JawaPos Radar

5 Importir Ketahuan Nakal, Jual Bawang Merah Padahal Bombai Mini

22/06/2018, 16:29 WIB | Editor: Imam Solehudin
Bawang Bombay
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman ketika memberikan keterangan kepada awak media di Jakarta, Jumat (22/6). (Ist/Jawapos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sebanyak 5 perusahaan importir bawang bombai mini masuk daftar hitam (blacklist) Kementerian Pertanian. Mereka kedapatan melakukan modus kamuflase dengan mengimpor bawang bombai mini untuk seolah dijual sebagai bawang merah.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengatakan, praktik curang importir nakal ini dilakukan di tengah upaya terus menerus Kementerian Pertanian memproteksi petani.

"Salah satu kebijakan kami sejak tahun 2016 tidak lagi mengeluarkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) bawang merah (shallot)," kata Amran usai upacara peringatan Hari Krida Pertanian ke-46 sekaligus Halal Bihalal di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (22/6).

“Alhamdulilllah, dalam dua tahun berturut-turut kita menikmati harga yang stabil. Memang masih ada fluktuasi harga secara sporadis, tapi relatif stabil. Dan kita syukuri itu," terang dia.

Amran mengaku berang ketika ada perusahaan yang berlaku curang, berbohong, melakukan manipulasi impor.

Dijelaskan dia, pengungkapan kasus ini berawal dari adanya 10 importir yang diduga mengimpor bawang bombai berukuran kurang dari lima sentimeter.

"Biasa disebut bawang bombai mini karena secara morfologis bentuknya menyerupai bawang merah lokal," jelas dia.

Begitu masuk pasar, lanjut Amran, bawang bombai mini ini dijual sebagai bawang merah dengan harga jual lebih murah dari bawang merah lokal, sehingga harga bawang merah lokal anjlok drastis.

“Dari 10 importir, ada 5 di antaranya sudah diaudit Kementan, yakni PT TAU, PT SMA, PT KAS, PT FMP, PT JS, dan dikenakan sanksi blacklist dari Kementan," tegas Amran.

Amran juga menegaskan blacklist tidak hanya kepada perusahaan perusahaan tersebut saja, tapi sekaligus kepada semua kroninya karena mereka sudah tega terhadap bangsanya sendiri.

"Ini menyangkut komitmen Kementerian Pertanian untuk menjaga harga bahan pangan hasil pertanian guna melindungi petani. Nilai Rp 100, sangat berharga bagi saudara kita petani," pungkasnya.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up