alexametrics
Debat Publik I Pilgub Jatim 2018

Soal TKI, Dua Paslon Sama-sama Prioritaskan Penguatan Skill

11 April 2018, 03:24:46 WIB

JawaPos.com – Selain isu pendidikan, persoalan tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menjadi isu seksi dalam pelaksanaan debat publik pertama Pilgub Jatim yang berlangsung di Dyandra Convention Center, Surabaya, Selasa (10/4) malam.

Keduanya, baik pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak maupun Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno sama-sama konsen terhadap isu TKI. Mereka pun memfokuskan pembahasan terkait perlunya peningkatan skill para TKI agar bisa bersaing di pasar kerja Internasional.

Berdasar pertanyaan yang diajukan empat panelis secara acak, kedua paslon diberikan narasi terkait problem ketenagakerjaan. Saat ini, 36 persen petani penghasilannya di bawah UMK. Sehingga pada akhirnya, mereka memilih menjadi buruh pabrik dan TKI.

Debat Pilgub Jatim
Selain isu pendidikan, persoalan tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menjadi isu seksi dalam pelaksanaan debat publik pertama Pilgub Jatim (Dida Tenola/JawaPos.com)

Maka kemudian, timbul pertanyaan. Bagaimana jika saudara menjadi Gubernur dan Wakil Guberbur Jawa Timur nanti membuat kebijakan yang fundamental bagi penyerapan tenaga kerja baik di bidang pertanian, pekerja industri dan perlindungan buruh migran?

Khoffiah: “Saya jalan ke Nganjuk ada usaha Shuttlecocks yang established dari tahun 1943, mereka sebetulnya sedang kekurangan tenaga kerja. Saya datang ke Ngawi ada sentra ukir kerajinan kayu ternyata mereka juga kekurangan tenaga kerja. Saya ingin menyampaikan kepada kita semua, jadi problem ketenagakerjaan kita memang variatif, hari ini ada 51 persen warga Jawa Timur, 21 persen di atas 15 tahun tidak lulus SD. 30 persen tidak lulus SD. Artinya, mereka adalah unskillable. Mereka ini ada yang mengambil pilihan sebagai TKI atau TKW. Saya ingin menyampaikan kepada kita semua bahwa penyiapan, kalau tadi ada kaitan dengan Madin, mereka bisa mendapatkan program life skill pada saat hari Sabtu atau Minggu, sehingga selesai mereka dari ulya mereka bisa mendapatkan skill tertentu, sehingga kalau mereka masuk pangsa pasar mereka mendapat skillable. Mereka yang masuk katanya unskillable hari ini memang harus mendapatkan spesial treatment supaya mereka ketika jadi TKI atau TKW bisa dikirim sebagai skillable,”

“Jawa Timur memiliki kemampuan yang luar biasa di sektor agro, saya ingin menyampaikan bahwa petani dan peternak kita, kita punya supplier telur 60 persen di Jawa Timur dari Blitar, hari ini mereka kekurangan jagung. Artinya apa, jika anak muda mau bertanam sesungguhnya pangsa pasarnya juga luar biasa,”

Emil: “Wirausaha adalah salah satu cara untuk mendorong agar mereka tidak berangkat ke luar negeri. Kami bertemu dengan banyak sekali buruh migran yang kembali. Dengan konsep communal branding, yaitu upaya bagaimana wirausaha baru ini kesulitan menjual barangnya melalui jalur ritel modern maka ini bisa meningkatkan minat usaha. Sebenarnya saya ingin menyoroti dalam kaitan dengan kebijakan dari Disnaker. Satu hal yang belum disebutkan padahal sangat penting sekali, adalah untuk mencegah TKI yang tidak prosedural, sudah ada yang namanya LTSA PPMI, saat ini sudah ada di Surabaya dan Tulungagung. Menurut saya seharusnya lebih,”

Hampir sama dengan Khofifah-Emil, Gus Ipul-Puti juga memikirkan soal pentingnya ketrampilan tenaga kerja. Ketrampilan tersebut diwujudkan dengan pelatihan-pelatihan yang menghasilkan output berupa sertifikat sebagai bekal di dunia kerja.

Gus Ipul: “Kalau berbicara soal tenaga kerja, ada tiga hal yang diperhatikan. Pertama mereka yang belum bekerja, kedua mereka yang sedang bekerja, dan terakhir mereka yang pasca bekerja. Tantangannya ada pada yang belum bekerja. Ini yang perlu disiapkan. Mereka perlu harus dilengkapi dengan sertifikat-sertifikat ketrampilan. Khusus pekerja migran, mereka harus punya sertifikat ketrampilan berstandar internasional. Selain itu, kami akan memperkuat SMK-SMK. Kami punya kewajiban besar untuk mewadahi bagi mereka yang berketrampilan bisa masuk ke pasar kerja”

Puti: Perlu adanya perlindungan terhadap buruh migran. Perlindungan ini bukan hanya kepada mereka yang bekerja, tetapi juga keluarga buruh migran tersebut. Saya punya pengalaman bertemu dengan mereka (keluarga buruh migran) saat berkunjung ke Tulungagung. Saya melihat mereka sangat sedih karena tidak didampingi orang tuanya. Ayah-ibunya bekerja di luar negeri. Pendampingan ini sangat penting. Selain itu, bagi mereka pensiunan buruh migran, kami siapkan mereka agar tetap bisa berkreatifitas melalui UMKM. Lewat program Super Star yang kami siapkan, sepulang dari luar negeri mereka masih tetap bisa berkreatifitas.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (did/mkd/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Soal TKI, Dua Paslon Sama-sama Prioritaskan Penguatan Skill