alexametrics

Duduk Bersama demi Kepentingan Pasien

Oleh dr BAYU SANTOSO SpKFR-K, Anggota IKFR
29 Juli 2018, 15:40:03 WIB

JawaPos.com – Meledaknya  berita tentang pelayanan fisioterapi tiga hari kemarin membuat nurani saya tergelitik. Sebagai salah seorang dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (SpKFR), mungkin yang paling tua di negeri ini, saya begitu dekat dengan mereka (fisioterapis). Interaksi selalu terjadi dalam setiap kali melayani pasien.

Jika menilik ke belakang, perkembangan fisioterapi, kedokteran fisik, dan rehabilitasi medik di Indonesia dimulai sekitar 1950 hingga 1960. Fisioterapi lebih dahulu lahir di Solo atas prakarsa Prof Soeharso. Sedangkan KFR baru muncul pada 1980-an.

Saya sendiri mulai mengenal dunia rehabilitasi medik sejak masih menjadi dokter muda pada 1970. Saat itu saya tertarik dengan rehabilitasi medik setelah melihat almarhum dr R Oemijono Moestari yang begitu memperhatikan nasib pasien dengan disabilitas fisik. Sebagai seorang neuro-psikiater, beliau lantas menempuh pendidikan physiatry (rehabilitasi medik) di New York University pada 1960-an.

Sekembalinya dari pendidikan di Amerika Serikat, beliau mendirikan unit pelayanan fisioterapi di bagian neuropsikiatri di RSUD dr Soetomo, Surabaya. Namun, saat itu beliau hanya dibantu beberapa fisioterapis dan perawat fisioterapi. Kondisi tersebut dirasa masih kurang lengkap. Beberapa dokter pun dikirim ke luar negeri untuk menjadi spesialis KFR, termasuk saya. Setelah kembali ke Indonesia, cita-cita beliau mendirikan pendidikan dokter spesialis KFR terwujud pada 1987.

Keberadaan para dokter spesialis KFR itu pun menjadi pelengkap dalam pelayanan rehabilitasi medik. Dalam setiap kali menangani pasien, kami selalu melibatkan profesi lain yang tergabung di dalam tim. Misalnya, fisioterapis, speech therapy, occupational therapy, perawat, dan berbagai profesi lain yang bersinggungan.

Tidak ada yang lebih penting kedudukannya dalam tim itu. Semua memiliki porsi masing-masing. Sebab, tujuan utama dari semua profesi itu sama. Yakni, memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.

Saya contohkan saja di RSUD dr Soetomo. Setiap Selasa tim rehabilitasi medik selalu berkumpul bersama. Membicarakan tindakan terbaik yang akan diberikan kepada pasien. Yang kemudian hal tersebut dilaksanakan saat melakukan palayanan terhadap para pasien.

Terkait pendidikan fisioterapi, saya dulu membantu almarhum dr Oemijono Moestari dalam membuka pendidikan D-3 fisioterapi di Universitas Airlangga. Yang sekarang telah berkembang menjadi D-4. Dahulu program pendidikan itu masuk fakultas nongelar. Sedangkan saat ini berada di bawah fakultas vokasional. Saat itu mimpi kami ingin memajukan pendidikan fisioterapi di Indonesia sehingga dapat memproduksi lulusan sebanyak-banyaknya yang dibutuhkan negeri ini.

Sebab, bagaimanapun, pelayanan rehabilitasi medik tersebut begitu dekat dengan masyarakat. Banyak penyakit yang membutuhkan bantuan rehabilitasi medik dalam penyembuhannya. Sangat dibutuhkannya rehabilitasi medik itu membuat tim pelayanan di dalamnya juga harus lebih solid.

Bukan hanya kerja sama apik yang mampu membuat pasien bisa mendapat kualitas hidup lebih baik. Tetapi, juga jumlah terapi yang dilakukan. Tentu saja, itu tidak bisa digebyah-uyah begitu saja. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Harus dilihat setiap individu.

Misalnya, pada pasien yang sedang rawat inap di rumah sakit. Tentu proses rehabilitasi medik bagi mereka lebih sering bila dibandingkan dengan rawat jalan. Kadang, rehabilitasi medik itu dilakukan setiap hari. Atau bahkan sehari dua kali. Tujuannya, tentu membuat kondisi pasien menjadi lebih baik.

Sedangkan pada pasien rawat jalan, selalu ada pertimbangan yang diberikan untuk jumlah terapi yang harus dilakukan. Dokter spesialis KFR-lah yang memutuskan. Apakah harus datang terapi setiap hari atau mungkin bisa dua bulan sekali.

Tentu saja itu bergantung kondisi pasien. Mana yang lebih baik. Jika memang dengan dua bulan sekali kontrol cukup, tentu tidak akan direkomendasikan setiap hari. Tetapi tentu saja, proses tersebut tidak hanya berhenti di rumah sakit. Biasanya, orang-orang terdekat pasien akan diajari bagaimana cara terapi sederhana di rumah. Tentu jika itu dilakukan juga bisa mendukung kesembuhan pasien.

Begitu juga sebaliknya. Pasien yang memang harus mendapatkan rehabilitasi medik di rumah sakit lebih sering tentu tak bisa dikurangi jumlahnya. Ibaratnya orang minum obat. Jika seharusnya diberikan dosis tiga tablet tetapi hanya satu, apakah pasien akan sembuh? Begitu juga dengan rehabilitasi medik.

Saya tidak akan mengomentari hal yang lainnya. Yang jadi fokus saya hanya satu. Keselamatan dan kesehatan pasien. Bukankah itu alasan kita memilih untuk menjadi tenaga kesehatan? Bukankah itu pula yang menjadi landasan dibentuknya program jaminan kesehatan di Indonesia?

Bukankah akan lebih baik jika pengambil keputusan mendapat masukan dari semua pihak. Marilah kita duduk bersama. Cangkrukan kalau istilah orang Surabaya. Membahas masalah yang tengah ramai diulas di berbagai media ini. Sehingga pelayanan yang diberikan kepada pasien bisa lebih optimal. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*Penguji nasional dokter peserta pendidikan spesialis IKFR/disarikan wartawan Jawa Pos Dwi Wahyuningsih/c10/tom)

Duduk Bersama demi Kepentingan Pasien