alexametrics

Pikat Milenial, Masih Efektifkah Kampanye Gunakan Baliho atau Poster?

1 Desember 2018, 17:51:14 WIB

JawaPos.com – Meksi mengklaim sebagai partai milenial, rupanya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) masih menggunakan baliho dan spanduk untuk Pileg 2019 mendatang. Ketua DPP PSI, Tsamara Amany mengaku dirinya masih pemasakan baliho dan spanduk sebagai alat peraga kampanye.

Menurutnya, salah satu tujuan pemasangan baliho dan spanduk tersebut supaya masyarakat mengenal dirinya terlebih dahulu. Namun, selebihnya kampanye ia lakukan lewat media sosial (medsos).

“Artinya baliho sebagai pembuka dan untuk pengenalan. Lebih lanjut saya pikir lewat media sosial,” ujar Tsamara, Sabtu (1/12).

Caleg dari Dapil DKI Jakarta II‎ meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan luar negeri ini mengatakan, apabila dipersentasekan kampanye menggunakan baliho atau poster hanya sebesar 10 persen. Sisanya lewat media sosial dan bertemu langsung dengan masyarakat.

‎”Kalau medsos dan turun ke bawah mungkin sam. Dan kalau baliho sekitar 10 persenan,” katanya.

‎”Saya tiap hari turun dan blusukan, bertemu warga, ada forum tatap warga, dan kami lakukan pertemuan dengan anak muda, nongkrong bareng bikin acara komunitas, dan lakukan kampanye di media sosial,” tambahnya.

Tsamara memastikan, dirinya tidak memasang poster, spanduk dan baliho di ruang publik dan di pohon. Bahkan sebagai jaminan, ia dan relawannya langsung akan mencopot jika itu ditemukan.

‎”Kami tidak menaruh spanduk atau baliho di fasilitas publik. Kalau ada kesalahan dan relawan kami ada kesalahan, langsung kami copot. Jadi, kami nggak pernah menaruh di fasilitas publik seperti di pohon, taman atau halte,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Departemen Kampanye dan Perluasan Jaringan Eksekutuf Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Khalisah Khalid mengatakan, sebenarnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mempunyai aturan pelarangan dalam pemasangan alat peraga kampanye.

Sehingga Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) hanya perlu mengawasinya. Apabila ada pelanggaran, langsung bisa ditindak.

‎”KPU sudah ada mengatur. Jadi, tinggal pengawasannya saja di Bawaslu,” ujar Khalisah.

Adapun aturan itu adalah SK Nomor 175/PL.01.5-Kpt/31/Prov/IX/2018 tentang Aturan Lokasi Pemasangan Alat Peraga Kampanye. Kemudian ada juga SK Nomor 176/PL.01.5-Kpt/31/Prov/18/2018 tentang Aturan Fasilitas Alat Peraga Kampanye.

Pemasangan alat peraga kampanye diketahui dilarang di tempat ibadah, rumah sakit, atau pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, dan lembaga pendidikan.

Nah, Khalisah ‎juga mengeluhkan karena masih ada saja caleg-caleg yang memasang poster atau spanduk di tempat terlarang. Padahal pemasangan alat peraga kempanye sudah ada aturannya.

“Berharap mereka tidak memasang poster sapanduk di ruang terbuka hijau. Atau ruang publik seperti sekolah,” ungkapnya.

Khalisah lebih menyarankan, para caleg menggunakan media sosial saja dalam berkampanye. Ketimbang memasang poster yang menganggu keindahan tata kota. Bahkan lewat media sosial bisa menarik para pemilih pemula dan generasi milenial.

‎”Iya betul lewat onlinenya, digital kampanye. Karena itu lebih ramah lingkungan dan lebih kuat menysasar ‎ke kelompok muda,” ungkapnya.

Sementara pengamat politik dari Universitas Alzhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin mengatakan memang cara kampanye menggunakan poster dan spanduk terbukti masih efektif sampai saat ini. Apalagi bagi caleg baru.

Maka penggunaan spanduk, baliho atau poster masih mencapai 70 persen. Hal itu dilakukan supaya masyarakat bisa mengenal si caleg baru tersebut.

‎”Kalau untuk caleg baru bertarung, harus main di wilayah darat, menggunakan spanduk sebagai sarana kampanye,” katanya.

Hal ini berbeda dengan caleg petahana. Petahana sudah lebih dikenal oleh masyarakat ketimbang caleg baru.

Sehingga petahana tidak terlalu perlu berkampanye menggunakan poster. Lebih baik, mereka menyapa masyarakat langsung dan sisanya menggunakan media sosial.

“Bagi petahana itu lebih baik menggunakan medos, karena petahana itu sudah dikenal. Jadi, medsos harus lebih dominan,” ungkapnya.

Ujang menyadari saat ini masih banyak caleg-caleg nakal yang memasang poster di tempat terlarang. Sehingga akhirnya menganggu keindahan suatu daerah.

Oleh karenanya, saat ini yang dibutuhkan tinggal ketegasan bagi penyelenggara pemilu memberikan sanksi kepada caleg tersebut. Ataupun terus melakukan sosialisasi kepada para caleg.

“Ini memang jadi persoalan. Kita masih belum tertib dalam segala hal, termasuk memasang spanduk. Kadang spanduk dipasang di pohon, ruang terbuka lainnya. Sehingga merusak lingkungan. Oleh karena itu, pemilu sejatinya untuk membangun kesadaran untuk tertib semua hal,”‎ pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (gwn/JPC)

Pikat Milenial, Masih Efektifkah Kampanye Gunakan Baliho atau Poster?