alexametrics

Idris Sardi dan Ibu Seriosa Indonesia pun Lulusan SMK

1 Mei 2022, 19:06:51 WIB

Melihat Kembali SMK Seni dan Industri Kreatif dalam Perspektif Merdeka Belajar

Tahun lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai pusat keunggulan. Tujuannya ialah menyelaraskan lulusan SMK sesuai kebutuhan dunia kerja. Seberapa jauh keberhasilannya?

ALUNAN musik klasik menyapa dari ruang orkestra SMKN 2 Kasihan, Bantul, Jogjakarta. Semilir angin yang menyambut datangnya sore hari mengubah untaian nada itu menjadi harmoni yang menyentuh hati. Teduh. Indah.

Fur Elise karya Ludwig van Beethoven itu lahir dari permainan para siswa di sekolah yang lebih dikenal sebagai Sekolah Menengah Musik (SMM) tersebut. Di hadapan kerumunan siswa yang berorkestra itu, berdirilah Sapta Ksvara Kusbini. Siang menjelang sore itu, dia bertindak sebagai guru sekaligus konduktor.

Saat Jawa Pos menghampirinya, Sapta sedang menyanyikan notasi nada. Solfegio itu ditujukan kepada para muridnya. ”Nana nina nina,” ucapnya sembari memegang baton alias tongkat konduktor.

Tuntas ber-solfegio, Sapta meminta seorang muridnya mengulangi notasi nada yang dia lantunkan tadi. Tapi, si murid harus mengulangnya dengan biola. Percobaan pertama gagal. Si murid salah nada. Sapta mengulangi solfegio-nya. Si murid mengikutinya. Masih belum sempurna. Diulang lagi. Barulah pada percobaan ketiga, si murid berhasil. Membahanalah tepuk tangan di ruang orkestra itu.

Di SMM para siswa mempelajari musik klasik dengan memilih spesialisasinya masing-masing. Bisa biola, cello, double bass, flute, obo, klarinet, bassoon, atau trompet. ”Di sini menggunakan metode Suzuki dari Shinichi Suzuki,” ucap Sapta.

Metode pengajaran di SMM tidak perlu diragukan. SMM punya sejarah panjang formulasi kurikulum musik sejak 1951, enam tahun setelah Indonesia merdeka. Keraton Jogjakarta-lah yang menginisiasi berdirinya SMM. Saat itu keraton punya kelompok orkestra yang khusus menyajikan hiburan untuk tamu-tamu dari mancanegara.

”Yang membantu membuat kurikulum orang Rusia Nicolai Varfolomeyeff. Dia seorang ahli musik sejak zaman Belanda. Dia juga kepala sekolah pertama SMM,” urai putra komponis Kusbini tersebut. Menurut Sapta, sampai sekarang pun kurikulum itu masih dipakai. Tapi tentu saja disesuaikan dengan kemajuan zaman. Termasuk mengakomodasi tren.

Sebelum menjadi SMM, kemudian SMKN 2 Kasihan, sekolah itu bernama SMIND. ”Sekolah Musik Indonesia,” ujar Sapta. Dia menambahkan bahwa riwayat tersebut menjadikan SMM sebagai sekolah musik tertua. Juga yang paling berpengalaman.

Kepala SMM Agus Suranto menerangkan bahwa skill musik klasik siswa-siswanya sesuai standar internasional. Karena itulah, berkolaborasi dengan musisi internasional bukanlah hal yang aneh bagi siswa SMM. ”Biasa berkolaborasi dengan musisi Jepang, Belanda, dan negara-negara lainnya,” ungkap Agus yang ditemui terpisah.

Musik adalah bahasa yang universal. Itu dibuktikan Agus berkali-kali. Tidak pernah ada yang namanya kendala bahasa meskipun siswa-siswanya harus berkolaborasi dengan banyak musisi dari berbagai negara. Kadang para musisi itu juga kurang paham bahasa Inggris. Lalu, bagaimana cara ngobrolnya? ”Ya dengan musik,” ujarnya.

Agus lalu bercerita. Beberapa tahun lalu, sekelompok siswa dari sekolah musik di Jepang berkunjung ke sekolahnya. ”Mereka datang karena mendengar adanya SMM,” katanya. Mereka tidak membawa penerjemah. SMM juga tidak punya penerjemah bahasa Jepang. Berkomunikasi dengan bahasa Inggris pun percuma karena siswa-siswa dari Jepang itu hanya paham bahasa Jepang.

”Akhirnya, kalau ada masalah nada, mereka mendiskusikannya juga dengan nada,” kata Agus. Siswa-siswa SMM mengikuti nada yang dimainkan siswa-siswa Jepang, demikian pula sebaliknya. Cara berkomunikasi yang sepertinya klise itu sukses mengantarkan para siswa lintas negara tersebut berkolaborasi dengan apik. ”Ini saya tunjukkan video kolaborasinya,” imbuh dia.

Sebagaimana Sapta, Agus pun adalah pengajar yang bangga pada siswa-siswanya. Sebab, siswa-siswa SMM itu mandiri. Sebagian besar dari mereka sudah bisa mencari uang sendiri dengan cara menjadi guru privat. ”Murid kami punya murid lagi. Mereka memberi les musik,” terangnya.

Secara ideologi, para lulusan SMM memang tidak diarahkan untuk menjadi musisi pop. Kurikulum yang dikombinasikan dengan berbagai praktik dan kolaborasi adalah jalur yang mengarahkan mereka untuk menjadi musisi orkestra. Karena itulah, SMM condong ke orkestra nasional. Seperti Erwin Gutawa Orkestra, Purwacaraka Orkestra, atau Nusantara Symphony Orchestra.

Selain itu, banyak lulusan SMM yang menjadi musisi berkelas. Misalnya Idris Sardi yang dikenal sebagai komposer legendaris. Atau Pranawengrum Katamsi yang dijuluki Ibu Seriosa Indonesia. Ada pula C. Tuwuh dan Oni Krisnerwinto.

Kepada generasi muda yang bertekad menggali bakat mereka di SMM, Agus berpesan agar mengenali benar-benar minat mereka. ”Bakat yang besar tidak akan berguna tanpa minat. Tapi, minat yang besar bisa membuat orang bekerja keras sehingga punya kemampuan di atas rata-rata,” tandasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : idr/c9/hep

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads