alexametrics

Kemenkes Beberkan Penyebab Meninggalnya Petugas KPPS

Jantung, Stroke, dan Hipertensi
14 Mei 2019, 15:38:42 WIB

JawaPos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) angkat suara terkait kasus meninggalnya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pada pelaksanaan Pemilu 17 April 2019 lalu. Apalagi jumlah pahlawan demokrasi yang meninggal itu mencapai lebih dari 583 jiwa.

Sekjen Kemenkes Oscar Primadi mengatakan, petugas KPPS yang meninggal saat pemilu dipicu oleh kelelahan. Namun kelelahan itu adalah rentetan dari penyakit yang sudah diidap oleh petugas KPPS itu sendiri. Penyakit tersebut pun mengandung banyak risiko.

Contohnya sakit jantung. Seharusnya seseorang dengan faktor risiko penyakit jantung tidak boleh terlalu lelah. “Namun, saat bertugas dia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat. Inilah yang berdampak pada jantungnya,” ujar Oscar dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Selasa (14/5).

Oscar menyebut, hingga kini Kemenkes telah menerima laporan dari 17 provinsi. Dalam laporan itu disebutkan bahwa kelelahan menjadi pemicu penyakit yang diidap oleh petugas semakin parah.

“Kita melihat beberapa provinsi yang sudah kita dapatkan datanya kita melihatnya tidak ada hal yang berhubungan langsung (dengan kelelahan), tapi berkaitan dengan penyakit bawaan yang diderita petugas, di mana kelelahan menjadi trigger dari pada ini (meninggalnya petugas Pemilu),” katanya.

KORBAN PEMILU. (DWI RESTU KALTIM POST/ JAWA POS GROUP)

Setelah diinvestigasi, Oscar menambahkan, terjadinya kematian itu karena korban memiliki penyakit. Lantas penyakitnya kelelahan. Penyakit yang paling mendominasi menjadi pemicu kematian terhadap petugas KPPS yakni, jantung, infarct myocard, koma hepatikum, stroke, dan hipertensi.

“Ini penyakit-penyakit yang memang sisi angka Riskesdas 2018 banyak diderita oleh masyarakat kita. Ini yang memang berkaitan dengan penyakit tidak menular,” ungkapnya.

Bentuk pemicu lain semakin beratnya penyakit yang diidap petugas KPPS yakni banyak polusi asap rokok. Umumnya itu terjadi di tempat pemungutan suara (TPS). Kondisi asap rokok itulah kondisi kesehatan petugas.

“Kemenkes sudah berkomunikasi dengan teman-teman daerah, di dinas kesehatan dan rumah sakit untuk waspada,” ungkapnya.

Pernyataan Sekjen Kemenkes Oscar Primadi ini sejalan dengan pendapat dari dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Dr. dr. Anwar Santoso, Sp.JP(K). Dia menyebut kelelahan hanya sebagai salah satu faktor pemicu seseorang terserang penyakit jantung hingga meninggal dunia.

dr. Anwar Santoso meyakini petugas KPPS yang meninggal dunia umumnya sudah memiliki bakat atau riwayat penyakit jantung. Misalnya dari angka tekanan darah yang tinggi, kolesterol dan kadar gula darah yang tinggi.

“Saya sepakat bahwa kelelahan hanya pemicu. Sebelumnya orang tersebut sudah punya riwayat atau bakat penyakit jantung. Harus ada bakat itu dulu. Tak bisa kita salahkan kelelahan sebagai faktor tunggal,” tukas dr. Anwar.

Begitu juga dengan pendapat Dokter Spesialis Saraf dr. Rakhmad Hidayat, SpS. Menurutnya, kelelahan bukan hanya menjadi pemicu penyakit jantung atau kematian, tetapi juga menjadi pemicu penyakit stroke.

Dia menjelaskan stroke berbeda dengan serangan jantung. Jika serangan jantung menyerang irama dan menyebabkan kematian mendadak. Sedangkan stroke disebabkan oleh adanya kerusakan saraf otak.

“Stroke bukan kali ini terjadi tetapi biasanya sudah punya bakat bertahun-tahun terjadi. Kelelahan bisa memicu stroke. Dehidrasi juga iya. Stres iya. Hubungannya, bisa menyebabkan penurunan fungsi otak. Aliran darah tak mengalir ke otak,” tuturnya.

Untuk mengantisipasi tidak berkembang polemik dugaan meninggalnya petugas KPPS itu, dokter spesialis Forensik dr. Ade Firmansyah Sugiharyoto SpF menyarankan adanya otopsi. Tindakan itu untuk menentukan atau menggali penyebab kematian dengan cara yang tak wajar. Jika ada yang tak wajar, maka bisa dilakukan otopsi klinis sesuai kewenangan dari pihak keluarga atau persetujuan keluarga. Jika memang penyebabnya karena kelelahan yanh memicu serangan jantung hal itu akan terdeteksi.

“Pemeriksaannya luar dan dalam. Kita buka semua organ tubuh panggul dan lainnya. Bila perlu darah dan urin. Kenapa? Karena akan mencari tahu kebenarannya. Otopsi klinis adalah kewenangan keluarga. Keluarga minta persetujuan. Bisa dilakukan di fasilitas terkait,” tegas dr. Ade.

Di tempat lain, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengatakan, kerja keras petugas KPPS tidak sebanding dengan uang. Petugas KPPS itu adalah pahlawan untuk mewujudkan perhelatan Pemilu 2019 berjalan sukses.

“Kinerja mereka sangat enggak sebanding dengan uang. Mereka pejuang pengabdi untuk mewujudkan pemilu berjalan sukses,” ujar‎ Arief saat dikonfirmasi, Senin (13/4).

Menurut Arief, Pemilu 2019 ini paling spektakuler dan rumit. Dia mengklaim, semuanya bisa dilakukan dengan lancar dan baik berkat para petugas KPPS tersebut. Meskipun ada gejolak-gejolak namun semuanya bisa dilakukan dengan baik.

“Pemilu ini menurut kami paling spektakuler bisa dikatakan paling rumit. Bahwa ada percikan-percikan itu adalah hal wajar. Enggak ada pemilu berjalan mulus,” katanya.

Untuk diketahui, hingga saat ini total petugas pemilu yang meninggal dunia berjumlah 583 orang. Semua itu terdiri atas petugas KPPS (469 orang), anggota Panwaslu (92 orang), anggota kepolisian 22 orang. Sementara petugas KPPS yang dilaporkan sakit mencapai 4.602 orang.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : Gunawan Wibisono



Close Ads