JawaPos Radar

Diperkirakan 72 Juta Penduduk Belum Terlayani Air Bersih di 2019

Pencemaran DAS Perparah Krisis

15/08/2018, 19:00 WIB | Editor: Estu Suryowati
Diperkirakan 72 Juta Penduduk Belum Terlayani Air Bersih di 2019
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto menyampaikan paparan dalam forum Business Gathering di kantor BPPT Jakarta (15/8). (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) hari ini Rabu (15/8) kembali menggelar temu bisnis. Di hadapan pelaku industri, BPPT memamerkan sejumlah isu pemanfaatan teknologi, mulai dari teknologi untuk mengatasi ancaman krisis air bersih sampai teknologi kapal selam.

Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPPT Hammam Riza mengatakan akses air bersih merupakan salah satu tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia. "Sampai 2019 (diperkirakan) masih ada 72 juta jiwa penduduk Indonesia belum terlayani air bersih," tutur dia di kantor BPPT Rabu (15/8).

Persoalan akses air bersih tersebut juga dipicu pencemaran air. Hammam mengatakan, dari tahun ke tahun, pencemaran daerah aliran sungai (DAS) semakin meluas. Pada 1992 pencemaran DAS mencapai 13,1 juta hektare. Kemudian pada 2011 naik menjadi 18,5 juta hektare.

Terkait persoalan air bersih tersebut, Hammam menuturkan BPPT sedang mengupayakan teknologi air siap minum berbasis masyarakat. "Disebut berbasis masyarakat karena nantinya bakal dikelola masyarakat sendiri," jelasnya.

Menurut Hammam, pemanfaatan teknologi di bidang sumber daya alam (SDA) perlu diperkuat. Sebab salah satu penyumbang pemasukan negara terbesar dari kelompok SDA.

Pada 2016 lalu total penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp 245 triliun. Dari jumlah tersebut, bidang SDA menyumbang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 90 triliun.

Lebih lanjut Kepala BPPT Unggul Priyanto menjelaskan BPPT telah menghasilkan sejumlah inovasi dan rekayasa teknologi untuk beberapa bidang. Misalnya untuk bidang pertahanan dan keamanan (hankam) BPPT terus mengembangkan pesawat tanpa awak bernama Alap Alap.

Pesawat ini memiliki daya jelajah kategori sedang atau menengah. Kemudian juga melakukan review desain kapal selam cepat yang dilengkapi rudal. "Semuanya sebagai bagian teknologi pertahanan nasional," tuturnya.

Selain itu BPPT juga mendukung program kelistrikan dan sumber energi panas bumi, hidrogen, angin, dan surya. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan pada energi bersumber fosil. Kemudian BPPT juga terus mengembangkan teknologi bahan bakar nabati untuk menghasilkan biodisel. (wan/JPC)

(wan/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up