alexametrics

Dari Debat Capres Kedua: Jokowi Kaya Data, Prabowo Rileks

18 Februari 2019, 09:32:23 WIB

JawaPos.com – Debat pilpres edisi kedua berakhir semalam. Penampilan capres tampak lebih meyakinkan. Setidaknya, mereka terlihat lebih rileks bila dibandingkan dengan debat pertama. Itu terlihat dari gestur-gestur yang mereka tunjukkan selama debat berlangsung.

Dalam paparan visi dan misi, Prabowo menitikberatkan pada tiga hal. Yakni, energi, pangan, dan air. Menurut dia, dalam tiga hal tersebut, Indonesia harus mandiri dan berdikari. ”Kita harus swasembada pangan, energi, dan air, agar kita bisa survive,” ujarnya.

Apalagi, tiga hal itu juga dijadikan tolok ukur PBB dalam menilai sebuah negara berhasil atau tidak.

Prabowo pun menjanjikan sejumlah hal. ”Kalau kami berkuasa, mendapat mandat dari rakyat, kami akan jamin pangan tersedia dengan harga terjangkau,” lanjutnya.

Langkah lain adalah menurunkan harga listrik dan menyediakan pupuk dengan jumlah berapa pun yang dibutuhkan. Dia mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Jokowi, tetapi menawarkan strategi yang lebih cepat.

Dari Debat Capres Kedua: Jokowi Kaya Data, Prabowo Rileks
Penampilan Capres 01 Jokowi saat debat yang berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/2) malam. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Sementara itu, Jokowi menitikberatkan visinya pada energi, infrastruktur, dan pangan. ”Kita ingin sebanyak-banyaknya mengurangi penggunaan energi fosil,” ujarnya. Seperti sebelumnya, dia menceritakan yang sudah dikerjakan selama memerintah. Salah satunya, produksi biodiesel dan biofuel B20 yang akan diteruskan hingga B100.

Di bidang infrastruktur, dia menceritakan pembangunan 191 ribu km jalan desa, 58 ribu unit irigasi, dan sejumlah pembangunan lain. Dalam hal pangan, Jokowi membanggakan keberhasilannya mengurangi impor jagung.

Fokus itu pula yang tampak saat kedua paslon mendapatkan berbagai pertanyaan dari para panelis. Misalnya, saat ditanya mengenai infrastruktur, dia menjawab dengan sejumlah capaian di pemerintahannya. Misalnya, pembangunan jalan tol, pelabuhan, hingga bandara. Sebagai bagian dari upaya mempercepat konektivitas antardaerah.

Salah satu yang dibanggakan Jokowi adalah pembangunan infrastruktur digital. “Kita sudah bangun Palapa Ring. Indonesia Barat dan Tengah sudah 100 persen, Indonesia Timur 90 persen,” lanjutnya.

Dari Debat Capres Kedua: Jokowi Kaya Data, Prabowo Rileks
Penampilan Capres 02 Prabowo Subianto saat debat yang berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/2) malam. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Hal itu pula yang menjadi pertanyaan kunci Jokowi kepada Prabowo di segmen kelima. Tentang strategi pembangunan infrastruktur untuk memperbanyak unicorn Indonesia.

Dalam paparannya mengenai revolusi industri 4.0, Jokowi mengandalkan konektivitas data untuk mempermudah UMKM. Para petani dikenalkan dengan marketplace sehingga bisa menjual hasil pertaniannya secara online.

Penguasaan infrastruktur juga menjadi pembelaan Jokowi ketika ditanya Prabowo dalam beberapa isu infrastruktur. Misalnya mengenai efisiensi dalam pembangunan infrastruktur. Termasuk di dalamnya penyediaan dana untuk ganti rugi lahan yang akan digunakan pembangunan infrastruktur.

Menurut Jokowi, selama 4,5 tahun belakangan, pemerintahannya tidak mengenal ganti rugi dalam pembebasan lahan untuk infrastruktur. Yang ada lebih ganti untung. Selama ini anggaran pembebasan lahan umumnya mencakup 2-3 persen dari nilai infrastruktur. Selama pemerintahannya, dia sudah meminta porsi anggaran itu dinaikkan menjadi 4-5 persen.

Di bidang pangan, Jokowi memiliki paparan tersendiri ketika Prabowo mengingatkan janjinya tidak akan impor selama pemerintahannya. Menurut dia, yang dimaksud tidak impor adalah berupaya menekan impor sampai ke titik nol. Selama debat, Jokowi memaparkan data-data.

Dari Debat Capres Kedua: Jokowi Kaya Data, Prabowo Rileks
Penampilan dua capres saat debat yang berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/2) malam. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Jagung misalnya. Pada 2014 Indonesia mengimpor 3,5 juta ton jagung. Empat tahun kemudian, Indonesia hanya mengimpor 180 ribu ton jagung. “Tidak mungkin seperti membalikkan (telapak) tangan, sehari dua hari. Itu perlu waktu,” ucapnya.

Selama debat, Prabowo lebih banyak tersenyum saat mendengarkan Jokowi berbicara. Namun sebaliknya, Jokowi yang awalnya tidak bereaksi raut wajahnya sempat berubah.

Selain itu, ada gaya yang berbeda hampir di setiap jeda antarsegmen. Pantauan Jawa Pos, hampir di setiap jeda, Prabowo selalu masuk ke belakang panggung. Alhasil, aktivitasnya tidak bisa terpantau dengan jelas. Masuknya Prabowo ke belakang panggung juga selalu diikuti para petinggi partai koalisi pendukungnya.

Sementara itu, Jokowi memilih berbaur dengan audiens. Lebih tepatnya menuju tempat timnya berada dan menyapa sang istri. Dia juga beberapa kali tampak berdiskusi dengan Seskab Pramono Anung. Dari gesturnya, tampak keduanya mengevaluasi penampilan Jokowi di setiap segmen debat.

Dari Debat Capres Kedua: Jokowi Kaya Data, Prabowo Rileks
Penampilan Capres 02 Prabowo Subianto saat debat yang berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/2) malam. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Segmen keempat yang paling ditunggu publik justru berakhir antiklimaks. Harapan akan adanya debat yang dinamis karena tidak dibatasi waktu justru berakhir dengan penyamaan persepsi di antara keduanya. “Kalau nggak ada banyak perbedaan, untuk apa kita berseteru?” ujar Prabowo. “Saya setuju,” sahut Jokowi.

Padahal, sejatinya ada sejumlah hal yang masih bisa digali keduanya. Terutama di video kedua yang ada perbedaan cukup tajam antara Jokowi dan Prabowo. Prabowo sempat menuding Jokowi hanya mendapatkan laporan yang baik-baik dari bawahannya. Sementara Jokowi membantah dengan mengatakan selalu datang mengecek langsung. Prabowo pun berhenti mendebat setelah dua kali beradu argumen. “Terima kasih, cukup jelas, Pak,” ucap Prabowo yang disambut sorakan penonton.

Jokowi pun membalas dengan kembali membela diri. Bahwa bila ada yang belum dilakukan, itu menjadi koreksi yang harus dilakukan. “Kita ini manusia biasa. Ada yang sudah kita lakukan dan ada yang belum kita lakukan,” ucapnya.

Sementara itu, titik berat Prabowo pada pangan dan kesejahteraan petani begitu ditonjolkan. Saat menanggapi Jokowi soal revolusi industri 4.0, Prabowo tampak tidak terlalu antusias. Dia justru mengingatkan bahwa revolusi industri memiliki risiko. Salah satunya adalah berkurangnya industri padat karya karena tenaga manusia semakin digantikan mesin. “Tapi, intinya kita bicara industri 4.0, namun kita belum bisa membela petani-petani kita sendiri,” ucapnya.

Dari Debat Capres Kedua: Jokowi Kaya Data, Prabowo Rileks
Penampilan Capres 01 Jokowi saat debat yang berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/2) malam. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Menurut Prabowo, mengikuti perkembangan dunia memang baik. Namun akan lebih baik lagi bila kebutuhan dasar rakyat bisa dijamin terlebih dahulu. Salah satunya dengan menyetop impor kebutuhan pokok. Dia mempertanyakan argumen Jokowi soal pengurangan impor. Ditambah lagi kondisi Indonesia yang surplus. “Kalau memang sudah kelebihan stok, kenapa harus impor?” tanya dia. Lebih baik anggaran impor digunakan untuk membuka lahan baru atau membantu petani dalam hal benih dan pupuk.

Pada intinya, petani hanya menginginkan harga yang baik atas produk mereka. Juga, tak ada impor komoditas saat masa panen. Impor saat panen itulah yang menurut Prabowo dikeluhkan petani saat ini. Buah dari kebijakan pemerintah yang dinilai tidak tepat karena justru merusak harga.

Di bidang energi, Prabowo juga berkomitmen menjadikan Indonesia swasembada energi melalui sawit. “Pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat) harus diubah, tidak 80 persen plasma dan 20 persen inti,” lanjut Prabowo. Justru plasma harus semakin besar seperti Malaysia agar masyarakat yang menanam sawit di luar perusahaan bisa mendapatkan lebih.

Pemanfaatan sawit tersebut bisa dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia. Khususnya sebagai pengganti BBM fosil yang selama ini digunakan masyarakat. “Benar bahwa kita sudah ke arah B20, tapi Brasil sudah ke B90,” tambah Prabowo.

Dari Debat Capres Kedua: Jokowi Kaya Data, Prabowo Rileks
Penampilan dua capres saat debat yang berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/2) malam. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Di luar fokus utama kedua capres, ada satu hal yang membuat suasana debat menghangat, yakni ketika membahas agraria. Pertanyaan itu ditujukan panelis kepada Jokowi. Jokowi menjawab dengan data bahwa pemerintahannya sudah membagikan 2,6 juta hektare lahan kepada rakyat dari total rencana 12,7 juta hektare.

Namun, kebijakan itu dikritik Prabowo. Dia mengatakan bahwa itu kebijakan populer yang hanya bisa untuk satu dua generasi. “Pada saatnya nanti, kita tidak punya lahan lagi bagi anak-cucu kita,” cetus Prabowo. Sementara itu, strategi Prabowo adalah menguasai seluruhnya untuk kemakmuran rakyat sebagaimana pasal 33 UUD 1945.

Jokowi lalu mengungkit lahan yang saat ini dikuasai Prabowo. Dia mengatakan, pemerintahannya sengaja memberikan kepada masyarakat kecil agar produktif. Bukan malah memberikan konsesi kepada perusahaan besar. “Kita tahu Pak Prabowo memiliki lahan yang sangat luas di Kalimantan Timur sebesar 220 ribu hektare dan di Aceh Tengah 120 ribu hektare,” ungkap Jokowi.

Prabowo menjawab tudingan itu saat sesi statemen akhir. Dia membenarkan menguasai lahan seluas itu. Namun, sifatnya adalah hak guna usaha. Setiap saat negara bisa mengambilnya kembali. “Kalau untuk negara, saya rela mengembalikan itu semua,” ucapnya. “Tapi, daripada jatuh ke tangan asing, lebih baik saya yang mengelola,” tambahnya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (byu/bay/c9/c10/git/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Dari Debat Capres Kedua: Jokowi Kaya Data, Prabowo Rileks