JawaPos Radar

Penjelasan BMKG soal Hujan yang Terjadi Ketika Musim Kemarau

25/06/2018, 17:41 WIB | Editor: Ilham Safutra
Penjelasan BMKG soal Hujan yang Terjadi Ketika Musim Kemarau
Ilustrasi: Menurut BMKG hujan yang terjadi musim kemarau sangat dimungkinkan, karena beberapa faktor. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Dalam siklus cuaca, Juni termasuk dalam waktu musim kemarau. Akan tetapi beberapa hari belakangan ini hujan kerap terjadi di sejumlah wilayah. Baik di Jakarta, Bodetabek dan daerah lainnya.

Fenomena ini pun sudah terpantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo, semestinya sebagian wilayah Indonesia sedang dalam kondisi musim kemarau jangka panjang. Akan tetapi, dalam jangka pendek kondisi atmoster dapat memiliki kelembaban yang menghasilkan awan.

"Betul prediksi BMKG saat ini sebagian wilayah Indonesia kondisi musim kemarau (jangka panjang). Namun dalam fluktuatif jangka pendek kondisi atmosfer dapat memiliki kelembaban cukup menghasilkan awan dan hujan," tuturnya kepada JawaPos.com, Senin (25/6).

Lebih jauh dia berpendapat, dinamika atmosfer hari kemarin tampak gelombang atmosfer dan nilai Sea Surface Temperature di selat Sunda dan perairan Utara Banten masih cukup hangat dengan anomali bernilai positif. Kelembaban udara di lapisan udara ketinggian 850-700 mb cukup basah serta ada desakan masuk (intrusi) udara basah di perairan Selatan Jawa hingga Bali.

"Jadi ada belokan angin dan konvergensi ke daerah potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumsel, Babel, Lampung, Banten, Jabar, Kaltara, Kalbar, Kalteng, Sulbar, Sulteng, Malut, Papua Barat, dan Papua," terangnya.

Kabag Humas BMKG Harry Tirto menambahkan, pada saat musim kemarau, hujan dapat dimungkinkan terjadi jika kondisi atmosfer terpenuhi antara lain suplai uap airnya, kelembapan udara yang relatif masih tinggi dan sebagainya.

"Kondisi cuaca signifikan beberapa hari ini, selain pengaruh dinamika cuaca lokal, meningkatnya aktivitas cuaca juga didukung oleh indikasi aktifnya aliran massa udara basah lebih dikenal dengan fenomena skala regional Madden Julian Oscilation (MJO) atau fenomena gelombang atmosfer tropis," paparnya.

Gelombang ini, lanjut Harry, yang merambat ke arah Timur dari Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera yang masuk ke wilayah Indonesia bagian Barat dan Tengah.MJO memiliki siklus perambatan 30-90 hari, dan dapat bertahan pada suatu fase (lokasi perambatan yang digambarkan dalam kuadran) sekitar 3-10 hari.

Selain itu, faktor lain pun dikemukakan Harry yaitu berkembangnya daerah pusaran angin di sekitar wilayah Indonesia yang memicu pemusatan massa udara, daerah belokan dan perlambatan angin serta jalur pertemuan angin (konvergensi) yang dapat memicu pertumbuhan awan yang signifikan

"Kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin," pungkasnya.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up