alexametrics

Jangan Mau Jadi Daun-Daun Kering

Oleh Rhenald Kasali, Guru besar UI
23 September 2018, 16:33:32 WIB

JawaPos.com – Ini eksperimen sederhana. Cobalah buka YouTube, lalu ketik kata kunci “penipuan”. Di situ Anda akan menemukan banyak sekali video, yang kadang membuat kita geram sekaligus geli.

Apa isi videonya?

Jangan Mau Jadi Daun-Daun Kering
Deklarasi kampanye damai Pemilu 2019 (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Berbagai modus aksi penipuan lewat telepon yang direkam calon korban. Kemudian, si calon korban dengan cerdik malah mengerjai si penipu.

Kita pernah tahu ada modus mama minta pulsa dan modus mengaku sebagai kerabat yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Juga, modus menakut-nakuti dengan mengatakan bahwa ada anggota keluarga yang ditangkap polisi karena kasus narkoba dan macam-macam modus lain.

Kita, keluarga kita, atau teman kita, barangkali pernah mengalami kejadian seperti itu. Tentu kita merasa geram saat mengalami kejadian tersebut. Karena itu, wajar ketika ada penipu yang dikerjai calon korbannya, terasa geli melihatnya.

Video-video singkat semacam itu mendapat banyak respons dari para pengguna YouTube. Jumlah viewer-nya bisa sampai 2 juta, 3 juta, bahkan lebih dari 4 juta.

Pelajaran sederhana yang kita dapat dari sini: Semua orang tidak suka ditipu. Jika ada penipu yang ketahuan, publik akan senang untuk membalasnya. Atau setidaknya merasa senang ketika penipu itu terbuka kedoknya dan dikerjai.

Lalu, apa hubungannya dengan kampanye pemilu? Ada. Pelajaran sederhana dari YouTube itulah yang harus diresapi dan dipahami para calon presiden, calon wakil presiden, maupun calon anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Jangan coba-coba membodohi pemilih dengan narasi-narasi tanpa bukti dan tanpa argumentasi. Sebab, akses informasi sudah begitu terbuka. Jika politikus berkata A, masyarakat akan mengecek benarkah A atau jangan-jangan faktanya B.

Jika aksi penipuan politikus itu terbongkar, siap-siap saja untuk dikerjai. Dibantah masyarakat di media sosial. Lalu, saat nanti pemilu: tidak akan dipilih.

Apakah masyarakat punya kemampuan untuk mengakses dan memfilter informasi? Punya. Dalam ilmu manajemen, dikenal istilah critical thinking. Berpikir kritis. Saya yakin, banyak anggota masyarakat kita memiliki kemampuan itu.

Jika ada informasi yang menyebut ekonomi tumbuh, harus dicari datanya. Jika ada informasi kemiskinan turun, harus dicari angka pembandingnya.

Demikian pula jika ada informasi yang menyebut ekonomi makin sulit, bisnis makin susah, harus dicari parameternya. Jangan-jangan, di satu sisi menyebut ekonomi makin sulit dan bisnis makin susah, tapi di sisi lain pundi-pundi kekayaannya kian menggunung.

Lalu, kenapa masih ada juga masyarakat yang gemar menyebar kabar bohong alias hoax? Harus diakui, tidak semua masyarakat memiliki critical thinking. Kemampuan dasar sebagai manusia itu kadang tergerus syak wasangka maupun kebencian.

Saya menyebut orang-orang seperti itu layaknya daun-daun kering. Mereka mudah goyah tersapu angin. Mereka mudah terbakar. Sebab, syak wasangka dan kebencian sudah memenuhi isi kepala. Menyebabkan critical thinking tak lagi mendapat tempat.

Karena itu, tugas para cendekia, akademisi, tokoh masyarakat, dan semua elemen bangsa mengembuskan kembali kesejukan tersebut. Agar daun-daun yang kering itu kembali menghijau. Agar kehidupan berbangsa dan bernegara ini kembali sejuk.

Di sini, media juga memegang peran penting. Media harus menghadirkan narasi damai dalam kontestasi politik ini. Berikan data dan fakta agar publik mudah mencerna dan memilah informasi. Agar publik bisa membedakan mana fakta dan mana yang sekadar hoax.

Media jangan mengembuskan isu permusuhan dan memanas-manasi. Agar jumlah daun kering tak bertambah banyak. Saya yakin, media-media yang kredibel tidak akan melakukan jalan pintas yang tak etis demi mengatrol jumlah pembaca dan rating-nya.

Untuk para kontestan dan pendukungnya, harus fokus pada adu gagasan, adu rekam jejak, dan adu rekam karya. Tunjukkan apa yang sudah diperbuat selama ini. Tawarkan solusi atas permasalahan yang ada. Solusi yang riil, yang bisa dieksekusi. Bukan solusi berbalut mimpi di awang-awang.

Para kontestan harus fokus bagaimana meyakinkan pemilih, untuk memilihnya karena nilai positif yang ada pada dirinya. Bukan malah fokus menggelar black campaign, menjelek-jelekkan, dan memfitnah kompetitornya.

Kita tentu ingat bagaimana respons masyarakat tatkala Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto berangkulan saat momen emas pencak silat Asian Games. Aksi itu langsung merajai trending topic di media sosial. Semua mengapresiasi positif. Semua gembira dan lega.

Pada dasarnya, rakyat Indonesia memang suka perdamaian. Suka kesejukan. Tak suka permusuhan. Jadi, jangan menggunakan cara-cara kotor untuk mengejar suara dengan menebar hoax, kebencian, dan permusuhan.

Ingat, di antara masyarakat kita memang ada daun-daun kering. Namun, ada lebih banyak daun hijau yang suka kesejukan. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/Seperti disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Ahmad Baidowi/c11/ttg)


Close Ads
Jangan Mau Jadi Daun-Daun Kering