alexametrics

Kesalahan di Sistem Informasi Penghitungan Suara Bukan karena Hacker

Keliru di Lima TPS, KPU Akui Ada Kelalaian Petugas
20 April 2019, 20:09:53 WIB

JawaPos.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI angkat bicara terkait adanya perbedaan data pada sistem informasi penghitungan suara (situng) dengan dokumen C1 asli di beberapa tempat pemungutan suara (TPS). Penyelenggara pemilu itu menjelaskan, perbedaan yang terjadi disebabkan adanya kesalahan input data oleh jajarannya di daerah.

Komisioner KPU Pramono Ubaid Tantowi menyatakan, hingga kemarin (19/4), ada lima TPS di lima daerah yang dilaporkan salah input dokumen C1 di aplikasi situng. Yakni di Maluku, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Riau, dan Jakarta Timur. “Kami apresiasi informasi-informasi seperti itu dan itu memang yang kami tunggu dari publikasi situng kami,” ujarnya di kantor KPU RI, Jakarta.

Sebelumnya kekeliruan angka di situng ramai dibicarakan di media sosial. Di TPS 17 Jempong Baru, Sekarbela, Kota Mataram, perolehan suara Prabowo-Sandi tertulis 159 di situng, padahal di C1 tercatat 189 suara. Kemudian, di TPS 093 Bidara Cina, Jakarta Timur, perolehan suara Prabowo-Sandi tercatat 56, padahal di C1 tertulis 162 suara.

Di aplikasi percakapan juga banyak beredar video pengecekan hasil situng. Misalnya di TPS 20 Dumai Kota, Kota Dumai, Riau. Suara Prabowo-Sandi yang diinput tertulis 41, sedangkan angka perolehan di foto formulir C1 adalah 141.

Pram -sapaan Pramono- menerangkan, informasi itu menjadi masukan bagi penyelenggara. Setelah mendapat koreksi, KPU langsung memerintah KPU daerah melakukan perbaikan. Sebab, pada prinsipnya, input C1 merupakan tugas penyelenggara di daerah.

Mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tersebut juga menegaskan, kesalahan itu murni keluputan petugas dalam memasukkan data C1. Dia membantah isu yang menyebut bahwa kesalahan disebabkan adanya serangan siber. “Kami pastikan itu sama sekali bukan karena serangan hack atau serangan siber. Itu betul-betul semata-mata kesalahan entri. Kami sangat terbuka untuk melakukan koreksi,” imbuhnya.

Komisioner KPU Ilham Saputra menambahkan, situng hanyalah instrumen bagi masyarakat dalam memantau proses rekapitulasi suara. Namun, dalam menetapkan hasil pemilihan, basis yang digunakan KPU adalah proses rekapitulasi manual yang dilakukan berjenjang. Dari TPS, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. “Situng ini hanyalah bentuk informasi kepada masyarakat, bentuk transparansi kami sebagai institusi penyelenggara pemilu,” ujarnya.

Lantas kapan proses input data di situng bisa selesai? Mantan komisioner KPU Aceh itu mengaku belum bisa memastikan. Namun, dia berkomitmen menyelesaikan secepatnya. Diharapkan bisa lebih cepat daripada penghitungan manual.

Ketua Bawaslu Abhan (kedua kiri) didampingi Ketua KPU Arief Budiman (kedua kanan), Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar (kiri) dan Komisioner KPU Ilham Saputra (kanan) memberikan keterangan pers tentang rekapitulasi penghitungan perolehan suara Pemilu 2019 melalui aplikasi Situng di Gedung KPU, Jakarta, Sabtu (20/4). (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)

Ilham juga menjelaskan, belum semua daerah di Indonesia memiliki jaringan internet yang stabil. “Terutama di bagian timur. Tapi, sekali lagi, kami berupaya terus agar situng ini bisa kami tampilkan maksimal,” tegasnya.

Di Jatim, Masih Ada Yang Nol Persen

Persentase input data hasil coblosan melalui sistem informasi penghitungan suara (situng) hingga kini masih rendah. Bahkan, masih banyak KPU kabupaten/kota yang belum memasukkan data berdasar formulir C1 ke server KPU.

Selain prosesnya yang butuh waktu panjang, antrean data masuk membuat proses input data butuh waktu lama. Situasi itu juga terjadi di Jatim. Selain persentase data masuk masih rendah, ada beberapa daerah yang belum memasukkan data.

Hingga tadi malam, untuk hasil pilpres, dari 130.179 TPS di wilayah Jatim, jumlah form C1 yang sudah terpublikasi di situng KPU baru 2.932 TPS alias 2,22 persen. Masih ada enam daerah yang belum mengentri data C1-nya alias nol persen. Yakni, Kota Blitar, Kota Probolinggo, Sumenep, Malang, Nganjuk, dan Kabupaten Probolinggo.

Input data untuk pileg juga masih rendah. Hingga tadi malam, data C1 untuk pemilu DPR RI dapil Jatim yang di-upload di situng KPU baru 1.216 TPS atau baru 0,9 persen. Sebanyak 11 kabupaten/kota belum memasukkan data ke situng KPU. Di antaranya, Surabaya, Sumenep, Pamekasan, dan Pasuruan.

Komisioner KPU Jatim Insan Qoriawan menjelaskan, sebenarnya seluruh KPU kabupaten/kota sudah melakukan entri data C1 ke server situng KPU. “Namun, memang belum semuanya sudah ter-upload di situng,” ungkapnya kemarin.

Penyebab utamanya adalah lamanya proses entri data dari kabupaten/kota hingga bisa terpublikasi di situng KPU. “Sangat wajar. Karena data dari seluruh daerah di Indonesia masuk secara bersamaan. Sehingga harus antre,” jelas Insan.

Senada, Ketua KPU Gresik Akhmad Roni mengatakan, tahap input data C1 sudah dilakukan pasca tuntasnya proses rekap di tingkat TPS. “Proses itu melibatkan tim khusus yang bertugas secara maraton,” ucapnya.

Mirip Bang Toyib, Tak Sempat Pulang

Ada-ada saja sisi human interest personel kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) pada hari coblosan 17 April lalu. Misalnya, yang dialami Dafit Rahman, ketua TPS 39, Perumahan Puri Bunga Nirwana, Sumbersari, Jember, yang ketiduran di tempat bertugasnya pada malam coblosan. Rupanya, dia tertidur di depan kotak suara dengan alas seadanya setelah kelelahan seharian bertugas.

”Selama coblosan, saya ini seperti jadi Bang Toyib. Sebagai ketua TPS 39, saya harus berbagi waktu. Bahkan sempat blengkrengan lewat telepon dengan istri karena tidak sempat pulang ke rumah. Bayangkan, saya berangkat ke TPS jam 5 pagi dan baru bisa kembali esok paginya,” ungkap Dafit.

Dafit bisa jadi mewakili satu di antara sekitar enam juta personel TPS yang bersemangat menyukseskan pemilu. ”Semangat saya untuk menyukseskan pemilu ini memang menggebu-gebu. Jangankan hanya semalam suntuk, seminggu pun saya akan sanggup. Namun, harus saya akui, kerja ini sangat melelahkan. Mulai persiapan hingga pelaksanaan pemilu, nyaris tak ada istirahat sama sekali,” ujarnya.

Di TPS yang dipimpinnya, saat masa coblosan ditutup pukul 13.00 adalah awal yang melelahkan. Selain memiliki 251 daftar pemilih tetap (DPT), penghitungan yang berulang-ulang, mulai caleg hingga paslon capres, sangat menguras tenaga dan pikiran. ”Saya ngantuk berat. Padahal, minum kopi tak henti-hentinya,” katanya.

Setelah selesai penghitungan, Dafit beserta rekan-rekannya juga harus berjam-jam antre untuk melaporkan hasil perolehan suara ke PPS sebelum diserahkan ke PPK.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (far/ris/mg6/hdi/c14/c9/agm/fat)



Close Ads