alexametrics

Pengamat: Data Khofifah-Emil Lebih Faktual

11 April 2018, 16:26:50 WIB

JawaPos.com – Debat publik pertama Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim) 2018 masih menjadi perbincangan. Salah satu materi debat yang menjadi sorotan adalah soal gizi buruk. Suasana debat begitu panas ketika masuk segmen debat antara cawagub.

Dalam acara debat di Dyandra Convention Hall Surabaya pada Selasa (10/4) malam, Cawagub Jatim nomor urut 2 Puti Guntur Soekarno menyebutkan bahwa gizi buruk di Trenggalek masih tinggi.

Namun data itu terbantahkan dengan survei gizi yang dilakukan pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. Survei Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun, persentase status gizi stunting di Jatim tercatat usia 0-59 bulan pada tahun 2014 sebesar 29 persen. Demikian menurut laman resmi Pemprov Jatim yang diakses, Rabu (11/4).

Kemudian Menurut batas toleransi Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka anak gagal tumbuh atau stunting ditoleransi 20 persen dari jumlah balita. Sementara persentase data terakhir status gizi stunting di Jatim masih mencapai 26 persen.

Bahkan lebih detail di sejumlah daerah Jatim, kasus gizi buruk masih di atas 30 persen. Mulai dari Kabupaten Sampang yang mencapai 40 persen, Jember sebesar 39,2 persen, Sumenep 32,5 persen, Bangkalan sebesar 32,1 persen, Probolinggo 25,5 persen dan Lamongan 25,2 persen.

Dari hasil debat dan data, pengamat politik Universitas Brawijaya Ahmad Hasan Ubaid menilai pasangan Khofifah-Emil tampil meyakinkan dan menguasai materi debat. Materi yang disampaikan Khofifah-Emil seusai data yang terjadi di lapangan.

“Pasangan Khofifah Emil menguasai seluruh materi. Mereka dapat menyampaikannya secara luas dan cerdas. Data yang disampaikan Khofifah-Emil lebih faktual sesuai lapangan,” tutur Hasan.

Hal senada juga diungkapkan pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Airlangga Pribadi Kusman. Ia menyebut pasangan Khofifah-Emil berhasil tampil meyakinkan dengan membeberkan sejumlah data yang akurat.

Menurutnya, pasangan Khofifah-Emil paling memahami permasalahan yang harus ditangani Pemprov Jatim. “Kelebihan Khofifah Emil, keduanya secara konkrit bisa menjelaskan angka-angka. Itu kelihatan keduanya sangat detail memahami persoalan,” tutur Airlangga.

Dalam programnya, Khofifah Emil ingin mengikis jumlah gizi buruk dan ketimpangan antara kota dan desa. Khofifah-Emil menyediakan PKH Plus demi menghapus disparitas pangan dan memberdayakan kaum lansia, difabel dan perempuan rentan miskin.

Kemudian soal akses, Khofifah menyajikan Jatim Akses. Dalam poin tersebut Khofifah-Emil berkomitmen membangun akses infratruktur di sejumlah wilayah Jawa Timur. Hal itu diprogramkan demi mempermudah akses mobilitas distribusi kebutuhan masyarakat Jatim.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : (mkd/JPC)


Close Ads
Pengamat: Data Khofifah-Emil Lebih Faktual