alexametrics

Mendikbud Hapus UN, Pengamat: Langkah Cepat yang Patut Diapresiasi

12 Desember 2019, 12:25:26 WIB

JawaPos.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Markarim membuat terobosan baru di dunia pendidikan. Mantan CEO Gojek itu menghapus Ujian Nasional (UN) yang bakal diterapkan pada 2021. Artinya, 2020 menjadi tahun terakhir pelaksanaan UN.

Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji mengapresiasi langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam menghapus UN. Menurutnya, meski UN saat ini sudah tidak lagi menjadi syarat kelulusan, tapi penghentian total merupakan langkah tepat.

“Perubahan ini patut diapresiasi, artinya Kemendikbud tidak sekadar mengerjakan hal yang rutin lagi,” ujar Indra saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (12/12).

Meski begitu, Indra mengatakan Nadiem punya tantangan lain. Yakni pemetaan perbaikan pendidikan yang harus dilakukan dari hasil UN selama ini.

“Aksi itu sendiri, sampai hari ini yang katanya hasilnya akan jadi bahan pemetaan tapi sayang sekali petanya masih peta buta,” tutur Indra.

Indra meminta pemerintah melakukan langkah nyata untuk program yang dibuat berdasarkan regulasi penghapusan UN. Pengambilan data berdasakan ujian tidak akan ada pembangunan sumber daya manusia, jika data hanya disimpan.

Langkah tersebut dicontohkan Indra seperti tes kesehatan yang memiliki angka konkret dan sasaran tepat. Hal itu yang seharusnya menjadi proses edukasi oleh Kemendikbud.

“Yang paling penting justru langkah setelah hasil lab tadi keluar, mau dikasih obat apa, mau diterapi apa, mau disuruh mengubah pola hidup atau tidak, perlu mengubah pola makan atau tidak, perlu berolahraga atau tidak,” pungkasnya.

Sekadar informasi, Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan UN hanya akan ada pada 2020. Setelah itu formatnya akan diganti. Sehingga pada 2021 tidak lagi ada UN. “Pada 2021, UN akan diganti menjadi asesmen kompetisi minimum dan survei karakter,” ujar Nadiem.

Nadiem menjelaskan alasan UN tetap dilakukan sampai dengan 2020. Alasannya karena sudah dilakukan persiapan adanya pelaksanaan UN tersebut. Sehingga tidak bisa serta merta dihapus.

Baca juga: Mendikbud Nadiem Makarim: Pelaksanaan USBN Dikembalikan ke Sekolah

Sementara itu, alasan UN diganti karena berdasarkan survei dan diskusi dari beberapa pihak termasuk juga dengan orang tua siswa, hasilnya tidak baik. Karena siswa fokusnya menghapal materi yang telah dipelajari. UN juga menurut Nadiem belum menyentuh kepada karakter siswa. Sehingga dia memutuskan UN hanya akan ada sampai 2020. Setelah itu asesmen kompetisi minimum dan survei karakter‎ yang akan diterapkan.

“Jadi memang belum menyentuh karekter siswa secara holistik,” tuturnya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Gunawan Wibisono


Close Ads