JawaPos Radar | Iklan Jitu

Pascatragedi KM Sinar Bangun, Kemenhub Bentuk Tim Ad Hoc

24 Juni 2018, 13:27:59 WIB | Editor: Ilham Safutra
Pascatragedi KM Sinar Bangun, Kemenhub Bentuk Tim Ad Hoc
Menhub Budi Karya Sumadi (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyesalkan lemahnya pengawasan petugas di Danau Toba. Meski Kemenhub telah melarang operasi kapal-kapal penumpang di seluruh Danau Toba pascatragedi yang menimpa KM Sinar Bangun Senin (18/6) lalu, nyatanya masih ada kapal yang nekat berlayar. "Saya sangat menyayangkan petugas syahbandar tidak berfungsi dengan baik," kata Budi kemarin.

Sebenarnya, larangan telah diterapkan di lima dermaga di Danau Toba. Yakni, Ambarita, Ajibata, Simalino, Tigaras, dan Muara. Tapi, di luar itu masih banyak dermaga kecil milik masyarakat. KM Ramos Risma Marisi adalah salah satu kapal dari dermaga kecil di Pulau Sibandang, di sebelah selatan Danau Toba.

Untuk itu, Menhub membentuk sebuah tim ad hoc yang beranggota gabungan dari Kemenhub dan KNKT. Tim tersebut akan dipimpin pejabat setingkat eselon III. Ada beberapa tugas untuk tim itu. Pertama adalah menggantikan sementara fungsi-fungsi pengawasan yang selama ini tidak dilakukan Dishub Provinsi Sumatera Utara. "Tim ad hoc akan berfungsi selama dua minggu sampai sebulan," jelas Budi.

Pascatragedi KM Sinar Bangun, Kemenhub Bentuk Tim Ad Hoc
Proses pencarian KM Sinar Bangun di Perairan Danau Toba. (Istimewa)

Selain itu, tugas tim ad hoc adalah me-restart kembali operasi penyeberangan penumpang di Danau Toba. Tugas ketiga adalah bekerja sama dengan KNKT untuk meneliti apa saja yang kurang dari pengelolaan pelabuhan untuk kemudian direkomendasikan ke Kemenhub. Dalam situasi otonomi daerah, pengelolaan pelabuhan terbukti melempem.

Budi juga berencana mengaplikasikan badan pengawas semacam ad hoc itu ke pelabuhan penyeberangan lain di seluruh Indonesia. "Di Sumatera seperti Danau Toba, di Kepulauan Riau, Sungai Musi di Palembang, di Kalimantan juga seperti di Pontianak, Samarinda, dan Banjarmasin," sebut Budi.

Sebagaimana diwartakan, KM Ramos Risma Marisi yang berpenumpang lima orang mengalami mati mesin pada Jumat (22/6) malam setelah menabrak bambu yang mengapung. Salah seorang penumpang, Ama Monang Lumban Raja, menyuruh Joifan Situmorang dan Rahmat Dani masuk ke dalam air untuk melihat kipas kapal. Saat itu kapal sudah terdampar ke pinggir danau.

Tiba-tiba arus kencang membawa kapal dan mereka berdua kembali ke tengah danau. Joifan dan Rahmat Dani berupaya menyelamatkan diri. Namun, hanya Joifan yang berhasil selamat sampai ke pinggir danau. Sedangkan Rahmat Dani tidak bisa menyelamatkan diri karena diduga kelelahan. Kemarin jenazahnya ditemukan dan langsung dievakuasi ke Puskesmas Nainggolan.

Selain itu, pencarian ratusan korban KM Sinar Bangun yang dilaporkan hilang terus berlanjut. Tidak hanya di permukaan dan dalam danau, pinggir Danau Toba juga turut ditelusuri.

Kepala Kantor Basarnas Medan Budiawan menyebut, pihaknya membentuk tim untuk mencari ratusan korban tersebut di daratan. "Ada satu tim yang saya jalankan," imbuhnya. Pengerahan tim SAR di darat cukup beralasan. Sebab, ada potensi korban hilang KM Sinar Bangun terbawa arus sampai ke pinggir Danau Toba. Selain itu, upaya mencari bangkai kapal tersebut masih berlanjut.

(syn/tau/JPG/c17/oki)

Alur Cerita Berita

Pesan Jokowi Usai Tragedi KM Sinar Bangun 24 Juni 2018, 13:27:59 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up