JawaPos Radar

Ekonomi Indonesia Pasca Pilpres AS

Kuncinya, Dalam Negeri Harus Kuat

14/11/2016, 12:11 WIB | Editor: admin
Ekonomi Indonesia Pasca Pilpres AS
KEJUTKAN DUNIA: Seorang pengasong di Jakarta memajang koran Jawa Pos edisi kemenangan Donald Trump. (Reuters)
Share this image

Rupiah langsung anjlok begitu Donald Trump memenangi pemilihan presiden (pilpres) AS. Akankah efek negatif itu berlanjut? Bagaimana masa depan hubungan ekonomi Indonesia dengan AS?

----

Sebagai orang nomor satu di AS, Donald Trump memiliki posisi yang sangat strategis. Setiap kebijakan yang diambil presiden ke-45 AS itu akan memengaruhi ekonomi dunia. Tidak terkecuali Indonesia.

”Kita akan perhatikan retorikanya dari sisi ekonomi,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani. Hal pertama yang menjadi perhatian adalah pandangan Trump soal kebijakan perdagangan internasional.

Suka atau tidak suka, AS merupakan pasar terbesar dunia. Kebijakan yang terkait dengan Trans-Pacific Partnership (TPP) serta perdagangan dan investasi dengan Meksiko dan Tiongkok akan berdampak besar. Meksiko dan Tiongkok adalah negara eksporter terbesar ke AS.

”Kalau AS dengan Meksiko, tidak terlalu pengaruh buat kita. Tapi, hubungan AS dengan Tiongkok akan memengaruhi seluruh dunia. Kalau Tiongkok terpengaruh, dampaknya ke kita,” ujar Sri.

Sementara itu, Ketua Tim Ahli Wapres Sofjan Wanandi meminta pemerintah lebih memikirkan perekonomian dalam negeri. Di antaranya, mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, mendorong investasi lebih banyak, serta memacu pembangunan infrastruktur.

”Perkuat industri dalam negeri. Jangan sampai negara lain tidak bisa ekspor ke AS, lalu dilempar ke sini. Mati industri kita,” katanya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku kaget saat mengetahui bahwa nilai tukar rupiah terdepresiasi cukup dalam. Meski begitu, dia yakin bahwa kondisi tersebut hanya akan menimbulkan gejolak temporer. ”Ini kan shocking sesaat karena berbagai rumor dan mengaitkan berbagai hal,” ujarnya.

Menurut Enggar, anjloknya rupiah memang membawa angin segar bagi para eksporter. Tetapi, hal itu tidak akan berlangsung lama. Gejolak rupiah tidak akan memengaruhi kinerja ekspor dan impor sepanjang tahun. Sebab, masih banyak faktor lain yang menentukan.

Menurut dia, terpilihnya Trump sebagai presiden bisa meningkatkan hubungan kerja sama Indonesia dengan AS. Sebagai pengusaha, Trump diharapkan mempertimbangkan indikator-indikator ekonomi dalam membuat kebijakan. Meski ada kecenderungan untuk mengambil kebijakan yang bersifat protektif.

”Dengan kondisi ekonomi global seperti ini, kecenderungan negara-negara di dunia ini proteksionis. Jadi, bukan hanya AS. Yang kami tunggu adalah siapa yang akan mengisi kursi menteri-menteri ekonomi,” katanya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga yakin bahwa terpilihnya Trump tidak akan memengaruhi sektor industri di Indonesia. Dampak baru bakal terasa dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, yang terdampak adalah pasar modal.

Hal itu dapat diukur dengan melihat keputusan Bank Sentral AS (The Fed) dalam menetapkan suku bunga pada akhir tahun. ”Apakah di akhir tahun ini Fed menaikkan interest rate atau tidak. Itu merefleksikan hasil pemilu,” katanya.

Komoditas energi, terutama minyak, menjadi salah satu yang paling disorot setelah terpilihnya Trump. Sebab, presiden dengan kekayaan USD 3,7 miliar atau setara Rp 49 triliun itu bukan pendukung climate change. Dia diyakini bakal makin agresif dalam eksplorasi minyak. Begitu Trump menang, harga minyak mentah, khususnya West Texas Intermediate (WTI), naik 29 sen menjadi USD 45,27 per barel.

Gubernur Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan, dampak saat ini hanya terasa dari sisi psikologis. ”Masih bisa berubah, secara fundamental tidak,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin.

Alasannya, kondisi pasar saat ini masih oversupply. Harga cenderung lemah. Harga memang berpotensi menguat karena permintaan meningkat atau suplai turun. Itu terjadi ketika anggota OPEC beserta produsen utama non-OPEC seperti Rusia mengurangi produksi. ”Pertanyaannya, apakah mereka akan mengurangi produksi?” kata Widhyawan.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani mengungkapkan, Trump bisa membawa sentimen negatif pada investasi AS di Indonesia. Sebab, Trump dikenal sebagai nasionalis dan konservatif. Dia akan mengambil kebijakan yang bersifat protektif terhadap perdagangan perusahaan-perusahaan AS.

”Kami berharap kebijakan-kebijakannya tidak kontraproduktif terhadap perkembangan perdagangan atau investasi kepada dunia luar,” ujarnya.

Rosan menuturkan, sebenarnya para pengusaha lebih berharap Hillary Clinton menang. Sosok mantan ibu negara itu dipandang lebih bersahabat, baik dalam segi geopolitik maupun geoekonomi. ”Sentimennya positif karena arahnya Hillary menang.

”Sentimennya positif karena arahnya Hillary menang. Tapi, kalau Trump, pasti ada koreksi sedikit,” kata Rosan. (ken/gen/rin/dim/dee/c11/ca)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up