alexametrics
Hari Kartini

Grace Natalie, Susi Pudjiastuti, dan Kartini Masa Kini

21 April 2018, 20:30:41 WIB

JawaPos.com – 21 April selalu diperingati sebagai Harti Kartini. Pemikiran RA Kartini mengenai kebangkitan perempuan seakan menjadi warisan yang turun-temurun ada di benak kaum Hawa tanah air. Salah satunya Grace Natalie, yang kini berkecimpung di
dunia politik.

Srikandi utama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu mengaku sedih, cita-cita Kartini dari dulu hingga sekarang belum 100 persen terwujud. Ya, kesetaraan jender masih menjadi momok di Indonesia.

Ibu dua anak itu melihat, mayoritas perempuan Indonesia masih terkungkung dalam norma dapur, sumur, dan kasur. Sementara kondisi sebaliknya terjadi pada kaum Adam, yang memiliki banyak kesempatan menggapai posisi-posisi strategis di berbagai lini
kehidupan.

Wawancara JawaPos.com dengan Grace Natalie

“Sorry to say, mas, perempuan itu tidak jauh-jauh dari urusan kasur, sumur, dan dapur. Jadi, PR kita dari zaman Kartini sampai sekarang Hari Kartini diperingati tiap tahun, problem kesetaraan jender itu belum selesai,” ucap Grace berbincang dengan JawaPos.com, beberapa waktu lalu.

Mantan jurnalis televisi itu pun menyadari, tak ada jalan lain selain masuk ke dalam sistem hingga dapat mengubah kondisi perempuan di Indonesia. Dengan makin banyaknya perempuan yang terlibat di politik, dalam pengambilan kebijakan, penyusunan regulasi, optimistis bisa dihasilkan aturan yang lebih menguntungkan posisi perempuan.

“Kalau undang-undang saja tak mengatur tentang itu, tidak melindungi perempuan, percuma kita merayakan Hari Kartini tiap tahun. Percuma kita berjuang, koar-koar kesetaraan jender kalau tidak dibuat payung hukumnya,” ucap perempuan cantik
kelahiran Jakarta 1982 itu.

Saat ini, memang banyak sekali aktivis perempuan yang memiliki peran dan tujuan membangun kesetaraan jender. Namun, menurutnya pribadi, hal itu akan sia-sia jika perempuan masih ogah-ogahan masuk ke dalam sistem.

“Impian saya melalui PSI. Jadi, kami berkomitmen ingin memperjuangkan, memberikan ruang politik kepada perempuan,” katanya.

Grace pun menyoroti soal keterwakilan perempuan dalam regulasi undang-undang partai politik. Menurutnya angka afirmatif 30 persen perlu ditingkatkan lagi menjadi 40 persen. Demikian juga dalam undang-undang pemilu.

Dengan makin banyaknya perempuan yang duduk sebagai legislator, maka kebijakan yang berpihak pada kepentingan perempuan bisa lebih santer disuarakan. Sayangnya, keterwakilan perempuan di Senayan ini masih sangat minim. Bahkan tiap pemilu angkanya
cenderung turun.

Meski begitu, dia optimistis ke depan makin banyak perempuan yang sadar dan ingin masuk ke dalam sistem. Sebab, sekarang Indonesia memiliki bayak Srikandi yang bisa memberikan inspirasi dan pengaruh untuk sekitarnya.

“Kita pernah punya Direktur Utama Pertamina perempuan. Terus, Menteri Kelautan dan Perikanan kita perempuan. Rasanya, (dia) paling gagah dibandingkan Menteri Kelautan dan Perikanan yang laki-laki. Di bidang-bidang di luar politik, perempuan sudah banyak masuk. Cuma tinggal politik aja nih yang belum,” tuturnya.

Maka dari itu, Grace pun mengajak perempuan Indonesia untuk tidak takut tampil di panggung politik, yang identik dengan gelanggang para lelaki.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (aim/est/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Grace Natalie, Susi Pudjiastuti, dan Kartini Masa Kini