alexametrics
Pileg 2019

PSI Minta PKS Melek, Lihat Poligami Tak Hanya dari Perspektif Agama

15 Desember 2018, 22:43:31 WIB

JawaPos.com – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menilai penolakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atas larangan poligami tidak tepat jika hanya didasarkan pertimbangan agama. Juru Bicara PSI, Dara Nasution menjelaskan, kebijakan tersebut dikeluarkan atas dasar fakta sosial yang terjadi, seperti diskriminasi terhadap perempuan dan pelanggaran HAM.

“PSI tidak membawa larangan poligami ini ke perdebatan theologis dan tidak tepat dibawa ke sana. Ini adalah fakta sosial yang terjadi dan melanggar hak asasi manusia (HAM) serta diskriminasi bagi perempuan,” ungkapnya saat ditemui di kawasan Menteng, di Jakarta, Sabtu (15/12).

Dia pun menambahkan, setiap partai memang memiliki sikap masing-masing soal poligami. Namun, jika ada sikap partai yang menolak, PSI akan terus berjuang mengubah undang-Undang yang dinilai diskriminasi.

“Itu terserah teman-teman PKS kalau memang mendukung poligami. Di sini, PSI menolak perda-perda negatif termasuk masalah poligami,” sebutnya lagi.

Kendati demikian, alumnus Fisip UI ini percaya masih ada kelompok masyarakat yang tidak setuju dengan poligami dan satu visi-misi seperti PSI. “Masih ada kelompok perempuan dan kelompok progresif yang bersama kami. Langkah PSI sudah benar dan harus diperjuangkan meskipun ini kontroversial,” tegas Dara.

Sebelumnya, langkah PSI menentang keras praktik poligami untuk pejabat publik dan Aparatur Sipil Negara (ASN) dikritik oleh partai berbasis Islam, PKS. Sekretaris bidang Polhukam DPP PKS, Suhud Aliyudin menyebut, gagasan PSI tersebut sama saja melawan syariat Islam.

“Ini menolak syariat Islam. Poligami merupakan bagian dari syariat Islam yang jelas aturannya. Walaupun bukan merupakan kewajiban bagi semua orang Islam, namun hukum poligami tidak bisa dihilangkan,” kata Suhud kepada wartawan, Jumat (14/12).

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (ipp/JPC)



Close Ads
PSI Minta PKS Melek, Lihat Poligami Tak Hanya dari Perspektif Agama