alexametrics

Persepi akan Buka-bukaan soal Donatur, jika BPN Juga Lakukan Hal Sama

20 April 2019, 16:31:25 WIB

JawaPos.com – Capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandi dan tim pemenangannya meragukan hasil hitung cepat atau quick count yang dilakukan sejumlah lembaga survei di pilpres 2019. Mereka meminta lembaga-lembaga survei tersebut untuk menjelaskan metodologi quick count.

Namun, ketika permintaan itu dijawap oleh sejumlah lembaga yang bernaung di Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi), kini kubu 02 mengejar penjelasan soal donatur. Menanggapi hal itu, Ketua Persepi yang juga Direktur Center for Strategic and Stuies (CSIS), Philips J Vermonte mengatakan, mereka siap buka-bukaan mengenai penyokong dana.

Akan tetapi, Persepi juga memint agar hal serupa dilakukan oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. “‎Tolong sampaikan, kami buka dana kalau dia juga buka dananya. Ada waktu melaporkan, kita juga ada waktu melaporkan,” ujar Philip dalam konferensi pers di Hotel Morissey, Jakarta, Sabtu (20/4).

Sementara, Sekretaris Jenderal Persepi yang juga Direktur Charta Politika, Yunarto Wijaya mengatakan pihaknya tidak masalah jika diminta buka-bukaan mengenai penyokong dana. Asalkan, kata Yunarto, BPN juga adil mau membuka metodologi real count internal yang menyebut Prabowo-Sandi menang 62 persen.

“Makanya kami mengajak dari awal teman-teman yang meragukan metodologi kami, independensi kami, saling membuka data. Saling membuka hal-hal yang peru dibuka, termasuk soal dana,” katanya.

Pria yang akrab disapa Toto itu mengatakan, BPN harus adil untuk juga mau membuka metodologi serta penyandang dananya. Toto menilai, sikap BPN yang meragukan quick count lembaga survei dan di sisi lain mengklaim real count mereka yang valid, merupakan upaya membangun opini di masyarakat.

‎”Ya kalau saya selama data tidak mau dibuka, kita boleh curiga jangan-jangan tidak ada datanya. Itu saja. Karena kalau memang datanya dimiliki, tidak sulit, kita tinggal menyiapkan,” ungkapnya.

Toto menambahkan, saling membuka metodologi baik real count maupun quick count bisa membantu masyarakat melihat mana penghitungan yang dilakukan secara ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Ayo sama-sama buka data dalam konteks ini untuk mempertanggungjawabkan secara keilmuan, bukan menunjukkan siapa yang pasti benar saat KPU merilis,” pungkasnya.

Sebelumnya, Prabowo menuding lembaga survei tukang bohong yang sudah tidak bisa lagi dipercaya oleh rakyat. Prabowo lantas meminta lembaga-lembaga survei tersebut untuk pergi dari Indonesia.

“Hei tukang bohong, rakyat tidak percaya sama kalian. Mungkin kalian harus pindah ke negara lain. Mungkin kau bisa pindah ke Antartika,” tegas Prabowo.

“Mungkin kalian tukang bohong lembaga survei, bisa bohongi penguin-penguin di Antartika. Indonesia sudah tidak mau dengar kamu lagi,” tambah Prabowo‎.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Gunawan Wibisono

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads