Sulit Pastikan Gempa Pembuka atau Bukan

Oleh DARYONO*

21/08/2018, 13:16 WIB | Editor: Ilham Safutra
Dua orang penumpang kapal ferry melintasi jalan yang retak akibat gempa di Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur, Senin (20/8). (IVAN MARDIANSYAH / LOMBOK POST/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Tampak ada kaitan erat antara gempa 7,0 SR pada 5 Agustus 2018 dengan gempa 6,9 SR pada 19 Agustus 2018. Gempa baru diduga dipicu gempa yang bersifat statis (static stress transfer) dari rangkaian gempa-gempa kuat di Lombok sebelumnya Menariknya, rekahan (rupture) batuan yang diciptakan dua gempa besar tersebut terjadi pada satu sistem sesar yang sama, yaitu masih dalam kerangka sistem Sesar Naik Flores. Dalam ilmu seismologi, aktivitas kedua gempa semacam itu bisa disebut gempa kembar (doublet earthquakes) mengingat kekuatannya yang tidak jauh berbeda, lokasi yang berdekatan dan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama.

Gempa Lombok sebenarnya bukan hal yang aneh karena secara tektonik Lombok memang merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks. Lombok sangat rawan gempa karena diapit 2 pembangkit gempa dari selatan dan utara. Dari selatan terdapat sumber gempa subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Lombok, sedangkan dari utara terdapat struktur geologi Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrusting). Sesar naik ini jalurnya memanjang dari Laut Bali hingga Laut Flores, melintas di utara Bali, Lombok, Sumbawa, hingga utara Flores. Sehingga tidak heran jika Lombok memang rawan gempa karena sangat dekat jalur sesar aktif.

Secara tektonik Lombok memang merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks. Lombok sangat berpotensi diguncang gempa karena dikepung 2 generator gempa dari selatan dan utara. Dari selatan terdapat generator gempa subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Lombok, sedangkan dari utara terdapat struktur geologi Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrusting). Sesar naik ini jalurnya memanjang dari laut Bali hingga Laut Flores, mencakup utara Bali, Lombok, Sumbawa, hingga utara Flores. Sehingga tidak heran jika Lombok memang rawan gempa karena jalur sesar ini sangat dekat dengan Pulau Lombok.

Jika kita memperhatikan peta aktivitas gempa atau seismisitas Pulau Lombok, tampak di seluruh wilayah pulau penuh sebaran titik episenter yang artinya memang banyak aktivitas gempa di Lombok. Meskipun kedalaman hiposenternya dan kekuatannya bervariasi namun tampak jelas wilayah lombok sering terjadi gempa yang pembangkitnya dari subduksi lempeng, Sesar Naik Flores dan sesar lokal di Pulau Lombok dan sekitarnya. Dari peta seismitas ini pun cukup menjadi dasar untuk mengatakan bahwa Lombok memang rawan gempa.

Kita patut bersyukur bahwa peristiwa Gempa Lombok ini tidak memicu aktivitas Gunung Rinjani dan Barujari. Guncangan gempa kuat yang terjadi dekat gunung api aktif umumnya memang dapat meningkatkan fluiditas magma. Namun demikian hal ini juga sangat ditentukan oleh beberapa faktor khususnya komposisi magma dan kandungan gasnya pada saat terjadi gempa. Jika kondisi magma sedang viscous dan kandungan gas relatif sedikit, maka guncangan gempa tidak akan banyak berpengaruh. Tampaknya demikian yang sedang terjadi, sehingga harapan kita gunung api di Pulau Lombok ini tidak akan ikut-ikutan aktif.

Hingga saat ini gempa susulan masih terus terjadi di Lombok. Fenomena gempa susulan yang jumlahnyha banyak sebenarnya masih tergolong masih wajar, karena setiap terjadi gempa besar pasti diikuti rangkaian gempa susulan yang banyak. Gempa susulan merupakan proses stabilisasi medan tegangan untuk mencapai keseimbangan baru setelah terjadi pelepasan energi saat terjadi gempa utama. Frekuensi dan magnitudo gempa susulan ini umumnya menurun secara eksponensial terhadap waktu hingga kondisi menjadi stabil dan normal kembali.

Gempa susulan dapat merusak struktur bangunan yang sudah rusak saat terjadi gempa utama. Untuk itu kepada warga yang rumahnya sudah rusak sebaiknya tidak menempati rumahnya untuk sementara waktu hingga dibangun kembali.

Ada pelajaran penting yang dapat dipetik. Melihat banyaknya kerusakan yang parah pada banyak bangunan rumah di Lombok maka penting dilakukan sosialisasi mitigasi gempa yang berkelanjutan terkait pentingnya bangunan aman gempa. Korban luka dan meninggal bukan disebabkan oleh gempa, tetapi akibat bangunan yang roboh dan menimpa penghuninya. 

*) Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG

(*)

Alur Cerita Berita

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang 21/08/2018, 13:16 WIB
Gempa, Konstruksi, dan Edukasi 21/08/2018, 13:16 WIB
Unhas Kirim Tim Medis ke Lombok 21/08/2018, 13:16 WIB

Berita Terkait

Rekomendasi