alexametrics

Ahli Waris Korban Lion Air Terima Santunan Rp 1,25 M

Dicairkan Bertahap
30 November 2018, 14:00:06 WIB

JawaPos.com – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengeluarkan laporan awal penyelidikan kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP 29 Oktober lalu. Bersamaan dengan itu, Lion Air memberikan santunan kepada ahli waris penumpang yang menjadi korban kecelakaan mulai Rabu (28/11). Pemberian santunan tersebut dilakukan bertahap.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro mengatakan, santunan diberikan kepada perwakilan ahli waris di Hotel Ibis Cawang, Jakarta Timur. Ada tiga ahli waris yang telah melengkapi dokumen penumpang. “Atas nama Darwin Harianto, Raden Roro Savitri Wulurastuti, dan Arif Yustian,” tuturnya kemarin.

Menurut Danang, pemberian santunan tersebut berdasar ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 77 Tahun 2011. Di pasal 3 disebutkan nilai ganti rugi terhadap penumpang yang meninggal di dalam pesawat udara karena kecelakaan atau kejadian yang semata-mata ada hubungannya dengan pengangkutan udara. Yakni, Rp 1,25 miliar per penumpang. “Santunan berikutnya akan diberikan kepada keluarga sebagai ahli waris yang telah melengkapi berkas administrasi sesuai yang diperlukan dan dokumen dinyatakan lengkap,” ujar Danang.

Ahli Waris Korban Lion Air Terima Santunan Rp 1,25 M
Pihak KNKT ketika memaparkan hasil investigasi soal jatuhnya pesawat LionAir PK-LQP (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)

Sabtu (1/12) juga rencananya ada penyerahan santunan. Selanjutnya, Senin (3/12) penyerahan kepada dua ahli waris di Jakarta dan tiga ahli waris di Pangkalpinang. “Selasa (4/ 12) juga ada penyerahan kepada satu ahli waris di Pangkalpinang,” ucapnya.

Ditanya soal besaran dana asuransi yang disiapkan untuk santunan korban, Danang enggan menjawab. Meski demikian, jika dihitung dari jumlah korban 186 penumpang, total uang pertanggungjawaban adalah Rp 232,5 miliar. Angka itu bisa bertambah lantaran untuk awak kabin, yakni pilot dan pramugari, memiliki hitungan tersendiri yang nilai santunannya di atas penumpang.

Presdir Lion Air Group Edward Sirait menambahkan, pihaknya ingin segera menyelesaikan kewajiban santunan. Namun, pemberian itu tidak bisa sembarangan. Harus ada surat-surat yang dikumpulkan seperti kartu keluarga (KK) dan KTP. Tentu juga harus disahkan notaris. “Kalau bisa akhir tahun selesai,” ujarnya. Karena pengumpulan kelengkapan berkas tak mudah, Lion Air turut membantu. Caranya, membentuk tim penjemput bola dalam pemberian santunan.

Sementara itu, manajemen asuransi PT Allianz Indonesia juga menyelesaikan proses klaim asuransi lima korban Lion Air. Chief Agency Officer Allianz Life Indonesia Ginawati Djuandi mengatakan, ada lima penumpang yang merupakan nasabahnya pada berbagai jenis produk asuransi Allianz. Pihaknya langsung menindaklanjuti dan membayarkan klaim asuransi lima nasabah tersebut. “Pihak manajeman juga telah mengirimkan wakil manajemen untuk mengunjungi keluarga nasabah,” kata Ginawati dalam keterangan resmi.

Sementara itu, Kepala Operasi Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kombespol Lisda Cancer mengatakan, surat kematian menjadi salah satu syarat ahli waris menerima santunan dari Lion Air. Surat kematian bisa dibuat rumah sakit bila korban telah teridentifikasi. “Namun, ada 61 korban yang tidak ditemukan dan akhirnya tidak teridentifikasi,” paparnya.

Kondisi tersebut, lanjut dia, membuat langkah untuk mendapatkan surat kematian menjadi lebih panjang. Satu-satunya cara adalah melalui persidangan untuk mendapatkan penetapan hakim tentang kematian korban. “Itu persyaratannya banyak dari surat kependudukan dan sesuai syarat pengadilan,” ujarnya.

Anggota tim DVI sekaligus Kepala Laboratorium DNA Forensik Pusdokkes Polri Kombespol Putut Cahyo Widodo menambahkan, operasi identifikasi korban jatuhnya Lion Air memang sudah selesai. Namun, selesainya identifikasi itu bukan karena batasan waktu, melainkan memang tidak ada sampel jenazah yang bisa diidentifikasi. “Artinya, sebenarnya bisa dibuka kembali,” tuturnya.

Bagaimana syaratnya agar proses identifikasi bisa dibuka kembali? Dia menjelaskan bahwa kuncinya ada pada sampel jenazah korban. Misalnya, bila ada nelayan yang menemukan jenazah dan diduga merupakan salah seorang penumpang Lion Air, operasinya bisa kembali dibuka.

Dengan demikian, dia berharap keluarga korban memahami bahwa kinerja DVI itu bergantung pada tim evakuasi. Bila menemukan sampel, lanjut Putut, pihaknya tentu akan terus bekerja. “Kalau sudah tidak ada sampel lagi, apa yang akan dikerjakan,” jelasnya.

Di sisi lain, KNKT kemarin mengoreksi pernyataan sebelumnya bahwa pesawat PK-LQP tidak laik terbang. “Sudah dinyatakan oleh KNKT, bahwa pesawat PK-LQP itu, baik penerbangan JT 043 Denpasar-Jakarta maupun JT 610 dari Jakarta direncanakan menuju Pangkalpinang, keduanya adalah laik terbang,” ungkap Ony Suryo Wibowo, investigator senior KNKT.

Sementara itu, salah seorang keluarga korban Lion Air, Rio Nanda Pratama, menggugat Boeing terkait kecelakaan di perairan Karawang akhir Oktober lalu. Pengacara Hotman Paris Hutapea menggandeng pengacara asal Chicago, AS, Manuel von Ribbeck, untuk memfasilitasi keluarga korban guna menggugat pabrikan pesawat tersebut.

Hotman mengatakan, dirinya bersama Manuel membantu memberikan pendampingan hukum bagi keluarga korban. Bahkan, fasilitas itu diberikan tanpa dipungut biaya sepeser pun. “Mereka ini pengacara dari Chicago sudah menunggu. Bagi keluarga yang mau menggugat pihak Boeing di AS, mereka siap mewakili. Dan keluarga korban di Indonesia tidak harus membayar apa pun,” kata Hotman kemarin.

Menurut dia, pengacara Manuel bahkan telah memulai satu kasus gugatan terhadap Boeing. Sidang gugatan sudah berlangsung. “Dia sebenarnya sudah memulai satu gugatan di Amerika. Jadi, sudah mulai kasusnya. Rio Nanda Pra­tama dia sudah gugat Boeing, kasus sudah berjalan,” imbuhnya.

Dalam gugatan tersebut, lanjut Hotman, kliennya meminta Boeing memberikan ganti rugi USD 5 juta hingga Rp 10 juta per penumpang. Dalam rencana gugatannya, lawyer asal Chicago itu memakai contoh kasus di Eropa, mengenai sebuah pabrik pesawat yang lalai dalam pembuatan tiap unit pesawat.

Di tempat sama, Manuel berterima kasih kepada Hotman karena diajak terlibat dalam menangani kasus Lion Air yang sedang dialami keluarga korban di Indonesia. “Saya ucapkan terima kasih sudah mengundang saya ke sini, ini adalah suatu kehormatan bagi kami karena sudah melibatkan kami dalam kasus tragedi ini,” ungkap Manuel. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (lyn/idr/dik/JPG/c10/agm)

Ahli Waris Korban Lion Air Terima Santunan Rp 1,25 M