alexametrics

Ongkos Riilnya Rp 60 Juta-Rp 62 Juta

Oleh ADE MAFRUDDIN*
27 November 2018, 10:40:31 WIB

JawaPos.com – Penyelenggaraan haji 2018 sudah tutup buku. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir survei kepuasan pelayanan haji. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, ada peningkatan kepuasan pelayanan haji.

Penyelenggaraan ibadah haji adalah pekerjaan masal. Melibatkan ratusan ribu jamaah. Bukan sebuah perjalanan yang memberangkatkan satu atau dua bus. Dengan demikian, hambatan-hambatan kecil dalam pelayanan haji selalu ada. Apalagi, haji adalah kegiatan yang dilakukan di negara orang. Pemerintah Indonesia adalah tamu. Karena itu, ada kalanya pelayanan tidak bisa maksimal karena terbentur regulasi di Arab Saudi. Kemudian, terkait dengan budaya, cuaca, dan sebagainya.

Untuk urusan peningkatan pelayanan, pemerintah Indonesia tidak bisa meminta fasilitas yang sangat komplet. Sebab, sekali lagi, haji dilakukan di negara orang. Indonesia numpang. Jadi, menurut saya, yang terpenting bukan iming-iming fasilitas yang akan diberikan kepada jamaah. Tetapi, lebih dari itu, yakni bimbingan ibadah haji selama masih di Indonesia. Harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, jamaah haji dari aspek ibadah benar-benar siap.

Bekal haji itu bukan riyal, dolar, atau rupiah. Namun, bekalnya adalah iman. Bagaimana mempersiapkan iman calon jamaah supaya maksimal, yaitu melalui bimbingan ibadah haji yang baik. Dengan demikian, di luar urusan layanan haji di Arab Saudi, pemerintah harus menjalankan pembinaan haji di tanah air dengan maksimal.

Terkait dengan biaya haji, bagi masyarakat, sejatinya tidak ada persoalan. Apakah itu mereka bayar pakai acuan rupiah atau dolar AS. Kalaupun nanti pakai dolar AS, calon jamaah haji tetap bakal melakukan pelunasan. Yang perlu diperhatikan, harus ada acuan kurs dolar yang transparan ketika musim pelunasan BPIH.

Lalu, terkait dengan nominal BPIH yang diusulkan lebih mahal, pemerintah harus melakukan komunikasi dengan baik. Saya berharap pemerintah lebih menekankan bahwa riil biaya haji adalah Rp 60 juta sampai Rp 62 juta. Sementara yang ditanggung masyarakat sekitar Rp 37 juta. Jadi, sejatinya yang dibayarkan oleh masyarakat itu sekitar 50 persen dari total biaya riil jamaah haji. Menjadi lebih murah karena disubsidi dengan adanya dana hasil optimalisasi setoran awal BPIH.

Penyelenggaraan haji juga sangat terkait dengan mata uang asing. Yakni, dolar AS dan riyal. Seperti diketahui, saat ini kurs rupiah terhadap dolar sering mengalami fluktuasi. Dengan demikian, ada potensi kenaikan dana haji akibat pelemahan nilai rupiah terhadap dolar maupun riyal.

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) harus bekerja lebih maksimal. Dengan pengelolaannya, dana haji bisa terus bertumbuh. Kemudian, hasilnya bisa dikembalikan untuk kemaslahatan jamaah haji sendiri. Apalagi, dalam menjalankan pengelolaan dana haji, orientasi BPKH adalah lembaga nirlaba.

Saya berharap Kemenag maupun BPKH bisa menerapkan transparansi kepada masyarakat. Yakni, transparansi berapa biaya riil penyelenggaraan ibadah haji. Kemudian, berapa biaya yang ditanggung jamaah. Lalu, berapa besar biaya hasil pengelolaan dana haji. Yang kemudian digunakan untuk menyubsidi sebagian pembiayaan haji. 

*) Ketua umum Rabithah Haji Indonesia

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (Disarikan dari wawancara dengan M. Hilmi Setiawan/c10/oni)

Ongkos Riilnya Rp 60 Juta-Rp 62 Juta