JawaPos Radar

Jamaah Haji Harus Hindari 4 Pemicu Kambuhnya Penyakit Jantung

13/08/2018, 12:20 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
ibadah haji 2018, jamaah haji, kesehatan jamaah haji,
Ilustrasi pemeriksaan kesehatan jamaah haji oleh dokter. (Kemenkes)
Share this image

JawaPos.com - Jamaah haji risiko tinggi (Risti) dengan penyakit jantung harus menghindari berbagai faktor risiko di Tanah Suci. Sehingga kekambuhan tidak terjadi karena kondisi kelelahan.

Maka para jamaah haji harus mengonsumsi obat yang dibawa dari Indonesia. Bila tidak bawa, sampaikan ke dokter kloternya. Dokter kloter nanti akan berkoordinasi dengan KKHI (Klinik Kesehatan Haji Indonesia).

Dokter spesialis penyakit jantung yang bertugas di KKHI Makkah dr. Muhammad Gibran Fauzi Harmani, Sp.JP mengatakan jamaah risti yang wafat lebih dari 50 persen didominasi oleh penyakit jantung. Pada saat berangkat, pasien sudah memiliki kondisi penyakit kardiovaskular sebagai risiko yang tinggi.

"Namun terkontrol dan stabil. Kestabilan inilah yang harus dijaga,” jelas dr. Gibran dalam keterangan tertulis, Senin (13/8).

Untuk itu, jamaah diminta tetap mengonsumsi obat-obatan yang sudah diberikan oleh dokter di Indonesia. Obat merupakan hal penting dalam pengendalian penyakit jantung.

Dia menegaskan penyakit kardiovaskular bisa dikontrol dengan obat dan menjaga pola hidup sehat. Selain itu, jauhi pencetusnya untuk menghindari perburukan. Ada 4 faktor utama pencetus kambuhnya penyakit jantung.

1. Frekuensi Minum Obat

Pertama, pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan yang diresepkan di Indonesia dengan menghentikan sendiri konsumsi obat tanpa konsultasi ke dokter. Biasanya karena alasan takut sering buang air kecil sehingga mengganggu ibadah.

“Pasien jantung diberikan obat untuk meningkatkan kencing. Karena takut banyak kencing pada saat ibadah, pasien menghentikan sendiri tanpa konsultasi ke dokter,” terang dr. Gibran.

Lebih lanjut, terdapat perbedaan antara ketika pasien melakukan aktivitas di luar pondokan dengan aktivitas di dalam pondokan.

“Apabila pasien keluar pondokan maka kita tidak melakukan pembatasan cairan untuk mencegah dehidrasi pasien dengan kardiovaskular, kecuali sudah timbul keluhan seperti sesak dan kaki bengkak. Namun semua obat-obatan harus terus di minum,” tambahnya.

2. Lupa Bawa Obat

Kedua, jamaah tidak membawa obat-obatan yang selama ini rutin diminum di Indonesia. Apabila pasien tidak mengonsumsi obat-obatan tersebut ditambah dengan faktor stres, faktor kelelahan, dan faktor fisik maka akan memicu tekanan darah yang lebih tinggi, gula darah yang tidak terkontrol, juga penumpukan cairan yang menyebabkan perburukan.

“Bila tidak bawa obat, sampaikan ke dokter kloter. Nanti akan disiapkan dari dokter sektor ataupun KKHI,” ujar dr. Gibran.

3. Kelelahan

Ketiga, jemaah haji risti penyakit jantung memaksakan untuk melakukan aktivitas fisik melampaui batasan yang dianjurkan dokter, baik oleh karena ibadah maupun karena non ibadah.
Pasien harus menyadari bahwa dirinya memiliki keterbatasan fisik.

"Sehingga diharapkan untuk memprioritaskan aktivitas kepada yang wajib dan tidak memaksakan diri untuk melakukan aktifitas yang tidak wajib atau bahkan tidak berhubungan dengan ibadah seperti tidak melakukan umroh sunnah secara berulang ulang, memaksakan untuk arbain, bahkan bila perlu Tawaf dan Sai bisa menggunakan kursi roda,” kata dr. Gibran.

Aktivitas non ibadah juga sering dilanggar oleh jemaah dengan penyakit jantung. Seperti pada saat pasien menunggu lift terlalu lama, maka pasien memaksakan diri naik tangga.

"Apabila jemaah sudah hampir merasakan sesak napas atau tersengal-sengal saat berjalan/beraktivitas maka agar segera istirahat dan menghentikan aktivitas terlebih dahulu," tambahnya.

4. Faktor Iklim

Keempat, faktor lingkungan dan iklim bisa menjadi pencetus perburukan. Suhu di Indonesia selalu berkisar antara 20 sampai 38 derajat celcius. Sedangkan suhu di Saudi lebih tinggi, bisa mencapai 46 derajat Celcius. Kelembaban di Indonesia relatif tinggi yaitu 70 persen sedangkan di Arab Saudi berkisar 0-20 persen. Hal ini menyebabkan jemaah Indonesia di Arab Saudi rentan mengalami masalah saluran pernapasan. Berdasarkan para pakar, ketika kelembaban 0 persen maka yang terjadi adalah kerusakan sel-sel lapisan di pernapasan sehingga memudahkan terjadinya batuk dan infeksi saluran pernapasan.

"Apabila pasien jantung ini mengalami penyakit saluran pernapasan, maka akan mencetuskan perburukan," jelasnya

Untuk mengantisipasi perubahan iklim yang ekstrem. Jamaah dianjurkan menggunakan alat perlindungan diri, yaitu masker, payung, kacamata hitam, dan semprotan air ketika keluar dari pondokan.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up