alexametrics

Pemilu Luar Negeri Mayoritas Akhir Pekan

KPU Tegaskan Insiden Kinabalu, Malaysia, Hoaks
10 April 2019, 11:49:44 WIB

JawaPos.com – Berita bohong alias hoaks masih saja mengganggu penyelenggaraan Pemilu 2019. Setelah hoaks yang bermunculan di dalam negeri, kini giliran panitia pemilihan luar negeri (PPLN) yang diserang. Khususnya PPLN Kota Kinabalu di Malaysia yang baru terkena musibah.

Mobil pengangkut kotak suara di wilayah kerja PPLN Kinabalu terbakar. Musibah itu lantas dipelintir menjadi bahan hoaks. Dengan menggunakan pemberitaan televisi, penyebar hoaks membuat narasi seolah-olah pemungutan suara di Malaysia sudah selesai. Salah satu paslon capres-cawaspres dinyatakan menang. Namun, kotak berisi surat suara terbakar dalam perjalanan. Posting-an itu menyebar ratusan kali sejak tadi malam (9/4).

Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat koran ini memberitahukan sekaligus mengonfirmasi hoaks tersebut. Bagaimana tidak, sehari sebelumnya memang ada laporan dari Ketua Pokja PPLN Wajid Fauzi bahwa telah terjadi insiden. Namun, faktanya bertolak belakang dengan narasi dusta tersebut.

Sebagaimana laporan Wajid, Pramono menjelaskan, surat suara itu sedang dikirim ke lokasi pemungutan suara ketika insiden kebakaran mobil terjadi. Tepatnya dikirim dari Kota Kinabalu ke Sandakan. Surat suara tersebut akan digunakan untuk pemungutan suara dengan metode kotak suara keliling (KSK).

”Belum dicoblos karena masih dalam proses distribusi,” terangnya tadi malam. Ada sekitar 900 lembar surat suara yang ikut terbakar.

Pramono juga menginformasikan bahwa saat ini belum ada pemungutan suara untuk wilayah Malaysia. Menurut jadwal, pemungutan suara untuk WNI di Malaysia berlangsung serentak pada 14 April mendatang. Baik untuk metode TPS maupun KSK. ”Sehingga tidak mungkin sudah ada surat suara yang dicoblos oleh pemilih,” lanjut mantan ketua Bawaslu Provinsi Banten itu.

Pemungutan suara di luar negeri menggunakan tiga metode. Selain TPS dan KSK, pemungutan suara dilakukan dengan pengiriman lewat pos. Metode itu digunakan di negara-negara yang WNI-nya menyebar hingga ke pelosok dan umumnya berjumlah sedikit. Di negara-negara yang WNI-nya banyak dan terkonsentrasi, pemungutan suara lebih umum menggunakan metode TPS dan KSK.

Untuk metode pos, PPLN mengirimkan dokumen logistik ke alamat WNI. Pengiriman itu berlangsung sejak 8 Maret lalu. Amplop tersebut berisi dua jenis surat suara dan amplop balasan beserta prangkonya. Di amplop balasan itu juga tertulis alamat pengiriman. Pemilih tinggal mencoblos surat suara di rumah, memasukkannya ke amplop balasan, dan mengirimkannya ke kantor pos atau kotak pos terdekat.

Metode KSK digunakan bagi WNI yang terkonsentrasi, tetapi jangkauannya jauh dari KBRI atau KJRI. Di Malaysia, KSK banyak digunakan untuk pemilih yang bekerja di kawasan perkebunan, pertambangan, atau permukiman di kota yang banyak terdapat WNI tetapi jauh dari KBRI dan KJRI.

Sistemnya sama dengan pemungutan suara di TPS. Hanya, prosedurnya lebih simpel. Ada petugas yang membawakan surat suara beserta kotaknya dan membuka ”lapak” di tempat berkumpulnya WNI. Cara lain, berkeliling ke permukiman untuk menjangkau para WNI pemukim di satu distrik.

Sementara itu, metode TPS sama persis dengan di dalam negeri. Hanya, tidak mudah untuk mendirikannya. Sebagian besar negara hanya membolehkan pendirian TPS di ”dalam negeri” alias area KBRI atau KJRI. Karena itulah, ada solusi menggunakan KSK.

Namun, beberapa negara masih mengizinkan PPLN membuat TPS di luar area KBRI dan KJRI. PPLN Hongkong, misalnya, mendapat izin dari otoritas setempat untuk mendirikan TPS di tiga lokasi di luar KJRI. Yaitu, Queen Elizabeth Stadium Wan Chai, Tsim Sha Tsui Hong Welfare (TST), dan Yuen Long Town Hall.

Tiga lokasi tersebut ditambah Tap Seac Multisport Complex di Makau yang akan melayani 180 ribu WNI. ”Di beberapa negara lain juga ada yang mengizinkan. Misalnya, Adelaide (Australia),” jelas Ketua Pokja PPLN Wajid Fauzi. Dengan demikian, diharapkan pelayanan kepada pemilih bisa semakin maksimal.

Surat suara hasil pemungutan suara di luar negeri tidak akan langsung dibuka dan dihitung. ”Proses penghitungan suara baru dilaksanakan pada 17 April,” sambung Pramono.

ILUSTRASI: Pemilu Luar Negeri berlangsung akhir pekan. (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Karena itu, bila ada informasi mengenai hasil pemungutan suara luar negeri sebelum 17 April, bisa dipastikan itu adalah berita bohong. Rencananya, penghitungan dan rekapitulasi suara dilakukan di tiap-tiap KBRI dan KJRI yang menaungi PPLN.

Hingga kemarin, baru tiga PPLN yang menggelar pemungutan suara dengan menggunakan KSK dan TPS. Yakni, KBRI Sana’a di Yaman, KBRI Panama City di Panama, dan KBRI Quito di Ekuador. Mayoritas PPLN menggelar pemungutan suara pada akhir pekan, Jumat (12/4) sampai Minggu (14/4).

Untuk Jumat, mayoritas yang mengadakan adalah negara-negara di kawasan Timur Tengah. Sebab, rata-rata hari libur reguler di negara-negara itu adalah Jumat. Selebihnya paling banyak digelar Sabtu. Misalnya, Amerika Serikat dan Australia. Juga pada Minggu seperti Malaysia dan Hongkong.

KBRI Panama City lewat akun Twitter dan Instagram mereka kemarin mem-posting suasana pemungutan suara di Pelabuhan Vacamonte. Pemungutan suara di pelabuhan tersebut menggunakan metode KSK yang berlangsung 8 April lalu. Rata-rata WNI yang berada di pelabuhan itu bekerja sebagai anak buah kapal (ABK).

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (byu/c5/oni)



Close Ads