kawasan tersebut diduga terkait dengan penyemprotan disinfektan. Sebab, setelah pemkab mengevakuasi satu keluarga beranggota lima orang itu, paginya dilanjutkan penyemprotan disinfektan. Penyemprotan tersebut merupakan prosedur tetap (protap) dari pemerintah pusat. Di setiap kawasan yang berpotensi terpapar Covid-19, selalu dilakukan penyemprotan disinfektan.

Terpisah, Camat Dau Eko Margianto mengatakan, evakuasi lima warganya dilakukan sekitar pukul 00.15. ”Langsung kami tindak lanjuti dengan kegiatan penyemprotan disinfektan yang dibantu satgas Covid-19 kabupaten dan damkar,” ucapnya kemarin.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : riq/may/jar/gal/c9/oni

Alur Cerita Berita

Lihat Semua

Close Ads