alexametrics

Cerita dari Zuriat Tuan Syekh Silau Laut tentang Ijeck dan Kakeknya

5 April 2018, 23:47:45 WIB

JawaPos.com – Pimpinan Zuriat Tuan Syekh Silau Laut H Ibrahim Ali berkisah soal sosok Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah dan kakeknya Al Hafidz Haji Gulrang Shah.

Ternyata, Ijeck sapaan akrab Musa Rajekshah masih termasuk keluarga besar Silau Laut. Ijeck pun sudah beberapa kali berkunjung ke kawasan Desa Silau Laut. Bahkan semasa lajang, Ijeck sering dibawa ayahnya H Anif ke sana.

Haji Ibrahim Ali melanjutkan ceritanya soal sejarah Syekh Silau Laut. Selain pernah menjadi panglima perang di Kedah (Malaysia), Tuan Syekh Abdur Rahman (Tuan Syekh Silau Laut I) seusai menimba ilmu di Mekkah, kembali ke Sumatera Utara. mengembangkan Tareqat Syattariah di Silau Laut hingga wafat pada 2 Jumadil Awal 1360 H atau 28 Februari 1941, dalam usia 125 tahun. Kemudian, dilanjutkan oleh Tuan Syekh Silau Laut II, Tuan Syekh Muhammad Ali Silau Laut.

Cerita dari Zuriat Tuan Syekh Silau Laut tentang Ijeck dan Kakeknya
Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah Pimpinan Zuriat Tuan Syekh Silau Laut H Ibrahim Ali beberapa waktu lalu. (ist/Dok. ERAMAS)

“Semasa Tuan Syekh Silau Laut hidup, murid beliau banyak di sini. Satu hal yang harus saya sampaikan, Kakek dari Ijeck yang kami panggil dengan sebutan Tuan Kabul (Al Hafidz Haji Gulrang Shah), sudah sampai di sini,” jelasnya, Kamis (5/4).

“Sambil berdagang ke sini, beliau juga mengajar di sini. Beliau adalah tandem Tuan Syekh Silau Laut dalam belajar dan juga mengajar murid-murid Tuan Syekh Silau Laut,” imbuh Pak Cik dari Ustadz Abdul Somad ini.

Kakek Ijeck memang bukan orang biasa. Beliau adalah ulama sekaligus Hafidz Alquran. Maka itu dia bergelar Al Hafidz. “Beliau (Tuan Kabul) menjadi tandem bagi murid-murid dalam berbahasa Arab dan membaca kitab-kitab yang berbahasa Arab. Maka itu, saya berani bilang keluarga ananda Ijeck adalah keluarga besar kami, Syekh Silau Laut. Kalau orang-orang tua di Silau Laut, semua kenal dengan Tuan Kabul,” pungkasnya.

Semasa hidupnya, Tuan Syekh Silau Laut adalah ulama yang dihormati. Tak heran banyak yang ziarah ke makamnya. Termasuk juga Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah yang datang pada Januari 2018 lalu.

“Ziarah dilakukan untuk mengambil iktibar. Zuriat Tuan Syekh Silau Laut terbuka untuk siapapun, apalagi bagian dari keluarga kami yang ke sini,” katanya.

Menyikapi soal Pilgub Sumut 2018 saat ini, Haji Ibrahim Ali mengatakan, masyarakat Sumut terutama umat Islam harus bijaksana dalam menentukan pilihan.

“Secara formal, dalam pilkada kita tentu pakai nilai agama dan aturan negara. Keluarga kami (Zuriat Syekh Silau Laut) saya pikir, sudah ada satu kebijaksanaan sendiri. Pilihan sudah adanya itu,” katanya.

Apalagi kata dia, kemarin sudah ada hasil Kongres Umat Islam Sumut yang menekankan penguatan peran politik umat Islam dengan memilih pemimpin berdasarkan Alquran dan Sunnah, penguatan ukhuwah, penguatan ekonomi umat dan penguatan peran perempuan Islam.

“Memang harusnya begitu. Umat Islam memilih pemimpin harus sesuai Alquran dan Sunnah. Tapi kesatuan umat Islam dan umat lainnya harus kita jaga di Sumut ini. Menjaga keamanan dan ketertiban adalah kewajiban kita,” pungkasnya.

Sementara itu Ijeck mengakui, Tuan Syekh Silau Laut adalah tokoh yang dihormati jamaah. Para bangsawan Serdang maupun Asahan memberi perlakuan khusus terhadapnya. Wujud dari perhatian para penguasa Asahan dan Serdang itu antara lain, berupa pembuatan jalan menuju Kompleks Tareqat Syattariah pimpinan Syekh Silau Laut. Awalnya adalah jalan setapak yang dirintis oleh Sultan Asahan yang kemudian diperlebar dan diperkeras atas bantuan Sultan Serdang.

“Generasi muda Islam sekarang harus tahu, kisah sejarah dan perjuangan beliau dalam berdakwah sangat banyak. Syekh Silau sangat berjasa dalam menyebarkan Islam di Indonesia dan beberapa negara di Asia. Bisa dilihat dari berbagai negara tetangga datang berziarah ke makam Syekh Silau Laut. Ulama besar asal Sumatera Utara yang mendunia,” kata Ijeck.

Di sisi lain, Perkampungan Syekh Silau Laut merupakan daerah yang dikeramatkan warga lagi bersejarah. Kata Ijeck, rumah utama Tuan Syekh Silau Laut dibangun sudah termasuk cagar budaya karena berusia di atas 50 tahun. Termasuk juga makam Tuan Syekh Silau Laut.

“Sebagai bagian keluarga besar Tuan Syekh Silau Laut, kami akan siapkan perkampungan itu sebagai kawasan cagar budaya. Karena itu kawasan bersejarah dan bisa menjadi dokumen pengingat bagi anak cucu kita di masa depan. Semoga perjuangan Tuan Syekh Silau Laut menginspirasi kita untuk menjadikan agama, masyarakat dan negara yang bermartabat,” pungkasnya.

Editor : Budi Warsito

Reporter : (pra/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Cerita dari Zuriat Tuan Syekh Silau Laut tentang Ijeck dan Kakeknya