alexametrics

Rindu Siap Benahi Saluran Irigasi Pertanian di Pangandaran

9 Juni 2018, 05:30:10 WIB

JawaPos.com – Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengatakan persoalan tata kelola pengairan yang berada di kawasan Lakbok Selatan, Pangandaran ini harus diselesaikan dengan kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sebab, saluran air sungai Citanduy yang menjadi pemicu banjir juga melintasi dua daerah, yakni Kabupaten Ciamis dan Pangandaran.

Menurut wakil dari Calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, berkomitmen jika pasangan calon dengan sebutan Rindu terpilih akan memperjuangkan keinginan para petani di kawasan genangan seraya. Dengan mencari jalan kelur teknikal yang lebih spesifik untuk membenahi persoalan pengaliran air ini. Komitmen tersebut untuk mengembalikan kawasan Lakbok sebagai salah satu sentra penghasil padi.

“Persoalan itu sangat membebani dan merugikan bagi petani. Ini harus dicari solusinya agar mereka semua bisa menikmati hasil jerih payah dan hak-hak buruh tani untuk menanan padi. Persoalan di lahan pertanian itu penting dan harus diperhatikan,” kata Uu di Pangandaran, Jumat (8/6).

Sebelumnya, para petani di Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran mengeluhkan kondisi lahan pertanian mereka yang kerap dilanda banjir. Genangan air itu mengepung hampir sepanjang tahun sehingga hasil cocok tanam padi yang mereka lakukan tak bisa dimaksimalkan.

Warga Pangandaran Holis Marwan, 53, mengatakan genangan air tersebut telah terjadi sejak berpuluh tahun lalu. Genangan yang melingkupi dua wilayah Kecamatan Padaherang dan Kalipucang di Lakbok Selatan ini diakibatkan kurang baiknya pengelolaan saluran air yang mengalir dari Sungai Citanduy.

“Penyebabnya karena ada saluran irigasi. Air Sungai Citanduy yang bulak-belok jadi lurus lewat saluran itu. Muara salurannya ada di sini, Muara Patimuan. Jadi kalau lagi musim hujan airnya pasti ke sini semua, enggak ketampung,” kata Holis di Pangandaran, Jumat (8/6).

Pasalnya ada sekitar 250 hektar yang kerap dilanda banjir musiman. Dari tiga kali musim tanam sepanjang tahun, cuma satu musim tanam yang bisa dimanfaatkan secara efektif pada Mei-Agustus. Kerugian pun yang ditimbulkan akibat tidak bisa ditanami selama dua musim tanam ini mencapai Rp 240 miliar.

“Setiap musim tanam, ratusan hektar sawah ini sanggup memproduksi 240 ton gabah kering,” ujarnya.

Kalau musim kemarau, kata dia kadang-kadang sawah menjadi kekeringan. Sehingga masyarakat di sana kebanyakan beralih profesi. Salah satunya menjadi kuli bangunan di kota-kota.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : (ona/JPC)


Close Ads
Rindu Siap Benahi Saluran Irigasi Pertanian di Pangandaran