alexametrics

Moeldoko Sebut E-Voting Masih Sulit Diterapkan di Indonesia

24 April 2019, 15:56:20 WIB

JawaPos.com – Banyaknya korban jiwa akibat pemilu serentak membuat publik mendorong adanya evaluasi. Komisi Pemilihan Umum RI (KPU) pun berharap pemilu serentak seperti ini cukup sekali dilakukan.

Terbaru ada usulan untuk menggunakan e-voting, atau pemungutan suara berbasis elektronik dengan memanfaatkan IT. Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko melihat, e-voting masih sulit diterapkan di Indonesia, lantaran luasnya sebaran pemilih.

“Mungkin masih terlalu sulit, karena sebaran kita begitu besar, enggak mudah,” ujar Moeldoko di kantor Kemenko Polhukam Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (24/4).

Sementara itu saat disinggung pelaksanaan pemilu mendatang akan dipisah lagi, Moeldoko belum bisa memastikannya. Sebab, hal itu harus dibicarakan antara DPR dan pemerintah selaku pengambil kebijakan.

“Belum tahu, ini kan keputusan politik. Jadi, tidak begitu saja. Nanti akan dibicarakan di level pengambilan kebijakan,” tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Departemen Komunikasi Ikatan Cedekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Andi Irman mendesak agar penyelenggaraan pemilu 2024 menggunakan e-voting. Desakan ini disampaikan setelah mengevaluasi jalannya pemilu 2019.

Ada tiga alasan yang mendasari desakan tersebut. Pertama kontroversi hitung cepat dan lamanya penghitungan manual berjenjang yang dilakukan oleh KPU. Efek negatifnya, terjadi banyak pertentangan, baik di kalangan elite maupun akar rumput.

“Pertengkaran nasional ini melemahkan persatuan Indonesia. Bila menggunakan e-voting, hasil pemilu segera diketahui sesaat setelah pemungutan suara telah dilakukan,” kata Andi.

Kedua adalah soal kompleksitas dan rumitnya mekanisme pemilu di Indonesia saat ini. Tenaga manusia yang menjadi penyelenggara pemilu terkadang tak mampu memenuhi tuntutan masyarakat.

Terakhir yakni pesatnya kemajuan di bidang teknologi informasi (IT). Saat ini, teknologi kian mempermudah masyarakat dalam melakukan berbagai aktivitas.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Sabik Aji Taufan



Close Ads