alexametrics

Napak Tilas Perjuangan Sang Kakek, Puti Guntur Soekarno Menangis Haru

22 Januari 2018, 16:09:11 WIB

JawaPos.com — Bakal Calon Wakil Gubernur (Bacawagub) Jawa Timur Puti Guntur Soekarno mengunjungi sejumlah tempat bersejarah, Senin (22/1). Puti melakukan napak tilas ke tempat yang pernah menjadi saksi perjuangan kakeknya, Ir. Soekarno.

Tempat pertama yang didatangi adalah rumah kelahiran Bung Karno di Jalan Pandean, Peneleh, Soekarni. Di bangunan sederhana itulah, sang proklamator lahir pada 6 Juni 1901.” Bung Karno lahir menjelang matahari merekah di ufuk timur, sehingga ia kemudian dikenal dengan sebutan Putera Sang Fajar,” tutur Puti di depan para warga.

Puti mengatakan, pemilik rumah dan kampung Pandean harus bangga. Sebab dari rumah seluas 5×14 meter persegi itulah lahir tokoh besar pendiri Republik. “Saya ditugaskan ke Jawa Timur untuk menjadi Calon Wakil Gubernur, mendampingi Gus Ipul (Saifullah Yusuf). Kami berdua diberikan tugas dan misi untuk ambil bagian menyejahterakan rakyat,” kata alumnus Universitas Indonesia tersebut.

Napak Tilas Perjuangan Sang Kakek, Puti Guntur Soekarno Menangis Haru
Puti saat berada di eks kamar tidur Ir.Soekarno (dida tenola/jawapos.com)

Di tengah-tengah sambutan, mulut Puti mendadak terkunci. Intonasi kalimatnya menjadi terbata-bata. Tak terasa, air matanya membasahi pipi. Para warga yang mendengarkan sambutan itupun ikut terdiam sejenak. Lantas warga memberinya semangat. “Saya serasa pulang kampung. Saya bersyukur bisa datang ke ini, tempat kelahiran kakek saya,” ucapnya.

Menurut Puti, menjadi pemimpin adalah amanah yang sangat berat. Kisah Bung Karno menyemangatinya untuk bekerja optimal bagi Jatim. “Inspirasi beliau Insya Allah selalu hadir dalam langkah-langkah kita semua,” lanjutnya.

Selepas dari sana, Puti melanjutkan napak tilas perjuangan sang kakek pada masa remajanya. Tepatnya di rumah kos Jalan Peneleh VII, milik tokoh Sarekat Islam, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.

Menurut Puti, di tempat indekos itulah Bung Karno ditempa dengan tiga spirit sekaligus, yaitu keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. “Nasionalisme Indonesia sejak awal memang dilahirkan dari dimensi keagamaan yang mengatur nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan sosial, menghargai perbedaan orang lain, dan mengedepankan musyawarah atau dialog,” terang Puti.

Puti menambahkan, di Surabaya-lah, Bung Karno mendapat tempaan pemikiran dan strategi merebut kemerdekaan dengan dibimbing tokoh Islam seperti HOS Tjokroaminoto.

“Di rumah Pak Tjokro, tempat indekos Bung Karno, saya membayangkan beliau berlatih pidato, berdiri, sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah penjajah,” kata perempuan kelahiran Jakarta tersebut. (did/JPG)

Editor : Soejatmiko

Reporter : (did/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Napak Tilas Perjuangan Sang Kakek, Puti Guntur Soekarno Menangis Haru