JawaPos Radar

Kembali Ke Fitrah

Lebaran, Ketua KPK Rindu Mandi Air Gunung dan Baju Baru dari Ibu

15/06/2018, 11:00 WIB | Editor: Kuswandi
Lebaran
Ilustrasi Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah (Rofiah Darajat/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Momentum Hari Raya Idul Fitri dimanfaatkan setiap umat Islam untuk saling bermaaf-maafan. Selain itu, di hari kemenangan ini biasanya digunakan oleh umat Muslim untuk saling bersilaturahmi kepada sanak keluarga dan handai tolan. Hal ini juga dilakukan Ketua KPK Agus Raharjo.

Di hari Lebaran, Agus mengaku tak pernah meninggalkan aktivitas khusus yang dilakukan bersama keluarga, seperti pulang ke kampung halaman di Magetan, Jawa Timur, walau sekadar mandi di air pegunungan yang sejuk dan menikmati suasana pegunungan.

Agus Rahardjo
Ketua KPK Agus Rahardjo (Ridwan/JawaPos.com)

"Pulang kampung, mandi air pegunungan yang sangat sejuk di Magetan," katanya saat berbincang dengan JawaPos.com, Jumat (14/6).

Selain itu, santapan khas daerahnya juga selalu menjadi hal yang dinanti untuk bisa dinikmati bersama keluarga pada hari Lebaran. Apalagi ketupat sayur yang pasti menjadi menu santapan Idul Fitri.

Saat Hari Raya Idul Fitri, kata Agus, memang tak ada ketupat Lebaran yang dapat dinikmatinya. Ketupat Lebaran, kata mantan Kepala LKPP ini, baru bisa dia nikmati saat tradisi bakda kupat atau kupatan tiba. Bakda kupat sendiri dilakukan setelah lima hari Lebaran.

"Di kampung saya, ketupat itu tidak dibuat bertepatan dengan Hari Idul Fitri. Ketupat dibuat lima hari setelah Idul Fitri, disebut kupatan (bakda kupat)," jelasnya. 

Namun, tak sampai di situ, walau tak bisa menikmati ketupat saat hari-H Lebaran, segala jenis makanan, lanjut Agus, begitu melimpah ruah. Ini karena anggota keluarga muda membawa ketupat kepada keluarga yang tua.

"Karena ibu saya tinggal dengan nenek, banyak yang mengirim ketupat ke rumah kami. Makanya, saya sebut tadi makanan berlimpah," ungkapnya.

Setiap Lebaran, Agus mengaku selalu teringat masa-masa kecilnya sewaktu hidup di desa. Agus bercerita jika masa kecilnya begitu bahagia ketika saat Lebaran mendapatkan baju baru dari orang tuanya.

Hal lain yang juga membuat dirinya gembira, yakni ketika dirinya diberi uang yang nilainya tak seberapa oleh tetangganya, saat dirinya diminta mengantarkan bingkisan makanan oleh orang tuanya.

Momentum ini selalu membekas di hatinya dan membuat dirinya sebagai anak kecil dulu begitu senang. Sebab, bukan nilai uangnya yang membuat bahagia, tapi yang paling membuatnya berkesan adalah nilai hubungan timbal baliknya yang saling menjaga tali silaturahmi.

"Sedikit uang (tidak diamplopi) diberikan oleh orang tua kepada anak kecil yang antar bingkisan (ketupat/makanan), jadi sifatnya timbal balik, saling memberi," ujarnya.

Kini, menurut Agus, tradisi ini justru berbalik dan luntur. Sebab, berbeda dengan budaya anak kecil dulu yang tak mencari hal materiil, kini banyak anak kecil berbondong-bondong mendatangi orang tua agar diberi amlop berisi uang.

"Di kota lain, setelah saya dewasa, saya saksikan anak-anak kecil berombongan, datangi orang tua, ngumpulin amplop. Budaya seperti itu, dulu, tidak ada di lingkungan kami," tukasnya.

Agus berharap para orang tua sekarang agar mengikis budaya yang tak baik tersebut, sehingga sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik nantinya.

(ce1/ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up