JawaPos Radar

Pilpres 2019

LIPI: Selera Pemilih Milenial Berbeda, Mereka Cerdas dan Rasional

29/08/2018, 17:45 WIB | Editor: Estu Suryowati
LIPI: Selera Pemilih Milenial Berbeda, Mereka Cerdas dan Rasional
Suddum So saat beraksi sebagai stuntman Presiden Joko Widodo di Opening Ceremony Asian Games 2018. (Instagram)
Share this image

JawaPos.com - Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 akan menjadi panggung bagi generasi milenial. Pasalnya, pada pesta demokrasi itu angka pemilih milenial atau yang berusia 17-36 tahun jumlahnya sangat besar.

Bahkan bisa dikatakan hampir setengahnya dari seluruh pemilih. Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai, pemilih milenial - apalagi yang masuk kategori pemula atau baru pertama kali memberikan suara - memiliki perspektif berbeda dalam politik.

Menurutnya generasi milenial lebih berpikir secara cerdas dan konkret. Oleh karena itu, ia memperkirakan mereka akan cenderung memilih pemimpin berdasarkan kualitas kerjanya.

LIPI: Selera Pemilih Milenial Berbeda, Mereka Cerdas dan Rasional
Prabowo dan Sandiaga Uno didaftarkan ke KPU, pada Jumat (10/8). (Issak Ramadhani/JawaPos.com)

"Mengenai generasi milenial, sepengetahuan saya memang mereka memeiliki satu taste. Taste politik berbeda, mereka lebih rasional, konkret, dan cerdas," ujar Siti dalam diskusi Pollmark Indonesia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (29/8).

Siti mengambil kesimpulan itu setelah melihat pengalamannya di Pilkada DKI Jakarta 2012. Kala itu, ia bersama suaminya sebagai asli Betawi memilih pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli.

Namun anaknya justru memilih pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang notabennya bukan orang Betawi. Situasi itu menggambarkan, kaum milenial memiliki selera sendiri dalam politik. Mereka sulit terpengaruh oleh apapun termasuk isu SARA.

"Saya ingat Pilkada DKI Jakarta di 2012, anak saya pilih Jokowi walaupun orang tuanya tidak suka. Jadi, generasi milenial punya taste. Dia mungkin nggak dikendalikan dengan isu SARA? Tidak. Tapi, mereka lebih lihat sosok penampilan apakah orang ini menjanjikan dan punya kompetensi sebagai pemimpin," jelas Siti.

Sementara itu, pemilih bukan pemula dan atau yang berusia lebih dewasa dianggap lebih idealis. Mereka lebih banyak memilih dengan pertimbangan tertentu. "Anak muda gitu. Tidak kaya kita para orang tua idealisme," katanya.

"Jadi dia (milenial) nggak seneng gosip. Dia lebih rasional, memang anak muda sekarang nggak bisa didikte. Itu pengetahuan saya. Menariknya, mereka punya satu bayangan (bahwa) pemimpin itu harus yang meyakinkan sesuai keberadaan mereka yang modern," sambung Siti.

Lebih lanjut Siti menengarai pemilih pemula memiliki persepsi negatif terhadap beberapa hal. Misalnya, mereka tidak suka dengan pemimpin yang memiliki sifat koruptif ataupun yang gemar berbohong.

"Yang membuat mereka benci itu adalah korupsi, seperti kebohongan- kebohongan juga. Anak muda itu suka dengan orang yang lugas, friendly, dan asyik," pungkasnya.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up