JawaPos Radar

Sulit Adaptasi Suasana di Tanah Suci, Jamaah Lansia Rentan Stres

29/07/2018, 10:35 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Sulit Adaptasi Suasana di Tanah Suci, Jamaah Lansia Rentan Stres
Calon Jamaah haji menuju ke dalam bus berangkat ke Makkah. (Firzan Syahroni/ Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Lansia rentan terhadap perubahan situasi dan suhu di Tanah Suci. Suhu di sana mencapai 53 derajat Celcius. Hal itu bisa berdampak pada kurangnya kebutuhan cairan selama menjalankan ibadah haji. Jika sudah memiliki penyakit degeneratif, lansia tentu akan semakin rentan stres.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dr. Miftakhul Huda, Sp.KJ yang menangani pasien psikiatri di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Madinah telah merawat 17 pasien psikiatri. Sebanyak 7 pasien telah kembali ke pondokan, dan mengevakuasi 4 pasien ke Mekah. Jenis kelamin yang paling banyak dirawat adalah laki laki. Jemaah yang masih dirawat hingga saat ini sebanyak 6 pasien.

"Kasus psikiatri umumnya dipicu oleh kondisi sosial dan lingkungan yang sangat berbeda antara Saudi dan Indonesia. Banyak jamaah haji harus beradaptasi dengan lingkungan dan kondisi sosial yang baru," kata Huda dalam keterangan tertulis, Minggu (29/7).

Selain itu, dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menyebabkan jamaah haji mengalami perubahan tingkah laku. Jika sudah mengalami gangguan psikiatri yang berat maka dapat dipastikan jamaah haji akan di Badalkan dan tidak bisa menjalankan ibadahnya dengan baik.

Huda menyatakan pasien psikiatri sebagian besar berumur di atas 60 tahun. Menurutnya, para lansia ini tidak mudah untuk beradaptasi dan belajar hal-hal baru.

“Kita tidak dapat mengatakan pasien itu dimensia sebelum diperiksa. Bisa saja dia ke sini karena gangguan adaptasi atau culture shock syndrom. Perbedaan antara kondisi di Indonesia dengan kondisi di sini. Mereka ke sini bertemu dengan kebiasaan dan budaya yang berbeda,” kata Huda.

Huda mencontohkan beberapa kondisi yang memerlukan adaptasi dalam waktu cepat, misalnya penggunaan toilet, bentuk hotel dan kamar hotel yang sama. “Mereka sulit mengenali. Susah mengingat pintu-pintu yang sama. Apalagi mengingat pintu keluar di masjid nomor berapa. Mereka seringkali lupa dan bingung,” jelas Huda.

Huda mengimbau, ketika sampai di Tanah Suci jemaah harus tenang. Semua yang ada disini sudah disiapkan. “Tidak usah khawatir, yang penting jangan terpisah dari rombongan. Kalau ada masalah kesehatan di sini bisa tanya petugas karena kita ada di sekitar Nabawi,” ujar Huda.

Suhu di Mekkah pada saat di Armina akan mencapai kurang lebih 53 derajat Celcius tentu di sana keadaannya lebih berat daripada di Madinah yang saat ini suhunya sekitar 43 derajat. Oleh karenanya jemaah perlu menyiapkan mental bahwa di sana kita harus sehat. Diniatkan secara kuat bahwa ini adalah ibadah haji dan kita dapat melaksanakan ibadah tersebut.

“Mensugesti diri sendiri bahwa kita dapat melaksanakan ibadah haji akan dapat memberikan semangat untuk menjaga kesehatan", terang Huda.

Selain kesiapan mental, kesiapan fisik juga perlu disiapkan. “Istirahat yang cukup, membawa obat-obatan yang dianjurkan dari Tanah Air. Bila ada keluhan dapat memeriksakan ke dokter kloter atau bila agak berat dapat dikonsultasikan di KKHI. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD). Banyak makan buah-buahan dan banyak minum supaya tetap sehat,” terangnya.

Huda menyebutkan jamaah beresiko tinggi dengan masalah psikiatri sebetulnya dapat dikenali sejak di Tanah Air misalnya mudah lupa atau sering lupa dimana menaruh barang. Dehidrasi adalah salah satu faktor yang memperberat kondisi pasien.

“Dia sudah tua, iklim disini beda. Di Indonesia tropis di sini panas, kelelahan, kurang cairan. Di negara lain merasa sendiri, tidak ada orang yang dikenali, kesulitan dalam berbahasa, jauh dari keluarga, ini mempengaruhi peningkatan stresnya. Apalagi saat terpisah dari rombongan dan tidak dapat berkomunikasi dengan ponsel. Ini akan memperberat stressor bagi Lansia,” paparnya.

Berbeda dengan orang yang masih muda, mereka akan mudah beradaptasi yaitu dengan cara bertanya. Kepada para jemaah khususnya jemaah Lansia, Huda dipesankan agar jangan berpisah dari rombongan. “Bila ingin pergi harus ada yang mendampingi minimal 1 orang yang bisa berkomunikasi dan berani bertanya. Jangan lupa bawa minuman dan uang secukupnya, tidak lupa jika pergi izin kepada ketua regunya atau kepada teman satu kamar agar jika ada apa apa bisa di bantu dan di informasikan kepada petugas,” kata Huda.

Sementara itu, bila menemukan pasien yang stress, Huda menganjurkan agar memberikan  pertolongan pertama yaitu dengan memberikan kenyamanan kepada jemaah tersebut. “Berikan kepercayaan bahwa dia tidak sendiri disini. Ada kita. Kita memberikan jaminan. Selanjutnya kita lihat kebutuhan pasien. Misalnya dia butuh minum maka kita bantu sesuai dengan kebutuhannya,” tutupnya. (ika/Marieska)

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up