JawaPos Radar

Pilkada Serentak 2018

Gerindra Sebut Lembaga Survei Banyak Ngeles Atas Kesalahan Prediksi

01/07/2018, 14:36 WIB | Editor: Ilham Safutra
Gerindra Sebut Lembaga Survei Banyak Ngeles Atas Kesalahan Prediksi
Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani (kanan) saat bersama Nurdin Halid (tengah) dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (kiri). (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Perolehan suara yang didapat oleh pasangan calon (paslon) gubernur yang diusung koalisi PKS dan Partai Gerindra di Pilkada Serentak 2018 untuk Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Tengah (Jateng) meningkat drastis. Angkanya jauh di atas prediksi dari lembaga survei.

Perolehan suara ini membuat kredibelitas lembaga survei jadi dipertanyakan. Namun lembaga membuat beragam alasan alasan perbedaan angka survei dengan penghitugan suara di pilkada sebenarnya.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra Ahmad Muzani prediksi beberapa lembaga survei di pilkada Serentak 2018 merupakan suatu yang tidak wajar. Apalagi alasan lembaga survei itu tidak bisa memprediksi berjalannya mesin partai. "Mesin partai adalah cara mengeles mereka (lembaga survei) dalam surveinya yang salah," imbuh Muzani di Rumah Dinasnya, Jakarta, Minggu (1/7).

Gerindra Sebut Lembaga Survei Banyak Ngeles Atas Kesalahan Prediksi
Pilkada Serentak 2018 (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Diketahui, dalam Pilgub Jabar 2018, suara pasangan Sudrajat dan Syaikhu yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN memang melejit tajam. Semula mereka diprediksi hanya mendapatkan 7 persen namun pada kenyataannya mendapat 29 persen. Begitu juga di Pilkada Jawa Tengah. Pasangan Sudirman Said dan Ida Fauziah diprediksi hanya mendapatkan 11 persen, melejit tajam sampai 45 persen suara.

Menurut Muzani, lembaga survei sengaja tak mau disalahkan atas salahnya prediksi di Pilkada Serentak 2018. Alasannya, karena lembaga survei itu tak mau kredibilitas dan hasil kerjanya dipermasalahkan oleh masyarakat luas.

"(lembaga survei) pertaruhkan kredibilitas dan intelektual, jadi tidak mau disalahin. Caranya mengatakan itu mesin parpol yang berjalan," cetusnya.

Atas dasar itu, Muzani menduga ada upaya framing yang dilakukan lembaga survei untuk menteror dengan hasil yang tidak benar. Sehingga, ia meyakini pilpres 2019 nanti akan ada kejadian serupa. "Pola ini sudah kita baca dan mungkin 2019 akan menjadi pola yang sama," tutupnya.

(aim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up