alexametrics

Tak Ada Biaya, Madrasah Ngirit Sana-Sini

11 April 2017, 16:24:01 WIB

JawaPos.com – Seperti sekolah kebanyakan, madrasah ingin mengembangkan potensi siswanya. Ilmu akademik, nilai-nilai keislaman, dan soft skill siswa meningkat beriringan.

Salah satu cara yang ditempuh adalah mengaktifkan ekstrakurikuler. Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Medokan Ayu, misalnya. Madrasah tersebut banyak mengukir prestasi. Sebab, mereka memang mempersiapkan anak didiknya untuk mengikuti kompetisi tertentu. ’’Ekskul kami sesuaikan dengan lomba-lomba, khususnya Aksioma (Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah, Red),’’ jelas Waka Kurikulum MIN Medokan Ayu Muhammad Ikhsan Asyari.

Begitu pula siswa yang memiliki kemampuan tertentu dan sering ikut lomba. Sekolah juga berupaya mengembangkan bakat tersebut. Tujuannya, kemampuan siswa semakin terasah. Kemudian, dia bisa menghasilkan prestasi gemilang selain pengetahuan akademik.

Untuk membuat program ekstra, sekolah menyediakan pembimbing. Tentu saja, penyediaan tersebut membutuhkan biaya. Sementara itu, selama ini, madrasah negeri bergantung pada BOS dan bosda.

Macetnya bosda di Surabaya selama enam bulan lalu membuat ekstrakurikuler di MIN Medokan Ayu sempat vakum. Madrasah tersebut hanya berfokus pada kegiatan belajar dan mengajar di kelas.

Setelah bosda kembali dianggarkan, pihak sekolah mulai berbenah. Mereka telah menyusun program untuk tahun pelajaran baru 2017–2018. Salah satunya berkaitan dengan ekstrakurikuler dan ketersediaan guru pembimbing.

Minimnya kucuran dana pemerintah yang membuat madrasah harus ngirit terlihat di MI Sunan Giri. Sebagai MI swasta, perbaikan sekolah tersebut terbilang kurang. ’’Kami mendapatkan bantuan untuk renovasi ringan gedung pada 2009. Itu yang terakhir, hingga hari ini,’’ kata wali kelas V Muhammad Syamsudin. Padahal, renovasi gedung sangat dibutuhkan sekolah yang berada di Jalan Kalidami 24 itu.

Berdasar pantuan Jawa Pos kemarin (10/4), kondisi sekolah tersebut cukup memprihatinkan. Di ruang kelas I berukuran 4 x 5 meter, banyak ditemui meja siswa yang bolong, cat yang mengelupas, serta ubin yang terlihat pecah dan belum diperbaiki.

Kondisi tak kalah buruk terlihat di lantai 2 sekolah itu. Empat kelas sekolah tersebut membutuhkan renovasi. Mulai kaca jendela, ventilasi, hingga plafon. ’’Sini kalau hujan bocor semua, Mas,’’ ujarnya.

Sekolah itu juga tak memiliki lapangan. Akreditasinya pun tak naik-naik, selalu B. Syamsudin berharap keterbatasan tersebut segera mendapatkan perhatian banyak pihak. ’’Kami berharap ada bantuan dari pemerintah. Sebab, jumlah siswa cukup banyak,’’ tuturnya. (ant/elo/c23/nda/sep/JPG)

Editor : Suryo Eko Prasetyo


Close Ads
Tak Ada Biaya, Madrasah Ngirit Sana-Sini