alexametrics

Dua Metode Belajar Kitab Kuning yang Tidak Kuno

11 April 2017, 16:53:15 WIB

JawaPos.com – Bersekolah di madrasah tidak terlepas dari mengaji kitab kuning. Belajar kitab kuning pada zaman modern tidak berarti kuno. Mempelajarinya justru sangat dekat dengan keseharian dan kekinian. Bahkan, berguna untuk masa depan.

”Mengaji adalah untuk mengatur jiwa. Jika tidak diatur, hati akan gundah gulana,” kata Ustad Muhammad Khudhori saat menyampaikan pentingnya mengaji. Dia mengajak para santri untuk belajar kitab tanpa harakat (tanda baca) itu dengan baik.

Ada banyak ragam kitab kuning. Salah satunya, kitab fikih. Berbagai hal tentang ibadah, baik wudu, salat, tayamum, maupun salat jamak, dipelajari melalui kitab fikih. Di Madrasah Aliyah (MA) Amanatul Ummah, Khudhori mengajarkan kitab fikih tersebut.

Sementara itu, di MTs Amanatul Ummah, dia mengajarkan kitab akhlak. Misalnya, tentang sopan santun kepada orang yang lebih tua dan cara berbicara kepada orang tua. ”Ragam kitab kuning itu banyak, ada ribuan,” tuturnya.

Belajar kitab kuning tidak bisa sembarangan. Sebab, kitab kuning merupakan kitab Arab gundul atau kitab yang berisi tulisan Arab tanpa harakat. Membacanya harus hati-hati supaya tidak keliru mengartikan. ”Kemampuan membaca kitab gundul akan membantu setiap muslim dalam memahami dalil Alquran dan hadis,” ujar laki-laki yang sudah tiga tahun mengajar di pondok pesantren asuhan Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA tersebut.

Kemampuan membaca kitab kuning, jelas Khudhori, tidak terlepas dari pemahaman ilmu nahwu dan ilmu shorof. Nahwu secara bahasa memiliki arti semisal atau seperti. Secara istilah, ilmu nahwu mempelajari pokok bahasan tentang baris akhir dari suatu kalimat. ”Baik secara ikrob maupun mabni,” katanya. Baris akhir yang dimaksud adalah baris terakhir dari suatu kata. Dia mencontohkan kata alhamdu, maka yang dibahas dalam ilmu nahwu adalah harakat terakhir, yaitu dommah.

Adapun, ilmu shorof merupakan ilmu kaidah bahasa Arab yang membahas pembentukan kata sebelum disusun ke dalam kalimat. Jika shorof adalah induk ilmu, kata Khudhori, nahwu adalah ayah ilmu. ”Ayah dan ibu harus bekerja sama untuk menghasilkan ilmu, pintar salah satu saja tidak bisa. Jadi, dua ilmu itu harus berdampingan,” terangnya.

Dalam mengajarkan kitab kuning, Khudhori menerapkan metode sorogan dan musyawarah. Metode sorogan adalah membaca kitab secara individu. Seorang santri menghadap guru untuk diajari beberapa bagian dari kitab yang dipelajari. Kemudian, murid menirukan persis seperti yang diucapkan gurunya.

Sistem itu, kata dia, memungkinkan guru untuk membimbing, mengawasi, dan menilai kemampuan murid secara langsung. Sistem tersebut juga efektif untuk mendorong peningkatan kualitas santri. Dalam dunia modern, sistem itu disebut metode independent learning. Santri dan guru saling mengenal, guru benar-benar menguasai materi yang diajarkan. Santri juga belajar dan membuat persiapan sebelumnya. ”Guru dan santri bisa berdialog secara langsung mengenai materi,” ujarnya.

Adapun, musyawarah adalah tukar pikiran antarsiswa. Ada guru yang mendampingi. ”Anak-anak saling bertukar pikiran atas apa yang mereka pelajari,” jelas laki-laki yang mondok di PP Al Anwar, Jawa Tengah, selama delapan tahun itu. (puj/c7/nda/sep/JPG)

Editor : Suryo Eko Prasetyo


Close Ads
Dua Metode Belajar Kitab Kuning yang Tidak Kuno