alexametrics

Selain Obat Kanker, Ini 2 Layanan BPJS Kesehatan yang Dibatasi

26 Juli 2018, 18:04:38 WIB

JawaPos.com – Biaya pengobatan di Indonesia memang dijamin dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Namun belakangan, ada beberapa layanan dan obat yang dinyatakan tidak lagi ditanggung oleh BPJS atau dibatasi.

Salah satunya adalah obat kanker yakni herceptin atau trastuzumab yang tidak lagi dijamin BPJS Kesehatan per 1 April 2018. Penghentian jaminan tersebut dilakukan atas dasar pertimbangan Dewan Pertimbangan Klinis BPJS yang menganggap obat kanker yang berharga Rp 25 juta tersebut tidak bermanfaat secara medis.

Salah satu tim perumus awal BPJS Kesehatan sekaligus Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Hasbullah Thabrany menjelaskan tak hanya penghentian obat kanker yang bikin resah masyarakat. Tapi, ada juga beberapa pembatasan pelayanan, di antaranya operasi katarak dan fisioterapi.

“Kalau obat hanya trastuzumab saja yang tak ditanggung. Tetapi yang ribut itu belakangan justru fisioterapi dan operasi katarak yang dibatasi, ini jadi ramai,” tegasnya kepada JawaPos.com, Kamis (26/7).

Operasi Katarak

Menurut Hasbullah, pembatasan operasi katarak dilakukan dalam hal jumlah pasien saat operasi. Biayanya tetap ditanggung, hanya saja jumlah pasien dibatasi dalam pelaksanaanya.

Fisioterapi

Begitu pula dengan layanan fisioterapi. Peserta BPJS tetap bisa menjalankan fisioterapi namun frekuensinya dibatasi. Misalnya sebelumnya bisa mengikuti fisioterapi tiga kali sepekan, kali ini harus dibatasi.

“Misalnya saja dokter ortopedi setelah mengoperasi pasien untuk penyembuhan itu kan pasien harus fisioterapi. Tetapi karena dibatasi, maka penyembuhannya bisa lambat. Pasien juga yang jadi korban,” kata Hasbullah.

Perlu diketahui, masalah tidak dijaminnya obat kanker trastuzumab oleh BPJS Kesehatan muncul ke permukaan karena keluhan dari Haryadi, suami Juniarti, penderita kanker payudara yang penjaminan obatnya dihentikan. Dia kaget karena BPJS menghentikan penjaminan terhadap trastuzumab sejak 1 April 2018.

Kebijakan BPJS tersebut disebut-sebut untuk menutup pembiayaan (defisit). Hingga kini, saat JawaPos.com mencoba menghubungi, pihak BPJS belum memberikan tanggapan informasi terbaru soal ini. (ika/Marieska)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (ika/JPC)

Selain Obat Kanker, Ini 2 Layanan BPJS Kesehatan yang Dibatasi