alexametrics

Navigasi Program, Khofifah Cari Solusi Ketimpangan Peternak Ayam

21 Februari 2018, 15:22:48 WIB

JawaPos.com – Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa melanjutkan kegiatan navigasi program Nawa Bhakti Satya di Kabupaten Blitar pada Rabu, (21/2). Lokasi pertama, Khofifah mengunjugi peternakan ayam petelur di Desa Tumpang, untuk mendengar keluhan para peternak yang mengaku mengalami ketimpangan antara biaya produksi dengan harga jual telur.

Khofifah menjelaskan, berdasarkan data yang dimiliki, dari bulan Oktober 2017, kebutuhan telur di Jatim mencapai 1,5 juta kilogram per bulan. Kebutuhan tersebut terus meningkat hingga 2,5 juta kilogram telur sampai bulan Oktober tahun ini. Hal itu karena ada konversi dari bantuan Rastra ke Bantuan Pangan Non Tunai.

“Kalau Bantuan Pangan Non Tunai, maka harus dalam bentuk beras dan telur. Artinya, kebutuhan telur ini meningkat sesuai dengan konversi dari bantuan Rastra ke Bantuan Pangan Non Tunai. Maka, saya datang kesini untuk melihat apa sebetulnya yang terjadi,” kata Khofifah.

Navigasi Program, Khofifah Cari Solusi Ketimpangan Peternak Ayam
Mampir di Pasar Wlingi, Blitar, Khofifah menyempatkan membeli bubur. (istimewa)

Oleh karena itu, Mantan Menteri Sosolial itu akan menguhubungi para tenanga Pendamping Keluarga Harapan (PKH) untuk melakukan pengeceken secara detail agar problem ketimpangan tersebut bisa dicarikan solusi.

“Saya akan coba kontak PKH danTenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) untuk kroscek. Ini akan menjadi masukan yang strategis untuk upaya bisa menemukam format bagaiman bantuan non tunai tetap bisa diterima masyarakat dalam bentuk beras dan telur,” imbuh Khofifah yang juga sempat membantu langsung memanen telur di peternakan tersebut.

Ketua Umum Muslimat NU itu menilai, saat ini menjadi momen yang urgen bagi pemerintah untul melihat pemenuhan kebutuhan gizi dan kalori masyarakat tidak mampu. Sebab, adanya program bantuan pangan nom tunai ini harus ditebus masyarakat dengan beras maupun telur.

“Dengan adanya peningkatan demand, maka seharusnya produksi petenak akan meningkat, lalu kalau produksi meningkat, maka mereka akan menambah tenaga kerja, kalau menambah tenaga kerja maka akan meningkat daya beli masyarakat, jadi program ini seperti circle yang saling terkait,” pungkasnya.

Sementara menurut Khizrur Rofiq, selaku pemilik peternakan ayam petelur mengungkapkan, ada banyak faktor mengapa peternakannya mengalami penurunan produksi, diantaranya terjadi penurunan populasi ayam petelur.

“Faktornya banyak, salah satunya harga antibiotik, harga pakan yang semakin hari semakin mahal. Kami berharap agar ke depan ada kebijakan pemerintah yang bisa membuat harga pakan sehingga hasil produksi bisa meningkat,” kata Rofik.

Editor : Soejatmiko

Reporter : (mkd/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads
Navigasi Program, Khofifah Cari Solusi Ketimpangan Peternak Ayam