JawaPos Radar

Usai Bencana, Begini Penanganan Trauma Korban Gempa Lombok

23/08/2018, 12:56 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
gempa lombok, korban gempa, penanganan gempa lombok, pascagempa lombok, trauma warga gempa lombok, penanganan trauma gempa lombok,
Reruntuhan salah satu bangunan di Lombok usai diguncang gempa. (Angger Bondan/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Gempa Lombok yang terjadi berulang kali tentu meninggalkan trauma bagi para korban. Sehingga, tak hanya bantuan infrastruktur dan makanan yang dibutuhkan, tapi juga penanganan kesehatan mental sangat diperlukan.

Gempa disebut bencana karena mengganggu dan mengancam kehidupan masyarakat yang mengakibatkan perubahan hidup. Perubahan hidup meliputi cedera tubuh yang mengancam jiwa. Kerusakan sarana prasarana seperti rumah yang rusak, kantor yang rusak, tranpostasi yang terganggu mengakibatkan fungsi kehidupan terganggu.

Pakar Kesehatan dari Departemen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc. menjelaskan perubahan kehidupan (biologis-psikologis-sosial) yang terjadi merupakan stresor atau penyebab masalah kesehatan jiwa.

"Saya dan tim baru saja pulang dari Lombok. Kegiatan yang kami lakukan adalah dukungan kesehatan jiwa dan Psiko Sosial) bagi masyarakat yang tinggal di pengungsian," kata wanita yang akrab disapa Budi itu kepada JawaPos.com, Kamis (23/8).

Pendekatan dilakukan menggunakan prinsip pertolongan pertama psikologis yaitu 3L (Look, Listen, Link). Kemudian pertolongan pertama kesehatan jiwa ALGEE (Approach, Assess, Assist, Any crisis, Listen non-judgement, Give support and information, Encourage apptopriate professional help, Encourage other support).

"Dukungan Kesehatan Jiwa dan PsikoSosial (DKJPS) yang kami lakukan dengan sejumlah pendekatan," jelasnya

Pendekatan kelompok besar yaitu melibatkan semua penghuni pengungsian dengan memberi dan melatih beberapa cara manajemen stres, kebersihan diri dan lingkungan serta membangun hubungan sosial antara penghuni. Sedangkan kelompok kecil berdasarkan usia anak 4 -11 tahun, 12-17 tahun, dewasa dan lansia.

Kegiatan utama yang dilakukan pada dewasa adalah curhat (Let'talk), antar sesama penghuni, dalam keluarga dan membangun harapan masa depan. Budi berharap terjadi PTG (post traumatic growth).

"Melalui kegiatan kelompok kami dapat mendeteksi individu dan keluarga yang mempunyai tanda gangguan jiwa," jelasnya.

Kegiatan individu dan keluarga dilakukan dengan cara assessment dan asuhan keperawatan jiwa. Jika diperlukan dilakukan rujukan. Kemudian saat ditanya soal kemungkinan adanya korban gempa yang berhalusinasi akibat trauma, Budi menegaskan belum menemukan kasus tersebut.

"Bicara tentang gangguan jiwa khususnya ada atau tidaknya halusinasi, kami belum menemukannya. Halusinasi adalah gejala positif gangguan jiwa. Ada beberapa Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ yang kami temukan tetapi tak ada halusinasi," katanya.

Jika ada informasi korban yang mengalami gangguan halusinasi, Budi menyarankan hal itu perlu dilakukan assessment oleh petugas kesehatan jiwa yang profesional. Di sana tersedia pelayanan kesehat selama 24 jam.

"Kami tidak menemukannya, mungkin orang luar saja. Kami berkoordinasi dg RSJ Mutiara Sukma di Mataram. Jadi kalau ada yang ditemukan halusinasi bisa langsung berhubungan dengan RSJ atau posko kesehatan jiwa," tandasnya. 

Kondisi stres dan trauma bisa terjadi beberapa tahapan. Masalah kesehatan jiwa yang mungkin terjadi sejak awal terjadinya bencana adalah reaksi stres yang akut (Acute stress reaction) sampai 1 bulan dan mencakup 20 sampai 50 persen (WHO, 2005). Kemudian masa berduka (Grieving) sampai 6 bulan.

Minggu kedua muncul depresi dan dapat memanjang lebih dari 6 bulan. Ansietas (Anxiety Disorder) dan Post Traumatic Stress Disorder dapat terjadi minggu ke 4 dan memanjang lebih dari 6 bulan. Demikian pula dengan gangguan jiwa mungkin meningkat 3 sampai dengan 4 persen (WHO, 2005).

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up