alexametrics

Pemilu 2019: Jangan Memotret di Bilik Suara

17 April 2019, 11:25:05 WIB

JawaPos.com – Hari ini akan dicatat dalam sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia. Untuk kali pertama, rakyat Indonesia memilih wakil di parlemen bersamaan dengan memilih presiden dan wakil presiden. Inilah pemilu terbesar sekaligus paling rumit di dunia yang dilaksanakan dalam sehari. Sudah seharusnya kita menjadi bagian dari sejarah itu dengan menggunakan hak pilih.

Pada pemungutan suara hari ini, kita disuguhi lima surat suara. Warna hijau untuk DPRD kabupaten/kota, biru untuk DPRD provinsi, merah untuk DPD, kuning untuk DPR, serta abu-abu untuk presiden dan wakil presiden. Semua kita pilih secara serentak di bilik suara.

Pemungutan suara dimulai pukul 07.00 waktu setempat. Baik di Indonesia bagian barat, tengah, maupun timur. Selesai pukul 13.00 waktu setempat. “Kami menyarankan Saudara-Saudara sekalian datang lebih awal,” kata Komisioner KPU Wahyu Setiawan saat ditemui di KPU kemarin (16/4).

Pembaca Jawa Pos, misalnya, bisa bangun pagi dan menyiapkan diri. Baca Jawa Pos pagi-pagi, lalu menjelang pukul 07.00 berangkat ke TPS. Ajak keluarga dan tetangga yang sudah punya hak pilih untuk menggunakan hak konstitusional itu.

Hadir lebih awal akan membuat pemilih lebih nyaman dalam menggunakan hak pilihnya. Ada potensi pemilih lebih lama berada di TPS. Sebab, ada lima surat suara yang harus dicoblos. Empat di antaranya berisi banyak calon.

Bila datang lebih siang, ada potensi berimpitan dengan para pemilih lain dan menghasilkan antrean panjang. Kondisi tersebut tentu tidak akan menjadi masalah bila para pemilih rela menunggu antrean. Namun, bila tidak, Wahyu menyarankan untuk datang lebih pagi. “Setelah itu, pemilih bisa melanjutkan aktivitas lainnya,” lanjut Wahyu.

Wahyu menuturkan, pemilih yang belum mendapat surat pemberitahuan memilih atau C-6 tidak perlu risau. Selama nama mereka masih tercantum dalam DPT, hak pilih aman. Para pemilih tinggal datang ke TPS sesuai DPT sejak pagi dan menunjukkan e-KTP kepada petugas KPPS. Bisa dipastikan, mereka akan dilayani.

Bagi pemilih yang datang siang, Wahyu mengingatkan bahwa TPS ditutup pukul 13.00. Namun, bila masih ada antrean, layanan dilanjutkan meski lebih dari pukul 13.00. Para petugas akan mendata para pemilih yang hadir sebelum pukul 13.00. Merekalah yang berhak mengikuti sampai akhir. “Kalau datangnya pukul 14.00, tentu saja sudah tidak bisa dilayani,” tutur mantan komisioner KPU Jateng itu.

Untuk memudahkan pemilih, di depan TPS tersedia papan pengumuman yang berisi daftar peserta pemilu yang berlaga di TPS tersebut. Pemilih dipersilakan untuk mampir sejenak dan bisa menentukan sejak awal peserta yang akan dipilih di bilik suara. Bila diperlukan, pemilih juga boleh mencatat pilihannya di depan TPS itu dan membawa catatan sebagai panduan memilih di bilik suara.

Wahyu mengingatkan para pemilih agar tidak coba-coba memotret aktivitas selama berada di bilik suara. Termasuk, memotret apa yang dia pilih. Hal itu dilarang karena bertentangan dengan asas kerahasiaan dalam pemilu.

Karena itu, di tiap TPS disediakan tempat penitipan ponsel. Para pemilih dipersilakan untuk menitipkan ponsel masing-masing sebelum menuju bilik suara. Di luar aktivitas bilik suara, pemilih atau siapa pun boleh memotret atau mendokumentasikan kegiatan pemungutan dan penghitungan suara di TPS. Termasuk, memotret formulir C-1 plano.

Formulir tersebut, tutur Wahyu, berisi data dasar penghitungan suara. Pemilih atau siapa pun boleh memotret asalkan tidak mengganggu jalannya penghitungan suara. Biasanya, pemilih boleh memotret dari luar TPS. “Formulir plano itu besar. Jadi, tidak perlu terlalu dekat memotretnya,” tutur alumnus Untag Semarang tersebut.

Keleluasaan dalam mendokumentasikan hasil pemilu, lanjut Wahyu, merupakan bagian dari transparansi pemilu. Dengan pengawasan langsung masyarakat, para penyelenggara pemilu diharapkan bekerja dengan lebih hati-hati. Pihak-pihak yang berusaha mendelegitimasi pemilu melalui TPS akan berpikir ulang karena ada masyarakat yang mengawasi secara langsung.

Penghitungan suara diperkirakan berlangsung hingga tengah malam. Bahkan sangat mungkin hingga dini hari atau pagi esoknya. Sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), bila tengah malam belum selesai, penghitungan bisa diteruskan tanpa jeda. Dan harus selesai sebelum pukul 12 siang.

Setelah itu, surat suara akan dikirim ke panitia pemilihan kecamatan (PPK) untuk keperluan rekapitulasi. Rekapitulasi di PPK dimulai pada 19 April, maksimal selama 14 hari. Khusus beberapa PPK yang punya TPS lebih dari 1.000, bila 14 hari tidak cukup, waktu bisa diperpanjang tiga hari.

Bila ada PPK yang sudah menyelesaikan rekapitulasi lebih awal, hasilnya bisa langsung dikirim ke KPU kabupaten/kota. Rekapitulasi di tingkat kabupaten/kota akan berlangsung mulai 21 April dan maksimal selesai pada 6 Mei. Selanjutnya dibawa ke tingkat provinsi, mulai 23 April sampai maksimal 9 Mei. Sedangkan deadline rekap tingkat nasional adalah 22 Mei.

Selanjutnya, pihak yang tidak puas atas hasil rekap dan penetapan hasil pemilu oleh KPU bisa mengajukan sengketa hukum di MK. Batas pendaftarannya adalah tiga hari setelah penetapan hasil pemilu oleh KPU. MK harus memutus perkara sengketa itu dalam waktu 14 hari.

Tahapan berikutnya adalah penetapan peserta pemilu terpilih. Kemudian, Oktober mendatang, anggota DPR, anggota DPD, presiden terpilih, dan wakil presiden terpilih akan dilantik. Anggota DPR dan DPD akan menjalani sesi pengucapan sumpah dan janji pada 1 Oktober. Sedangkan presiden dan wakil presiden terpilih mengucap sumpah dan janji pada 20 Oktober.

Di sisi lain, KPU menyatakan kesiapannya untuk puncak pemilu hari ini. Sejak beberapa hari belakangan, logistik pemilu didistribusikan ke kantor desa, bahkan ke TPS. Di Papua, misalnya, pengiriman logistik pemilu ke berbagai desa menggunakan helikopter. Sebab, kontur sebagian wilayah Papua tidak memungkinkan untuk perjalanan darat.

Yang jelas, logistik harus tiba di TPS paling lambat H-1. Para petugas sudah melakukan pengecekan akhir untuk memastikan semua logistik dalam kondisi baik. Pemilih juga jangan ragu untuk menukarkan surat suara apabila menemukan cacat yang signifikan.

Sementara itu, anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin menjelaskan bahwa pihaknya mendapat laporan dari sejumlah daerah terkait dengan potensi kekurangan logistik akibat belum sampai atau faktor lain. “Karena ranah penyiapan kebutuhan logistik ada di KPU, kami sudah menyampaikan ke KPU untuk disiapkan antisipasinya,” terang dia di Bawaslu kemarin.

Dia mencontohkan Boyolali. Akibat kehujanan, ada 101 kotak yang basah dan lembap. “Besar kemungkinan tidak bisa dipakai besok (hari ini, Red),” lanjut dia. Pihaknya berharap KPU punya skenario penggantian logistik. Dengan begitu, aktivitas pemungutan suara tidak terganggu.

Hingga saat ini, tutur pria dari Sidoarjo itu, Bawaslu sudah menerima pendaftaran 138 lembaga pemantau pemilu. “Belum ditambah dengan duta besar perseorangan yang datang untuk visit ke TPS-TPS,” tuturnya. Ini kali pertama pemilu Indonesia dipantau begitu banyak lembaga.

Menanggapi persoalan kotak suara itu, Wahyu memastikan bahwa jajarannya sudah diinstruksikan untuk berhati-hati. Sebab, ada beberapa faktor alam yang tidak mungkin dilawan. “Kami antisipasi sedemikian rupa sehingga faktor-faktor itu tidak sampai mengganggu jalannya pemungutan dan penghitungan suara. Tentu saja opsi-opsi penggantian selalu ada ungtuk mengantisipasi kerusakan.

Di sisi lain, hari ini 189 peserta election visit program KPU akan melakukan tur bersama. Mereka akan mendatangi sejumlah TPS yang ditentukan oleh KPU. Mereka adalah 30 anggota Election Management Body (sejenis KPU) dari 10 negara. Kemudian, ada 82 perwakilan dari 22 kedutaan besar negara sahabat.

Selain itu, ada 52 orang dari 8 non-governmental organization (NGO) yang turut berpartisipasi. Sementara itu, NGO dalam negeri mengirimkan 10 wakilnya. Ada pula perwakilan enam perguruan tinggi negeri, kementerian/lembaga, dan media massa. “Melalui mereka, kita mewartakan pemilu Indonesia kepada dunia,” tutur Komisioner KPU Hasyim Asyari.

Kini pilihan ada di tangan para pemilih. Kitalah yang menentukan ke mana arah bangsa ini lima tahun ke depan. Yang lebih penting, pemungutan suara hari ini akan mampu mengakhiri bibit-bibit konflik horizontal akibat aksi dukung-mendukung terhadap peserta pemilu.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (byu/c9/c11/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads