alexametrics

UI Pastikan Bebas Kandidat Rektor Asing

3 Agustus 2019, 20:57:51 WIB

JawaPos.com – Suara penolakan terhadap program rektor asing semakin kencang. Mulai mantan rektor, guru besar, hingga pengamat pendidikan terang-terangan menolak. Universitas Indonesia yang sedang melangsungkan seleksi pemilihan rektor (pilrek) memastikan tidak ada kandidat dari warga negara asing (WNA).

Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) periode 2015-2019 Joni Hermana menilai, pemerintah malu dengan peringkat perguruan tinggi negeri (PTN) tanah air dalam daftar QS World University Ranking (QS-WUR). Yang mana, selama ini menjadi acuan Kemenristekdikti. ”Malu dengan posisi yang kedodoran, lalu keluarlah ide mengimpor rektor dan dosen asing,” sindirnya.

Seharusnya, lanjut Joni, pemerintah justru angkat topi atas kerja keras para rektor dan dosen PTN saat ini. Mereka telah produktif menghasilkan publikasi internasional di tengah segala keterbatasan yang ada. Terutama support anggaran yang diterima dari Pemerintah.

Menurut Joni, Bisa dibilang, para akademisi di Indonesia saat ini dituntut untuk ikhlas mengabdi di tengah berbagai keterbatasan. Sesuatu yang mungkin tidak ada dalam kamus para profesional akademisi internasional.

Total publikasi jurnal dan prosiding internasional berbasis Scopus Indonesia per Januari 2019 adalah 17.593. Sedangkan, Malaysia di peringkat pertama mempunyai jumlah publikasi 17.821 di Asia Tenggara. Hebatnya lagi, lebih separo dari jumlah publikasi ilmiah internasional itu dihasilkan dalam tiga tahun terakhir. Mengungguli Singapura dan Thailand.

”Artinya kita harus sabar untuk menunggu beberapa tahun ke depan. Semuanya ini butuh proses. Karena hasilnya tidak bisa diperoleh secara instan,” kata pria yang juga menjabat Wakil Ketua I Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi itu.

Joni menambahkan, rektor asing jelas tidak akan menyelesaikan masalah. Bisa jadi rektor asing yang masuk ke PTN Indonesia malah akan frustasi dengan berbagai persoalan yang ada. Mengingat, sarana-prasarana bangunan yang belum layak secara internasional.

Hal itu antara lain, belum cukup menampung mahasiswa asing dalam jumlah yang banyak. Apalagi mahasiswa asing yang berkeluarga. Kemudian, peralatan laboratorium yang sebagian besar sudah tua. Bahkan mungkin, sebagian alat lebih tua dari profesor yang mengajar di PTN tersebut.

Senada dengan Joni, pengamat pendidikan Itje Chodidjah mengatakan, rencana Kemenristekdikti untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi dengan mendatangkan rektor asing tidak tepat. HItje menilai. hal ini tidak melihat masalah yang dihadapi pendidikan tinggi secara komprehensif.

Seolah-olah memandang rendah praktisi perguruan tinggi dalam negeri. Dianggap tidak lebih unggul dari orang asing. ”Pengelolaan universitas yang selama ini harus dipelajari. Harus ada kajian menyeluruh tidak sepotong-sepotong,” ujar Itje.

Kata Itje, Meningkatkan mutu pendidikan itu harus membangun kultur akademik yang kompetitif di berbagai jenjang. Ketika ingin mengejar ranking dunia, pemerintah mestinya menganalisa super cermat apa yang menjadi penyebabnya. Tidak secara instan mengambil rektor dari negara lain.

Di sisi lain, UI menegaskan tidak ada WNA yang menjadi kandidat pilrek. Total ada 39 orang pelamar calon rektor UI hingga pendaftaran ditutup Jumat lalu (2/8). ”26 orang pendaftar berasal dari lingkungan UI sedangkan 13 orang berasal dari luar. Seluruhnya WNI (warga negara Indonesia, Red),” terang Kepala Kantor Humas dan Keterbukaan Informasi Publik (KIP) UI Rifelly Dewi Astuti.

Dalam statuta UI, lanjut dia, syarat menjadi calon rektor UI adalah harus WNI. Kemudian, belum berusia 60 tahun per 4 Desember 2019, sehat jasmani dan jiwa. Secara akademis, berpendidikan minimal berpendidikan S3 (doktor). ”Untuk memastikan itu, pelamar membuat daftar riwayat hidup sesuai format yang disediakan, menyusun makalah sesuai dengan tema yang ditentukan, dan melengkapi berkas persyaratan administratif lainnya,” urai Rifelly.

Editor : Kuswandi

Reporter : Agas Putra Hartanto



Close Ads