alexametrics

Sekolah Buka di Zona Kuning-Oranye, Siswa Wajib Bawa Surat Izin Ortu

Kemendikbud Bantah Ada Klaster Penularan di S
14 Agustus 2020, 11:07:04 WIB

Bantahan Kemendikbud

Kemendikbud membantah munculnya klaster baru di sekolah setelah pembelajaran tatap muka. Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Jumeri menyatakan, kasus-kasus penularan yang viral itu tidak terjadi di satuan pendidikan.

Pada kasus di Papua, misalnya. Dari kabar yang beredar, disebutkan ada 289 peserta didik yang terpapar Covid-19. Seolah-olah ada penularan masif setelah pembukaan sekolah di zona kuning. ”Kejadian di Papua itu bukan terjadi pada Agustus, tetapi itu akumulasi dari Maret sampai Agustus,” katanya dalam temu media secara daring kemarin (13/8).

Menurut laporan yang diterimanya, penularan terjadi di lingkungan kehidupan sehari-hari. Anak tertular dari orang tua dan lingkungan sekitar. Bukan di sekolah. ”Memang ada satu anak yang tertular di satuan pendidikannya. Tapi, itu terjadi sebelum proses pembukaan ini,” ungkapnya.

Baca juga: IDAI Tolak Relaksasi Pembukaan Sekolah

Kondisi serupa terjadi di Balikpapan, Kalimantan Timur. Dikabarkan ada satu orang guru yang positif Covid-19. Setelah diselidiki, ternyata dia tertular dari tetangganya dan posisinya tidak di sekolah. ”Di Balikpapan sendiri belum dilaksanakan pembelajaran tatap muka,” katanya.

Kemudian peristiwa di Tulungagung, Jawa Timur. Seorang siswa SD dinyatakan positif Covid-19. Padahal, sekolahnya belum melakukan kegiatan tatap muka. Dari laporan, diketahui bahwa siswa tersebut tergabung dalam kelompok belajar kecil. Karena kesulitan pembelajaran daring, akhirnya guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Kemudian, guru tersebut mendatangi kelompok-kelompok belajar tersebut secara bergiliran untuk belajar bersama. Nah, di kelompok itu terdeteksi satu peserta yang positif Covid-19. Dia diduga tertular dari orang tuanya yang memang sering bepergian karena pekerjaan.

Contoh lainnya mengenai klaster Pontianak. Berdasar informasi yang dia terima, ada 14 siswa dan 8 guru SMA yang terdeteksi reaktif Covid-19. Setelah diklarifikasi, ternyata seluruhnya dinyatakan reaktif bukan lantaran kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Justru, seluruhnya dites sebelum melakukan pembukaan pembelajaran tatap muka. Pemprov Kalimantan Barat sengaja melakukan swab test kepada seluruh guru dan murid secara random. ”Ini adalah contoh yang baik dari proses persiapan menghadapi pembukaan tatap muka,” katanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : mia/lum/byu/tau/riq/c10/c17/c7/oni

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads