JawaPos Radar

Tidak Ada Kejelasan, Dewan Pertanyakan Data Kebijakan Ekspor Jagung

31/08/2018, 20:31 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Tidak Ada Kejelasan, Dewan Pertanyakan Data Kebijakan Ekspor Jagung
Ilustrasi jagung (RADAR KEDIRI/ JAWA POS GROUP)
Share this

JawaPos.com - Simpang-siurnya data produksi hail pertanian menjadi sorotan Dewan. Komisi IV DPR akan memanggil semua pihak terkait, untuk membahas persoalan ini. Ekspor jagung, salah satu yang perlu dibahas mendalam.

Persoalannya, meski Kementerian Pertanian (Kementan) sudah melakukan ekspor ke luar negeri, pasokan di dalam negeri justru terganggu. Akibatnya, kebutuhan industri pakan ternak menjadi tak terpenuhi.

Apalagi, 70 persen harga komoditas telur ayam dan daging ayam, memang ditentukan dari harga pangan. Sehingga mahalnya daging ayam dan telur dapat dipastikan berpengaruh dari harga jagung.

"Jagung sebagai salah satu bahan utama pakan ternak memang vital, kalau memang surplus, harusnya digunakan untuk dalam negeri, tapi ketika kurang dan harus impor tidak masalah, tapi itu harusnya jadi pilihan terakhir," ujar anggota Komisi IV DPR RI Fauzih H. Amro di Jakarta, Jumat (31/8).

Ia mengatakan, tidak adanya kejelasan data yang sinkron antara Kementan, BPS, dan Kemendag membuat masalah ini semakin rumit. "Kita repot, karena yang satu bilang jagung surplus, yang satu bilang kurang, ini mana yang akurat?, siapa yang bisa kita percaya," ujarnya.

Menurut Fauzih, tidak akuratnya data, dimanfaatkan mafia impor. Termasuk dugaan mafia jagung untuk pakan ternak. "Kita di Komisi IV mendorong agenda rapat gabungan dengan komisi VI, dan BPS termasuk Bulog, ini persoalan data harus diselesaikan, agar ada satu data yang digunakan," tuturnya.

Menurutnya, banyak masyarakat alergi dengan impor. Padahal, sedianya impor adalah jalan terakhir ketika tidak ada stok. “Ini kan jadi tanda Tanya, ada apa dengan impor?, kecuali kita sudah punya data yang valid, sudah clear kita butuh impor ya harus impor,” tegasnya.

Sementara itu, Pengamat pertanian UGM, Jangkung Handoyo Mulyo di mengatakan, pemenuhan kebutuhan jagung untuk produksi pakan ternak belum dapat terpenuhi dari produksi jagung dalam negeri. Sehingga masih harus ditutup dari sektor impor.

"Kondisi sekarang tidak cukup. Padahal kalau untuk ternak itu mau tidak mau, karena skala komersial, butuh banyak," katanya.

Dikatakan, kebutuhan yang besar akan jagung untuk industri pakan harus tetap terpenuhi. Ketidaksiapan bahan baku untuk pembuatan pakan ternak tentunya akan memberikan efek domino terhadap harga produk peternakan, seperti telur dan daging.

(jpg/bin/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up