alexametrics
Hari Kartini

Ini Pesan Menteri Yohana Bagi Penerus Estafet Mimpi-mimpi Kartini

21 April 2018, 12:19:05 WIB

JawaPos.comOrang mencoba membohongi kami bahwa tidak kawin itu bukan hanya aib melainkan dosa besar pula. Telah berulang kali itu dikatakan kepada kami. Aduhai! Dengan menghina sekali orang sering kali membicarakan perempuan yang membujang!

Itulah sepenggal kisah yang disampaikan RA Kartini dalam suratnya yang diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Cerita Kartini tentang peremuan di masa lalu ini menggambarkan bagaimana kaum perempuan menjadi hina jika berstatus tidak kawin.

Kartini mempertanyakan apakah anak-anak perempuan tidak boleh mempunyai pendapat. Harus menerima dan menyetujui serta mengamini semua yang dianggap baik oleh orang lain. “Bahwa tahu, mengerti, dan menginginkan itu dosa bagi anak perempuan,” tanyanya.

Lantas, adakah kondisi yang dialami Kartini dan perempuan di masa lalu itu masih terjdi kini?

Bertepatan dengan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ingin menyampaikan bahwa perkawinan tidak lagi menjadi persoalan yang main-main.

Catatan Council of Foreign Relations menunjukkan, Indonesia berada di peringkat 7 dari 10 negara dengan angka absolut pengantin anak tertinggi di dunia, dan tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja.

Riset yang dilakukan Kementerian PPPA bersama Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016 menunjukkan hasil memprihatinkan. Perempuan berusia 20-24 tahun yang melakukan perkawinan di bawah 18 tahun (kategori anak) rata-rata memiliki tingkat pendidikan rendah.

“Sebesar 94,72 persen putus sekolah. Sementara yang masih bersekolah hanya sebesar 4,38 persen. Ini miris sekali,” kata Yohana melalui keterangan tertulisnya kepada JawaPos.com, Sabtu (21/4).

Menurut Yohana, banyak perempuan Indonesia yang masih dibayangi momok harus buru-buru kawin di usia muda. Mirip seperti zaman Kartini. Tabu rasanya jika perempuan terlalu lama membujang.

Namun, dia mengingatkan perkawinan bukanlah hal yang buruk jika dilakukan di usia tepat dan persiapan matang. Yohana menjelaskan, perkawinan di usia anak justru membawa permasalahan baru.

Seperti hilangnya kesempatan mendapatkan pendidikan, ancaman dari penyakit reproduksi seperti kanker serviks, kanker payudara dan bisa mengalami keretakan keluarga karena ketidaksiapan mental mereka dalam membanugn keluarga, hingga berujung perceraian.

“Kalianlah para penerus estafet mimpi-mimpi Kartini untuk memajukan bangsa. Kaum perempuan mampu berkarya, tidak hanya melulu dengan urusan sumur, dapur, kasur. Tetapi juga di ranah publik. Saya optimistis perempuan, Kartini masa kini mampu meneruskan mimpi Kartini, di masa yang akan datang,” ungkapnya.

Di peringatan Hari Kartini ini, Yohana berharap ke depan tidak ada lagi perkawinan anak. Sebab, dirinya meyakini di tangan perempuan muda, Indonesia mampu menentukan masa depannya dengan mengutamakan pendidikan.

“Selamat Hari Kartini. Mari kita stop perkawinan anak. Kaum perempuan mampu berdiri di kaki sendiri dan menentukan masa depannya sendiri. Jangan pernah berhenti berkarya perempuan Indonesia,” pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (put/rgm/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Ini Pesan Menteri Yohana Bagi Penerus Estafet Mimpi-mimpi Kartini