alexametrics

Terungkap Pemicu Kekalahan Paslon dari PDIP di Jatim dan Jabar

29 Juni 2018, 19:05:45 WIB

JawaPos.com – Dari hasil hitungan cepat, Pilkada Serentak 2018 menunjukkan banyak kejutan. Terutama terhadap calon yang diusung PDIP. Pasangan calon (paslon) dari parpol itu sempat digadang-gadang akan bisa menjadi jawara di daerah masing-masing. Tetapi di Jawa Timur dan Jawa Barat paslon PDIP tumbang berdasarkan hasil hitungan cepat.

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consultan (SMRC) Djayadi Hanan menuturkan, figur calon lebih menentukan daripada partai pengusung. Meski partai kuat, tapi figurnya kurang menonjol, akhirnya tidak bisa berbuat banyak.

Dia mencontohkan pilgub Jabar saat PDIP mencalonkan Tubagus Hasanuddin dan Anton Charliyan. Sebagai perbandingan, pada Pemilu 2014 suara PDIP di Jabar mencapai 4,1 juta. “PDIP partai terkuat di Jawa Barat. Tapi, Hasanah (singkatan Hasanuddin-Anton, Red) malah nomor empat versi quick count,” kata dia.

Terungkap Pemicu Kekalahan Paslon dari PDIP di Jatim dan Jabar
Ilustrasi: cakada dari PDIP tumbang di Pilkada Jatim dan Jabar. (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

Begitu pula di Jawa Timur. Djayadi menuturkan, berdasar data dari exit poll SMCR, loyalis PDIP dan PKB ternyata tidak sepenuhnya memilih Gus Ipul-Puti. Hanya sekitar 59 persen pemilih dengan latar belakang PDIP yang memilih Gus Ipul. Sedangkan sisanya, 41 persen, memilih Khofifah.

Begitu pula dengan PKB, ternyata 52 persen memilih Khofifah dan 48 persen memilih Gus Ipul. “Itulah saya bilang di Jawa Timur mesin partai politik tidak sesolid yang seharusnya. PDIP itu kan biasanya pemilihnya loyal. Kalau solid, mestinya calonnya memperoleh 70 persen suara dari pemilih PDIP,” kata Djayadi.

Pengamat politik dari Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti berpendapat, kekalahan beberapa partai besar dalam pilkada serentak berdasar hasil hitungan sementara dilandasi banyak hal. Di antaranya, pilihan paslon serta pergerakan mesin politik. Dia mengungkapkan, tidak sedikit kader yang diusung partai ternyata tidak populer di daerah pilkada.

Sebaliknya, partai kecil dan menengah pandai membidik calon yang punya popularitas tinggi. Misalnya, Ridwan Kamil di Jawa Barat. “Partai kecil tidak terlalu sibuk dengan kepentingan internal mereka. Harus kader, harus begini, harus begitu,” ucap Ray kemarin.

Meski calon yang dipilih partai kecil dan menengah bukan kader mereka, pilihan itu efektif mendulang suara. Ujung-ujungnya, suara partai ikut terdongkrak. Alasan lain yang juga membuat perolehan suara dari partai-partai besar tidak maksimal adalah pergerakan mesin politik yang tidak optimal. “Mereka (partai besar) menduga mesin partai akan bekerja. Menganggap mesin partai bisa bekerja. Ternyata tidak demikian,” ucap Ray.

Alhasil, potensi suara untuk partai-partai besar lari ke calon kepala daerah yang populer dan lebih dikenal masyarakat. Lebih dari itu, ada kemungkinan tidak semua simpatisan partai memilih calon kepala daerah yang diusung partai mereka. “Orang partai sendiri nggak pilih. Apalagi yang lain,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menuturkan bahwa perolehan positif yang didapat partai kecil dan menengah tidak lantas membuat mereka menjadi besar. Sebab, banyak calon kepala daerah yang mereka usung bukan kader partai. “Jangan juga partai kecil ini merasa jemawa. Mereka merasa menang,” katanya.

Lain halnya ketika Ganjar Pranowo unggul di pilkada Jateng. Kemudian, I Wayan Koster mengalahkan lawannya di Bali. “Nilainya beda dengan Ridwan Kamil di Jabar. Karena bukan kader inti,” imbuh Pangi. Meski demikian, pilihan partai kecil dan menengah yang menumpang popularitas calon kepala daerah tertentu juga tidak mutlak keliru. Hanya, kemenangan itu jangan membuat mereka terlampau senang.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menepis anggapan bahwa peran parpol tak signifikan dalam pemenangan paslon. Fadli menilai, sejak awal hingga akhir, partai -terutama Gerindra- menempatkan tim pendukung dalam pemenangan setiap paslon. “Pak Sudrajat, misalkan. Beliau mulai dari nol, termasuk Pak Sudirman, lihat saja perolehan suaranya sekarang,” kata Fadli di gedung parlemen.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan M. Romahurmuziy berpendapat sama. Menurut dia, PPP mampu menempatkan sejumlah kadernya dalam pencalonan pilgub seperti di Jateng dan Jabar. Konsekuensinya, PPP juga terjun membantu pemenangan paslon. “Menurut saya, keduaduanya beriringan,” kata Romi, sapaan akrabnya, saat ditemui di kantor DPP PPP.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, dari 17 pilkada tingkat provinsi, PDIP menang di 6 daerah. Yaitu, Bali, Jateng, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sulsel. “Untuk pertama kalinya Bali dipimpin kader partai,” kata dia. Dari 6 provinsi, ada 4 kader partai yang menjadi gubernur dan 3 kader jadi wakil gubernur.

Sedangkan di tingkat kabupaten/kota, dari total 154 daerah, partainya ikut berpartisipasi di 152 daerah. Dari 152, partai banteng menang di 91 daerah atau 60 persen dan kalah di 59 daerah. Perinciannya, kader yang menjadi kepala daerah 33 orang dan wakil kepala daerah 38 orang. “Kemenangan PDI Perjuangan berada di tingkat kabupaten/kota,” paparnya.

Yang menggembirakan, kata Hasto, jumlah kader partai yang terpilih semakin banyak. Menurut dia, tolok ukur yang paling riil dalam pilkada ditentukan jumlah kader yang berhasil menjabat kepala dan wakil kepala daerah. “Sebagai buah dari proses pendidikan politik kader,” ujar alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

Jumlah kader yang menjadi kepala dan wakil kepala daerah PDIP meningkat secara signifikan dari 214 pada 5 tahun lalu menjadi 345 orang. “Prestasi dan kinerja para kader ini yang akan menjadi wajah partai dalam memenangkan pileg dan pilpres. Pileg dan pilpres di depan mata, di situlah konsentrasi kami,” kata politikus asal Jogjakarta itu.

Wasekjen DPP PKB Daniel Johan mengatakan, bersama rekan koalisi, partainya berhasil memenangi pilkada di tujuh provinsi. Yaitu, pilgub Jabar, Lampung, Bali, Kalbar, Sumut, Maluku, dan Papua. Anggota DPR itu membantah jika partainya dikatakan tidak bekerja. “Mesin politik PKB bekerja keras,” kata dia. Khusus di pilkada Jatim, partainya betul-betul bekerja. “Kami sudah kerja jungkir balik,” tegasnya.

Jubir Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan, partainya juga sudah berusaha keras memenangkan setiap calon yang diusung. DPP Demokrat pun turun langsung untuk kampanye. Tidak benar jika ada yang menyatakan mesin partai tidak berjalan.

Terkait dengan hasil yang diraih Partai Demokrat, pihaknya masih menghitung dan melakukan evaluasi. Menurut dia, hitungan sementara sudah melebihi target di atas 50 persen. “Tapi, angka pastinya nanti diumumkan langsung secara resmi oleh partai. Ini masih dalam proses penghitungan karena belum semua daerah selesai menghitung,” paparnya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (jun/syn/bay/lum/c10/oni)

Terungkap Pemicu Kekalahan Paslon dari PDIP di Jatim dan Jabar