alexametrics

Prediksi Bakal Ke Mana AHY Setelah Gagal di Pilgub Jakarta

16 Februari 2017, 07:05:06 WIB

JawaPos.com – Secara kesatria Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengakui kekalahannya di Pilkada DKI Jakarta. Dia pun menyampaikan selamat kepada Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Basewedan-Sandiaga Uno yang berpeluang besar masuk ke putaran kedua. Banyak yang menganggap bahwa ini adalah kekalahan telak AHY dan wabil khusus SBY. Juga ada spekulasi yang tidak sepenuhnya keliru, yakni AHY akan maju ke Pilgub Jatim.

Menurut pengamat politik dari Jogjakarta Puthut Eko Ariyanto, angka 18 persen-20 persen suara yang diraup dari Pilgub DKI sebenarnya bukan hal buruk. Terutama mengingat partai pengusung atau organ pengusung (kecuali H Abraham Lunggana) yang tidak mempunyai basis massa kuat di Jakarta. Itu berbeda dengan PKS, Gerindra, PDIP, dan Hanura yang memiliki mesin bagus di Jakarta. 

Kekalahan AHY itu sebenarnya diketahui SBY sejak lama. Ketika memajukan AHY ke Pilgub DKI, SBY tahu putra mahkotanya akan kalah. ”Sejak awal, SBY tahu jenderal-jenderal akan nyungsep jika bertarung melawan politikus-politikus sipil,” jelas pengamat politik yang sejak akhir 2015 menyatakan bahwa AHY pasti keluar dari militer dan masuk ke panggung politik tersebut. 

SBY tahu persis militer tidak menyediakan panggung pertarungan politik yang keras. Bagi seorang petarung politik, latihan paling penting selain berlaga adalah berlatih kalah. Itulah cara terbaik SBY melatih anak kesayangannya untuk berpolitik. 

Hal tersebut juga bisa menjelaskan mengapa Agus harus keluar dari militer. Setelah Pilgub DKI, yang dibutuhkan Agus sekarang adalah bertarung sebanyak-banyaknya di panggung yang pas sehingga mendapat sorotan besar dari rakyat Indonesia. Mungkin, Pilgub Jatim menjadi sasaran berikutnya. 

Dia juga bisa menjadi tokoh kunci PD saat bertarung di Pileg-Pilpres 2019 untuk membuktikan lagi bahwa PD bisa masuk tiga besar parpol di Indonesia. Itu adalah sebuah keharusan untuk meneruskan Dinasti Yudhoyono dalam dunia politik Indonesia. Berharap seperti Dinasti Kennedy atau Dinasti Bush di panggung politik Amerika. 

Jadi, kekalahan di Pilgub DKI ini tak benar-benar menjadi persoalan bagi SBY. Mendapat 18 persen suara sudah cukup bagus buat Agus. Pemberitaan yang besar, latihan politik yang keras, bicara di depan publik, belajar memenangi TPS demi TPS, dan sekian hal lain dalam Pilgub DKI kali ini justru penting buat Agus. Lebih penting daripada sekadar menang. Sebab, hal terpenting yang perlu dilakukan untuk menjadi petarung politik adalah bertarung terus. 

Jadi, berbeda dengan pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi yang harus bertarung di putaran kedua, Agus Harimurti Yudhoyono kini bisa lebih tenang merencanakan perjalanan politiknya dengan modal yang cukup bagus. 

Di bagian lain, meski memenangi Pilgub DKI putaran pertama, Ahok-Djarot bakal lebih pening. Sebab, rivalnya, Anies-Sandi, menunjukkan tren konstan peningkatan elektabilitas. Apalagi, pasangan AHY-Sylvi sangat mungkin menyerahkan suara mereka kepada Anies-Sandi. Sebab, ceruk elektoral mereka sama. Sentimen yang terasa pun sama. Kampanye ”Muslim pilih non-Muslim akan bertanggung jawab di akhirat” yang semakin gencar beredar di media sosial pun bisa memberikan sentimen negatif untuk Ahok-Djarot. 

Namun, meski kini menjadi unggulan, Anies-Sandi tidak boleh menepuk dada lebih dulu. Sentimen agama bisa berbalik. Terutama fenomena Muslim yang memilih silent. Muslim rasional menganggap tak ada korelasi antara akidah dan memilih gubernur, terutama dalam konteks demokrasi modern sekarang ini. Mereka memang tak suka berteriak dan memilih diam. Setidaknya, TPS 17 Petamburan yang notabene merupakan markas FPI bisa menjadi contoh. (c23/ano) 

Editor : Thomas Kukuh


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads
Prediksi Bakal Ke Mana AHY Setelah Gagal di Pilgub Jakarta