alexametrics
Perempuan dan Harapan

Putri Della, Satu-satunya Penyelam saat Evakuasi Korban Lion Air

Cerita Keluarga Korban Jadi Penyemangat
22 Desember 2018, 12:30:59 WIB

JawaPos.com – Menjadi satu-satunya penyelam perempuan dari Basarnas saat evakuasi korban pesawat Lion Air JT-610 pada Oktober lalu tak membuat Putri Della Karneta merasa berbeda. Bagi anggota Basarnas Lampung itu, perempuan atau laki-laki punya kewajiban yang sama.

HANYA satu yang menjadi beban pikiran lajang 30 tahun itu. Apakah dia bisa memenuhi pengharapan keluarga korban. Menjawab pertanyaan mereka yang kehilangan ayah, ibu, atau anak dalam musibah tersebut. Memenuhi harapan dan memberi kepastian bahwa orang terkasih mereka selamat atau tiada. Serta menemukan jasadnya.

”Saya cuma selalu berpikir apakah saya bisa ya,” ujarnya saat ditemui di rumahnya di daerah Jalan Sentot Alibasya, Lampung, beberapa waktu lalu. Ketika ditugasi membantu evakuasi korban di perairan Karawang, dia langsung berangkat. Selama 12 hari dia bertugas mengevakuasi potongan tubuh korban. Capek tentu saja. Khawatir, iya. Tapi, semuanya tidak dirasa. Bukan hanya karena itu adalah pekerjaannya. Tapi juga karena iba.

Setiap hari, saat dia membaca pilunya keluarga meratapi orang terkasihnya yang menjadi korban, semangatnya berkobar. ”Saya membayangkan bagaimana kalau korban adalah orang yang saya cintai, keluarga, atau teman dekat,” katanya.

Putri tak setiap hari terjun ke air. Ada pembagian jadwal untuk beberapa tim yang bertugas. Ketika ada salah seorang penyelam yang menjadi korban, Putri tak gentar. Dia tetap bertugas, namun kewaspadaannya dilipatgandakan.

Putri Della, Satu-satunya Penyelam saat Evakuasi Korban Lion Air
Putri Della Karneta, satu-satunya penyelam perempuan yang terlibat dalam evakuasi korban Lion Air JT-610 (Jawa Pos Photo)

Hal itu tidak hanya dia rasakan saat membantu evakuasi korban Lion Air JT-610. Tapi juga musibah lain di sekitar wilayah kerjanya. Lampung memiliki wilayah perairan seperti sungai yang cukup banyak. Karena itu, dia harus selalu siap untuk bertugas. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang. ”Hampir tiap hari tim rescuer selalu habis kalau sudah hujan,” ujar perempuan yang suka mengisi waktu luangnya dengan lari itu.

Sejauh ini, sudah puluhan penyelamatan yang dilakoni. Menolong nelayan yang perahunya terbalik, orang tenggelam di air terjun maupun sungai, orang hilang di gunung, sampai buron yang nekat terjun ke laut. ”Kalau disuruh milih yang mana yang lebih sulit, laut atau sungai, nggak bisa. Soalnya masing-masing kondisi punya kesulitan sendiri,” jelasnya.

Sungai mempunyai jarak pandang nol. Berbeda dengan laut yang jarak pandangnya luas. ”Menyelam di sungai benar-benar hanya mengandalkan rabaan tangan dan kaki,” jelasnya. Lalu, sungai dipenuhi ”jebakan” seperti ranting-ranting dan bebatuan. Suhu sungai ternyata bisa lebih dingin daripada laut.

Namun, sungai mempunyai area yang lebih kecil. ”Jadi, kalau mencari tidak terlalu jauh. Kita sudah bisa mengira-ngira di mana letaknya,” sambungnya.

Sang ibu, Sri Karmila, yang menemani Putri selama wawancara terlihat tersenyum bangga melihat anak pertamanya itu bercerita. Karmila dulu berharap anaknya itu bekerja kantoran saja. ”Pokoknya yang bukan kerja susah-susah seperti ini,” jelasnya. Apalagi, dia adalah lulusan fakultas hukum di Universitas Lampung. ”Ya, penginnya dia jadi pengacara, jaksa, atau hakim sesuai dengan jurusannya,” sambung perempuan 56 tahun tersebut.

Namun, dia tidak bisa mencegah keinginan anaknya itu. Apalagi, pergi bertugas yang menyerempet bahaya bukan hal baru di keluarga mereka. Ayah Putri, mendiang Tajudin Zainal Bahri, adalah tentara. Begitu pula kakek dari ayahnya. Kini jejak putri diikuti dua di antara tiga adiknya. ”Bisa dibilang kita itu dari keluarga tentara kini jadi keluarga Basarnas,” celetuk Putri, lantas tertawa. 

Trivia

Putri Della, Satu-satunya Penyelam saat Evakuasi Korban Lion Air
Putri Della Karneta, satu-satunya penyelam perempuan yang terlibat dalam evakuasi korban Lion Air JT-610 (Jawa Pos Photo)

Selepas SMA sempat menjalani tes di militer, kepolisian, Basarnas, dan guru olahraga. Tapi gagal. Akhirnya kuliah di fakultas hukum. Setah lulus, coba melamar lagi di Basarnas, akhirnya diterima.

Sekali menyelam 30 menit. Itu sudah total ke bawah, mencari, dan naik lagi. Pertama menyelam 32 meter. Kalau dalam sehari ada dua kali penyelaman, yang kedua harus kurang dari 30 meter.

Ingin mendapat pasangan yang bisa mengalokasikan banyak waktu di rumah. Dan yang pasti tidak sama-sama bekerja di Basarnas.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (ama/c19/any)

Putri Della, Satu-satunya Penyelam saat Evakuasi Korban Lion Air