alexametrics

Jurusan Pedalangan di Antara Minat dan Kuota

1 Mei 2022, 20:20:06 WIB

SIANG itu ruang studio SMKN 12 Surabaya diramaikan suara gamelan. Bebunyian dari berbagai peranti yang dimainkan para siswa mengiringi perang tanding atau kupu tarung antara Kala Wijaja dan Raden Merdopo. Tangan Ken Hatta Nara Galih, sang dalang, memainkan dua wayang dengan lincah.

’’Kala (raksasa) itu membegal upaya raden untuk berburu ke hutan,’’ kata Ken kepada Jawa Pos saat ditemui setelah mendalang. Dia adalah satu di antara tujuh siswa kelas XII pedalangan di SMKN 12 Surabaya.

Lelaki 18 tahun itu memang bercita-cita menjadi dalang. Kelak setelah lulus, dia ingin masuk program studi seni pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kecintaan Ken pada wayang terpupuk sejak kecil. Pada usia 5 tahun, dia sering diajak sang ayah, Erwin Misdianto, menyaksikan pentas wayang.

Di tempat tinggal Ken di Wonoayu, Sidoarjo, pentas wayang masih sangat hidup. Itulah yang membuat Ken akrab dengan tokoh-tokoh pewayangan. Sang ayah dan keluarga besarnya juga penggemar wayang. ’’Kadang saya diajak sowan ke rumah dalang sama ayah,” imbuh Ken.

Beranjak remaja, Ken merasa terpanggil untuk menjadi dalang. Dia mengaku jatuh cinta pada wayang saat kali pertama mendengar denting gamelan dalam pentas wayang yang ditonton 13 tahun silam. ’’Di telinga, bunyinya sangat merdu. Terus setelah sering nonton, cerita-cerita perangnya itu menarik,’’ ungkap pengagum Ki Manteb Soedharsono tersebut.

Tapi, tidak semua siswa SMKN 12 Surabaya seperti Ken. Ada pula yang merasa tersesat alias salah jurusan. Harnowo, ketua Jurusan Pedalangan SMKN 12 Surabaya, mengungkapkan bahwa tiga siswa kelas X pedalangan terpaksa keluar tahun lalu. Sebab, mereka justru tertekan selama mengikuti pendidikan.

’’Padahal, saya lihat mereka potensial. Tapi, ya mungkin lama-lama terbebani juga,’’ kata Harnowo. Dari 15 jurusan di SMKN 12 Surabaya, peminat jurusan pedalangan memang yang paling sedikit. Kuotanya pun kadang masih tersisa saat masa penerimaan peserta didik baru (PPDB) berakhir. Sisa kuota itu kadang dimanfaatkan mereka yang tidak kebagian slot di jurusan lain.

’’Kadang anak-anak itu, pokoknya hanya mau sekolah di sekolah negeri. Apa pun jurusannya, yang penting dapat kuota,’’ imbuh Harnowo dengan nada prihatin. Selain mereka yang akhirnya menyerah di tengah jalan, ada siswa yang berusaha keras untuk bertahan dan menuntaskan pendidikan. Meskipun, sebenarnya hati mereka ada di jurusan lain.

Harnowo selalu memotivasi siswa agar tetap semangat belajar. Andai tidak ingin menjadi dalang pun, para lulusan SMKN 12 bisa melakoni pekerjaan lain. Banyak alumnus yang menjadi PNS di bidang seni dan budaya. Tapi, banyak pula yang menjadi dalang profesional. ’’Mau jadi apa pun, bisa. Peluang terbuka lebar,’’ tegasnya. (tim JP/c19/hep)

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads