alexametrics

Teliti Energi Ramah Lingkungan, Remaja Asal Indonesia Kuliah di Korsel

14 Oktober 2021, 04:35:02 WIB

JawaPos.com – Kuliah sambil bekerja, terutama di luar negeri, tentu banyak tantangan. Begitupun yang dirasakan oleh Malikah Najibah, remaja 23 tahun yang saat ini menempuh studi doktoral di Korea Institute of Science and Technology (KIST). Supaya semuanya berjalan lancar, dia sampai membuat jadwal khusus untuk studi dan bekerja untuk satu semester ke depan.

Malikah mulai studi kuliah di Korea sejak jenjang magister (S2). Dia mengatakan studi S2 dan S3 yang dia jalani sekarang dibiayai dari beasiswa Daewoong Foundation. Saat ini, remaja yang juga alumni Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) itu kuliah sambil bekerja di kampus KIST.

Dia menceritakan riset yang dia tekuni saat ini tentang membran elektrolisis air (water electrolysis) dan sel bahan bakar (fuel cell). Riset ini berguna sebagai solusi energi alternatif yang ramah lingkungan. Seperti kegiatan produksi hidrogen yang berguna untuk sejumlah keperluan. ’’Dunia saat ini sedang mengalami krisis energi. Pemicunya bahan bakar minyak dan gas mengalami penurunan sangat tajam,’’ katanya melalui email pada Rabu (13/10). Malikah menegaskan fuel cell merupakan teknologi yang sangat bersih. Karena sama sekali tidak mengeluarkan emisi.

Menurut dia di Korea saat ini banyak kenderaan seperti bus dan sejenisnya berbahan bakan hidrogen dengan memanfaatkan teknologi fuel cell. Dia meyakini ke depannya teknologi sel bahan bakar atau fuel cell akan diterapkan lebih luas ke beragam jenis mobil.

’’Seperti yang sudah dilakukan oleh Hyundai dan KIA,’’ tuturnya. Kekurangan dari teknologi yang ramah lingkungan ini adalah belum banyaknya stasiun pengisian bahan bakarnya. Malikah mengatakan stasiun bahan bakar berbasis hidrogen perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebab hidrogen sangat mudah meledak. Untuk mendukung inovasi fuel cell, diciptakan teknologi yang bertugas memproduksi hidrogen ramah lingkungan bernama water electrolysis atau elektrolisis air.

Malikah mengatakan menjalani tugas sebagai mahasiswa sekaligus bekerja memang penuh tantangan. ’’Saya membagi waktu dengan cara membuat jadwal khusus untuk studi dan bekerja selama satu semester ke depan,’’ tuturnya. Dalam satu pekan, dia menghabiskan waktu sepuluh sampai sebelas jam di kelas. Sisanya sekitar 28 jam dia habiskan di laboratorium.

Selain itu dia harus membuat jadwal khusus untuk mengerjakan tugas dan persiapan ujian. Biasanya dia menentukan setiap Sabtu dan Minggu untuk mengerjakan tugas dan persiapan ujian. ’’Jam kerja di institusi kami (KIST) dari jam sembilan pagi sampai enam malam,’’ katanya.

Sejak kuliah jenjang sarjana (S1) Malikah mengaku sangat ambisius untuk memperoleh beasiswa. ’’Saya bukan dari keluarga yang kaya. Sehingga saya selalu berusaha untuk mandiri dan berprestasi,’’ ungkapnya. Saat kuliah di ITB dia memperoleh beasiswa bernama Beasiswa ITB untuk Semua (BIUS) sebesar Rp 5 juta per semester. Sehingga dia selama kuliah tidak membayar SPP.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Hilmi Setiawan

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads