alexametrics

Siswa SMK Seni Itu Manusia Pencipta

1 Mei 2022, 19:45:09 WIB

BUTET Kartaredjasa menyoroti pendidikan siswa SMK, khususnya di bidang seni dan industri kreatif. Seniman sekaligus budayawan asal Jogjakarta itu prihatin karena arah pendidikannya salah. Kini siswa SMK diarahkan menjadi pelayan industri. Bukan manusia pencipta yang kreatif dan inovatif sebagaimana khitahnya.

Ditemui Jawa Pos di kediamannya pada Senin (25/4), Butet menyayangkan perubahan kebijakan pemerintah yang menempatkan SMK di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi. Dulu, semasa dia masih menjadi siswa, sekolah-sekolah kejuruan seni semacam SMM, SMKI, dan SMSR bernaung di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan.

”Otomatis, kurikulum diubah, atmosfer pendidikan berubah,” ujar putra mendiang begawan seni tari Indonesia Bagong Kussudiardja tersebut.

Kini SMK seni dan industri kreatif hanya mencetak tenaga-tenaga terampil. Tujuannya, memenuhi kebutuhan praktis ekosistem industri yang sedang berkembang. Konsep itu hanya cocok untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek. Kemampuan yang dibalut minat dan bakat tersebut hanya diasah di satu trek.

Butet pernah mendiskusikan kegalauannya dengan guru besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Sardono W. Kusumo. ”Dulu ruang belajarnya tidak seperti katak dalam tempurung,” terang alumnus SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) tersebut.

Kurikulum lawas SMK memungkinkan Butet punya pergaulan luas, lintas bidang. Bukan hanya di bidang seni rupa, tetapi juga teater, musik, dan sastra. ”Kalau sekarang, satu trek. Cuma jadi buruh. Bukan makhluk pencipta, bukan orang kreatif,” keluhnya.

Dia berharap pemerintah mengembalikan SMK ke Direktorat Jenderal Kebudayaan. Dengan demikian, kurikulum juga akan berubah. Atmosfer kreatif dan inovatif bakal tumbuh lagi. ”Kurikulum yang sekarang ini kan hanya kejar setoran. Mbelgedes,” sentilnya.

Butet menyatakan, modal terpenting untuk terjun ke bidang seni dan industri kreatif adalah kemauan. Jadi, siswa SMK harus punya kemauan keras. Keberhasilan akan hadir selaras dengan kemauan dan kerja keras. ”Tapi, punya bakat saja tanpa kemauan ya akan sia-sia,” tuturnya.

Siswa SMK harus berwawasan luas. Juga membuka ruang pergaulan lintas disiplin ilmu. Yang tak kalah penting adalah keberanian untuk berinovasi dan melakukan kekeliruan atau sandungan. Tanpa sandungan, seseorang hanya bakal berada di zona nyaman. Itu bukanlah hidup yang sesungguhnya. ”Hidup ini disusun dari sandungan-sandungan yang kita alami,” tandasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : idr/c14/hep

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads