alexametrics

Soal Lahan, Warga Madina Minta Perlindungan DJOSS

8 Mei 2018, 14:31:19 WIB

JawaPos.com – Sejumlah perusahaan banyak yang melakukan ekspansi ke daerah plosok di Kabupaten Mandiling Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut). Hal tersebut membuat warga khawatir atas lahan miliknya. Seperti yang dialami warga Desa Sikapas dan Desa Singkuang, Kecamatan Muara Batang Gadis, Madina.

Mereka khawatir apabila tanah yang digarapnya dicaplok perusahaan-perusahaan yang datang berekspansi. Kekhawatiran muncul karena mayoritas warga di plosok Madina belom memiliki sertifikat. Untuk itu, para warga meminta perlindungan atas lahan miliknya kepada pasangan Calon Gubernur-Calon Wakil Gubernur (Cagub-Cawagub) Sumut Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus.

“Kami merasa khawatir. Bukan sekali dua kali tanah warga tidak diakui ketika ada perusahaan datang untuk memanam sawitnya. Apalagi penduduk asli di sini tidak semua punya sertifikat tanah,” ujar Edy Siregar, warga Desa Sikapas, Selasa (8/5).

Para warga memutuskan untuk mendukung pasangan nomor urut dua Djarot-Sihar setelah menyaksikan debat kandidat di TV pada Sabtu (5/5) lalu. DJOSS diyakini mampu membuat perubahan untuk Sumut.

“Kami punya harapan, kami dilindungi. Jangan sampai tanah kami nanti diserobot perusahaan. Kami pun ingin sekali pengurusan sertifikat atas tanah kami dipermudah. Jangan ada lagi pungli-pungli,” papar Edy yang disambut sorakan warga lainnya.

Selain perlindungan atas tanah, warga juga sangat mengharapkan dihadirkannya fasilitas kesehatan di desa mereka. Begitu pula dengan fasilitas pendidikan.

“Kalau desa kami yang dua ini masih mendingan. Masih banyak desa di dalam sana. Mereka kalau sakit susah berobatnya. Mau sekolah juga sama. Sekolahnya nggak ada. Kemudian kalau ada mau di urus, selalu sulit,” sambung Dodi, warga lainnya.

Desa yang dimaksudnya adalah di Wilayah Siulang-aling. Perjalanannya hanya bisa di tempuh dengan perahu atau yang mereka sebut Robin. Selain jauh dari fasilitas kesehatan, Desa Rantau Panjang, Lubuk Kapundung 1, Lubuk Kapundung 2, Hutaimbaru dan Hutabatong juga tak dialiri listrik.

Untuk menuju ke desa tersebut, tidak ada jalur darat yang bisa dilewati kendaraan bermotor. Baik roda empat maupun roda dua. Akses menuju desa itu hanya melalui sungai Siulang-aling.

Butuk waktu sekitar 4 jam untuk menempuh perjalanan dari Singkuang menuju Desa Hutabatong. Ongkos Robin (perahu motor) dari Singkuang menuju Hutabatong di kenakan biaya sekitar Rp 50 ribu per orang. Namun apabila menyewa Robin yang dapat mengangkut sekitar enam sampai delapan orang secara khusus, biayanya sebesar Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta.

Desa-Desa yang berada di Siulang-aling sama sekali tidak dilairi listrik. Untuk memenuhi kebutuhan, warga menggunakan mesin generator. Salah satu contohnya di kediaman H Masyahudan.

Berbeda lagi di Hutaimbaru. Di desa itu warganya tidak menggunakan generator. Melainkan dengan panel solar yang menyerap sinar matahari yang diubah menjadi arus listrik. Panel-panel tersebut di dapat dari pemerintah. Namun baru beberapa saja yang sudah memiliki panel solar.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : (bew/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Soal Lahan, Warga Madina Minta Perlindungan DJOSS